Posted on: 26 November 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

oleh Wan Eddy Wan Izaz

Pulau Bunguran adalah pulau terbesar dalam gugusan kepulauan Natuna di laut Champa. Dalam perjalanan sejarahnya, kepulauan ini pernah menjadi bahagian wilayah kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Malaka, Johor-Riau dan Riau-Lingga.

Kerajaan-kerajaan besar ini saling mewariskan. Dari Kerajaan Majapahit dihadiahkan kepada kerajaan Malaka. Kejatuhan dan kekalahan Kesultanan Malaka pada Peringgi menjadikan pulau Bunguran bahagian dari Johor Riau sebagai penerus kerajaan Malaka.

Konon tersebutlah kisah seorang yang bernama Demang Megat yang hanyut terbawa arus pada rumpun/rakit bambu dan terdampar di pulau Bunguran. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Pulau Bunguran, Demang Megat dibawa arus hingga tersadai di tepi Sungai Segeram. Lalu, Demang Megat ditemukan dan diselamatkan oleh masyarakat. Ketika ditemukan, Demang Megat tidak dapat bertutur dalam bahasa Melayu sebagaimana masyarakat pulau Bunguran. Dia hanya dapat bertutur dalam bahasa Siam.

Setelah kesehatan dan tenaganya pulih, Demang Megat memulai kehidupan barunya di pulau Bunguran. Termasuk belajar bertutur bahasa Melayu. Semakin lama, Demang Megat dapat menyatu dalam kehidupan masyarakat pulau Bunguran. Masyarakat sangat suka kepadanya.

Beberapa lama kemudian masyarakat kampung Segeram pulau Bunguran kedatangan rombongan yang kononnya berasal dari negeri Johor. Rombongan ini membawa seorang putri dari Kerajaan Johor yang bernama Engku Fatimah. Putri kerajaan itu tidaklah seperti gadis biasanya, beliau mempunyai kelemahan secara fisik. Tidak dapat berjalan.

Pelayaran Engku Fatimah ke pulau Bunguran diiringi dengan dayang-dayang dan para panglima serta pengawal. Masyarakat Bunguran sangat suka cita menerima kedatangan Engku Fatimah dan menunjuk Engku Fatimah untuk menerajui pulau Bunguran. Untuk menerajui pulau Bunguran, Engku Fatimah haruslah mempunyai suami. Lalu, Demang Megat hendak dijadikan suami kepada Engku Fatimah.

Setelah menikah maka Engku Fatimah menyerahkan kuasa memimpin pulau Bunguran kepada sang suaminya itu. Maka bermulalah kedatuan pulau Bunguran. Demang Megat menjadi orang kaya pulau Bunguran yang pertama dengan gelar Orang Kaya Serindit atau Orang Kaya Dina Mahkota.

Demang Megat atau Orang Kaya Serindit mentabdir kedatuan pulau Bunguran dari Segeram. Setelah memimpin pulau Bunguran maka wafatlah Orang Kaya Serindit dan digantikan oleh anaknya yang bernama Dato Segeram.

Rujukan
1. Kisah asal usul Pulau Bunguran
2. Wan Tarhusin. 2001. Gelar Datuk Kaya Tokong Pulau Tujuh. Mitra Utama: Tanjungpinang.
3. B.M. Syamsuddin. 1996. Cerita Rakyat dari Natuna. Grasindo: Jakarta

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.