Posted on: 10 May 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 1

Oleh: Deri Adesti

Jika kita berbicara masalah kuliner seakan tidak ada habisnya karena memiliki eksistensi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pariwisata termasuk yang ada di Kabupaten Natuna. Seiring dengan gencarnya upaya pemerintah dalam memajukan pariwisata, di situ pula makanan khas daerah Natuna kian dilirik oleh wisatawan karena memiliki cita rasa lidah orang Melayu yang tak kalah lezat dengan yang ada di perkotaan.

Kuliner di Natuna terdiri dari berbagai macam cita rasanya mulai dari makanan berat, camilan dan kue-kuenya memiliki keunikan tersendiri. Meskipun jenis makanannya sama dengan di daerah lain, akan tetapi beda lagi rasanya jika diolah oleh orang Natuna. Mungkin kamu sudah banyak mengetahui sedikit banyaknya tentang kuliner yang ada di ujung Utara ini, seperti tabel mando, kernas, nasi dagang, bubur pedas dan lainnya. Tapi pernahkah kamu mendengar nama “tipeng canggos” yang baru mulai diperkenalkan saat acara Pentas Budaye di Kelarik dan masih banyak orang yang bertanya-tanya akan menu tersebut.

Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, juga memiliki berbagai jenis makanan khas daerah yang dominan sama dengan yang ada di kecamatan lainnya tetapi memiliki perbedaannya masing-masing dalam tingkat cita rasa, namun masih ada beberapa makanan khas daerah yang belum banyak diketahui padahal sudah memiliki usia yang cukup lama dan resepnya pun hanya ada di keluarga tertentu saja, seperti tipeng canggos ini yang mungkin ada beberapa orang saja yang mengetahui kenikmatan makanan tersebut.

Tipeng canggos merupakan makanan asli Natuna yang namanya berasal dari bahasa daerah, yakni tipeng yang berarti pipihan adonan yang dibulatkan sedangkan canggos sendiri artinya memarut. tipeng canggos berbahan dasar singkong atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan ubi kayu.

Konon katanya, jika kita membuat tipeng canggos ini alangkah baiknya menggunakan singkong yang berwarna kuning biar lebih enak. Bumbu dan cara pengolahan tipeng canggos serupa dengan tabel mando hanya saja tidak menggunakan kelapa dan sagu, sedangkan tipeng canggos cukup dengan memasukan parutan singkong secukupnya dan bumbu dapur lainnya seperti bawang merah dan bawang putih, cabe rawit, lada hitam dan penyedap rasa biar semakin enak ditambahkan pula ikan asap atau ikan salai yang sudah dipotong kecil-kecil, kemudian tumis bumbu dan campurkan parutan singkong ke dalamnya lalu dipadatkan dan tunggu hingga  berwarna kecokelatan.

Tipeng canggos hingga kini masih dimasak dengan mempertahankan resep andalannya secara turun temurun. Komposisi yang ada di tipeng canggos menciptakan rasa yang gurih dan teksturnya yang renyah. Kian nikmat bila disantap dengan minum teh panas, disajikan saat sarapan, atau sekadar duduk santai. Oleh karena itu, dengan teknik pengolahannya yang mudah dan bahan masakan yang tidak sulit ditemui, banyak orang yang bisa membuat tipeng canggos ini.

Tidak diketahui sejak kapan tipeng canggos ada di tengah masyarakat Kelarik. Tapi yang jelas sudah dari dulu masyarakat di sana membuat tipeng canggos. Saat ini, tidak banyak yang bisa membuat tipeng canggos. Kurang lebih sepuluh orang, itu pun masih dalam satu keluarga besar.

Selain tipeng canggos masih ada beberapa kuliner lainnya yang ada di Kelarik, seperti nasi dagang. Nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang tersebut masih dipertahankan hingga kini. Rasanya yang sedap, harga yang terjangkau, dan tentunya mengurangi limbah plastik karena masih memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus. Nasi dagang biasanya mudah dicari di setiap pagi harinya namun ternyata nasi dagang orang Kelarik dengan orang Ranai atau Sedanau berbeda, karena di daerah lainnya nasi dagang rasanya ada manis-manisnya, berbeda dengan yang ada di Kelarik.

Selain nasi dagang, ternyata penamaan kuliner juga berbeda di daerah Kelarik. Contohnya saja jika di Ranai orang-orang menyebut tabel mando, di Kelarik sendiri makanan itu disebut dengan istilah tipeng mando karena makanan tabel biasanya dimakan menggunakan ikan pindang sebagai pengganti nasi.

Kemudian ada pula yang namanya pengat gilik yang terbuat dari parutan ubi yang dibulatkan kecil-kecil kemudian diberi warna agar tampak kian menarik. Lalu, dimasak menggunakan santan, namun di Kelarik namanya lebih dikenal masyarakat dengan sebutan sandan gilik. Penamaan boleh saja berbeda, rasa boleh saja tergantung selera namun kita tetap harus mengenal kuliner tempatan kita sendiri

1 people reacted on this

Leave a Comment