Posted on: 3 October 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 60

oleh Heru Sang Amurwabumi

Satu setengah tahun pandemi global Covid-19 melanda negeri kita, tidak menyurutkan eksistensi Komunitas Pegiat Literasi Ngajuk (KOPLING) untuk mengampanyekan gerakan baca tulis dan pelestarian seni budaya, khususnya di wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Komunitas yang didirikan dua tahun silam untuk mewadahi kegiatan sastra, seni, dan budaya itu membuktikannya dengan menggelar teatrikal puisi dan cerpenisasi wayang yang diberi tajuk Madege Kampung Sasatra—Berdirinya Kampung Sastra pada hari Minggu, 26 September 2021.    

Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 telah melahirkan tatanan kehidupan baru. Dampaknya juga merambah ke dunia sastra, seni, dan budaya. Praktis, selama satu setengah tahun, banyak bermunculan kelas-kelas daring, webinar, pelatihan menulis, dan kegiatan lain secara virtual—sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan KOPLING jauh sebelum ada wabah global. Komunitasnya orang-orang Nganjuk itu sejak awal berdiri memang menerapkan kegiatan dengan berbasis online. Kelas-kelas daring tersebut ibarat rumah-rumah belajar, jika dikumpulkan akan membentuk sebuah perkampungan sastra, seni, dan budaya.

Bertepatan dengan peluncuran buku antologi—kompilasi cerita pendek dan puisi—karya anggotanya, Keajaiban Cinta, terbitan A3 Publisher, KOPLING menggelar parade sastra, seni, dan budaya yang bertempat di sebuah kafe di kawasan Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur.

Acara tersebut mengambil tema Merawat Kearifan Lokal Anjuk Ladang dengan Sastra, Seni, dan Budaya, senapas dengan visi KOPLING sebagai wadah para penggiat sastra, seni, dan budaya sebagai upaya mencetak generasi Anjuk Ladang—cikal bakal nama Nganjuk—yang peduli dengan kearifan lokal.

Aroma seni dan budaya sangat kental memenuhi tempat berlangsungnya kegiatan. Penataan ornamen pada gapura masuk dengan menempatkan beberapa wayang kulit secara estetik menjadi daya pikat tersendiri. Lapak bazar buku serta pameran buku kuno—memamerkan buku-buku dan majalah terbitan tahun enam puluhan—yang bersanding dengan bazar produk-produk UMKM Nganjuk kian menyemarakkan kegiatan.

Parade Sastra, Seni, dan Budaya Anjuk Ladang dibuka dengan pembacaan cerita cekak berjudul Kemuning, karya seorang anggota KOPLING, Sri Astutik, yang pernah dimuat di sebuah media online. Disusul aksi tari kontemporer oleh seorang anggota KOPLING, Machrus Ali, S.Sn. yang memukau semua orang yang hadir. Di pengujung aksi tarinya, alumni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya itu melakukan improvisasi, memadukan tari topeng dengan duet baca puisi bersama anggota KOPLING perempuan, Ernawati Sinaga.

Puncak kegiatan ditutup dengan aksi cerpenisasi wayang. Salah satu pendiri KOPLING, Heru Sang Amurwabumi membacakan cerpen karyanya yang berjudul Aku Menjemputmu di Kurusetra. Penulis yang terpilih sebagai Emerging Writer di Ubud Writers & Readers Festival mampu menghadirkan sesuatu yang baru tentang pergelaran wayang. Dia membacakan cerpen yang diangkat dari kisah pewayangan sambil memainkan wayang kulit asli. Sebuah terobosan baru dalam menyajikan pertunjukan wayang di zaman sekarang, sebuah masa di mana seni adiluhung itu makin dijauhi generasi millenial.


Heru Sang Amurwabum pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Tulisan-tulisannya tersebar di media cetak dan online. Cerpennya, Mahapralaya Bubat, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019.

60 People reacted on this

Leave a Comment