Posted on: 29 August 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 78

Dukkhanupassana-nana

seluruh buku terbuka, seluruh mata terjaga,
seluruh ruh terbang ke dada siapa saja,
yang gampang belajar dan sulit putus asa.

seorang lelaki duduk ke arah hening, malam yang kelam
tanpa bulan dan gemintang, sebentar matanya pejam,
dua bentar airmatanya ngalir, tiga bentar ia sungguh menangis hujan.

ia teringat sesuatu yang harus dilupakan, ia teringat, benar-benar hingat.
keringat mengalir di kulit jangat, entah karena napasnya sesak
dan pilu mendesak?

adakah Tuhan melingkar di oval kepalanya?

segala derita menderit, segala penderitaan bercerita,
kepada kayu, kepada api, kepada tubuh yang dibakar,
kepada abu. kepada angin yang terbang menuju surga?

Kubang Raya, 2 Agustus 2021

Kulihat Orang-orang
-bagi Dyah Woro

kulihat orang-orang mencangkul malam tanpa henti,
matanya kantuk dan kelopaknya bengkak,
penanda ia telah begitu ingkar pada tidur yang tak lagi sabar.

kulihat orang-orang berjalan di bawah terik matahari,
mengutip debu-debu dengan sepenuh hati.
sepatu-sepatu hitam mengkilap,
nyaris menyepak hidung mereka yang sedang jongkok.

di dunia lain, di batin orang lain, pengkhiatan berkali-kali kawin,
melahirkan kuli-kuli mungkin, yang bekerja dari janji demi janji
yang dibangun untuk diingkari.

bagi pekerja keras, salam!
bagi yang lagi sabar, salam!
bagi pengkianat likat, salam?

ada tiga orang dalam kepalaku berjalan kian menjauh,
satu tak henti-henti, yang lain terus menanti,
sisanya melukai tubuh demi tubuh janji.

;ingatanku pun rubuh pada sehampar subuh yang hampa tanpa suluh.

Kubang Raya, 11 Agustus 2021

Kemungkinan
-kepada Bu Udi

aku telah mengajari kehidupan sendiri sebelum tersesat
di bangku sekolah dan jadi pengkhotbah

kata ibu, aku adalah perempuan berdarah Allah.
heran, kenapa ibu sesenewen itu mengatakan satu hal
yang perlu atau satu hal yang tidak perlu.

ajarilah dirimu sebelum kau mengajar ibu, adik, bu lek, kakung,
siapa pun itu.

nggih bu. kataku tak ketemu kata yang tepat
untuk mengerat kebingungan masa kecilku.

di sinilah aku, guru eksak yang mengaku jatuh cinta pada grendel pintu,
sepatu apek, dan wajah kusut anak-anak sekolah yang tak mandi.

seseorang pernah seloroh padaku, udi, kenapa dulu
tidak ambil jurusan sastra saja, biar menikah dengan kata-kata,
melahirkan kata-kata, lalu apa kata dunia?

seloroh itu meluluh lantakkan perasaanku,
tak lucu dan sungguh ambigu. kubalas ia dengan puisi malas.
mulutmu adalah ikan salmon paling konon,
simpanlah dongeng-dongengmu itu, kumohon!

lalu, kepsek baru datang dengan sekeranjang diksi telanjang,
diksi berbaju, diksi alim, diksi sok alim, diksi-diksi.
ia pun memanggilku ibu puisi. aku memanggilnya bapak puisi.
diam-diam aku mengintip puisinya, diam-diam ia kedapatan mengintai
sajakku yang tak selesai.

begitulah kawan. ceritaku ini harus kusingkirkan, sebab di atas meja
jawaban-jawaban ujian, telah menunggu angka-angka yang bukan metafora.

selamat makan siang waktu yang berdentang di akhir jam pelajaran.
aku kerap setuju, aku kerap tak setuju, apa pun yang kata-kata
yang berhamburan di udara yang kuhirup.

2021


Muhammad Asqalani eNeSTe kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Adalah seorang youtuber di channel Dunia Asqa. Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris-Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris di Smart Fast Education, serta menjadi mentor Kelas Puisi Online (KPO) di bawah naungan WR Academy.

78 People reacted on this

Leave a Comment