Posted on: 30 September 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 25

Sebagai seorang anak kecil yang sedang asik-asiknya bermain, tiada ia mengenal waktu siang dan malam. Apa saja dapat dijadikan alat bermain. Permainan kejar-kejaran atau tembak menembak membutuhkan suara yang tidak kecil. Tentu di suasana malam yang lebih banyak untuk bersantai-santai itu merasa terganggu. Sampai-sampai orang tua memilih dengan cara menakut-nakuti anak tersebut sampai ia memilih untuk meminta dibuatkan mimik, lalu mencari tempat istirahat paling enak yang dapat membawa matanya perlahan terpejam.

Salah satu cara menegur anak yang khas lokal pada masyarakat Serasan, yaitu anjok. Entah sejak kapan istilah ini muncul, tetapi hal itu masih akrab sampai sekarang.

Anjok adalah istilah yang digunakan orang tua-orang tua dulu (bahkan sekarang) untuk menegur anaknya agar berhenti bermain di malam hari. Artinya, dalam aturan kolektif masyarakat lokal, anak-anak tidak baik menggunakan waktu malam untuk bermain-main dan membiasakan mereka beristirahat pada malam hari. Keadaan lain biasanya saat orang-orang dewasa sedang berbicara dan merasa terganggu dengan suara teriakkan-lalu lalang anak-anak kecil, sehingga mereka diminta untuk berhenti.

Anjok menjadi salah satu kepercayaan bagi masyarakat Serasan akan sebab akibatnya, takhayul. Jika seorang anak yang ditegur tidak mau menuruti perintah orang tuanya, maka akan terjadi sesuatu yang bagi anak-anak akan merasa takut. Pada tengah malam saat semua sudah terlelap, akan terdengar ada suara-suara atau langkah kaki yang menyerupai tingkah laku anak yang ditegur tadi. Bagi yang menyadarinya, tentu tidak akan mengira bahwa anak tadi akan bangun tengah malam dan bermain-main. Ada sosok lain yang menjelma menjadi si anak.

Umumnya istilah ini berlaku pada malam hari dan dalam rumah. Sasaran tentunya pada anak-anak dan boleh diucapkan oleh siapa saja yang memahami konsep dari anjok ini. Tentu larangan ini bertujuan baik untuk si anak. Menjaganya agar tidak kelelahan dan tidur di awal waktu.

Sedangkan di kecamatan lain, ternyata anjok mempunyai pengertian lain dari istilah anjok di Serasan. Midai, kata anjok atau manjok masih merujuk kepada anak tetapi digunakan sebagai nama panggilan kesayangan, seperti buntat dan nong di Serasan. Beda halnya jika kata anjok ditujukan kepada orang tua yang berkelaku tidak senonoh dengan intonasi yang berbeda. Pada sumber lain yang kami temukan, anjok di Midai juga berarti sebuah pertanda atau gelagat yang tidak baik.

Sama halnya di Pulau Tiga, anjuk juga berarti gelagat yang tidak baik. Semisal disesuaikan dengan kalimat langsung, “Mbe hal kelaku bin tok agak laen nu aghi ni? Ke ade anjuk e?” ( “Kenapa kelakuan dia itu agak berbeda sekali hari ini? apakah ada anjuk?”). Tingkah laku seseorang yang berbeda dari biasanya diperkirakan menjelang masa wafat. Dalam konteks ini, anjuk dapat diartikan seperti itu. Jadi, anjuk dapat diartikan sebagai pertanda sesuatu yang tidak baik terjadi pada seseorang. Jika untuk memanggil anak dengan panggilan sayang, masyarakat Pulau Tiga umumnya menggunakan panjok. Selain Pulau Tiga, Ranai lebih akrab dengan pelafalan anjek yang juga berarti pertanda.   

25 People reacted on this

Leave a Comment