Posted on: 9 May 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Suara Burung Pantai
  

Akulah burung-burung pantai
Terbang dari sorga
Ke jantung samudra

Berabad silam aku bahagia
Membangun sarang di akar bakau
Memandang laut bening
Ikan, kerang, batuan, dan petang
Berkilau macam warna
Bagai memetik bunga 

Tapi entah siapa yang menurunkan kutuk
Keindahan pesisir dan pasir mendadak lenyap
Lesap bersama serangan ombak
Menyerbu bagai serdadu

Bulu-buluku satu per satu gugur
Lepas terombang-ambing gelombang
Tak pernah tahu kapan tumbuh
Isyarat luka tiada bertemu akan obat 

Aku kini kehilangan suara
Paruhku terjerat bekas jaring koyak
Aku tergusur dan hampir tersungkur
Segala rimbun telah tertimbun
Bau kematian tercium bagai ikan busuk

Indramayu, 2019

Puisi dari Tinta Air Laut

Di Jazirah, seorang penyair menulis puisi
Dari tinta air laut. Sajak-sajaknya mengombak
Syair sejarah kemaharajaan melayu di sana.
Ia beri catatan; laut, rantau, dan kampung halaman.

Di batas pandang, semua tampak biru. Seperti
Langit yang bersentuhan dengan laut. Memberi
Warna pelayaran; pelabuhan kecil, dermaga,
Deretan toko, dan kota dengan aroma garam. 

Melayu masih tersusun sebagai riwayat.
Hikayatnya setua zaman dan peradaban maritim.
Pangkal dari akar kapal-kapal dan pelaut.
Petatuahnya digigit kuat dengan gigi geraham.

Indramayu, 2019



Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021).

Leave a Comment