Posted on: 22 August 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 53

oleh Ramli Lahaping

“Aku tidak mau kau berurusan dengan para lelaki penggombal yang menyesatkan!“ tegas ayahku, enam bulan yang lalu, setelah mendapatkan dan menyita kiriman novel yang diantarkan oleh seorang kurir. Pasalnya, beserta itu, terdapat sebuah amplop yang kukira berisi surat cintadari seorang pengirim misterius untukku.

Aku hanya menunduk mendengar penekanannya untuk kesekian kalinya. Aku tak ingin menyela dan membantah, hingga ia menjadi berang. Apalagi, sudah beberapa kali ia menyampaikan peringatannya kepadaku setelah kiriman semacam itu datang berkali-kali. Terlebih, ia pun tahu bahwa aku pernah mengirimkan balasan untuk sedikit di antaranya.

“Ingat, kami telah menjodohkanmu dengan seorang lelaki yang jauh lebih baik daripada para lelaki labil yang mengirim bingkisan murahan semacam ini. Karena itu, kau harus menjaga dirimu dari buaian mereka. Jangan sampai kau terlena dan menghancurkan perjodohanmu itu,
sehingga membuat aku dan ibumu malu,” pesan ayahku lagi, lantas melangkah keluar dari kamarku.

Di tengah keciutan nyaliku untuk menentang aturan perjodohan yang membelenggu, ibuku pun kembali merangkul tubuhku. “Camkanlah baik-baik peringatan ayahmu, Nak. Itu juga demi kebaikanmu, dan demi kebaikan keluarga kita,” katanya, sebagaimana selalu, untuk
menenangkan perasaanku.

Dengan perasaan pilu, aku hanya terdiam.

Ibuku lantas mendengkus prihatin. “Aku paham perasaanmu, Nak. Aku juga pernah muda. Aku juga pernah tertarik dan jatuh ke dalam perangkap gombalan sejumlah lelaki. Tetapi akhirnya, aku menyadari, bahwa mereka hanya ingin mempermainkanku. Cinta mereka adalah cinta yang semu.” Ia kemudian mengusap-usap kepalaku. “Nak, pahamilah, bahwa cinta yang sesungguhnya, hanya ada di dalam tali pernikahan.”

Aku membisu saja. Merasa tak berdaya untuk menyanggah atau sekadar menanggapinya.

“Nak, kelak, ketika lelaki yang kami jodohkan denganmu itu pulang dari menuntut ilmu agama di negeri sebarang, ia tidak akan menyampaikan surat atau pesan-pesan gombalan untukmu. Ia akan segera meminang dan menikahimu. Dan aku yakin, kau akan hidup bahagia di dalam ikatan cinta yang sejati bersamanya,” sambung ibuku, seperti berusaha menawar kekalutanku.

Lagi-lagi, aku memilih bungkam menyikapi nasihatnya dengan inti pesan yang berulang-ulang, yaitu agar aku rela menerima perjodohan atas diriku sendiri.

Tak lama kemudian, ibuku pun keluar dari kamarku.

Sungguh, aku tak habis pikir dengan keputusan kedua orang tuaku yang menjodohkanku dengan seorang lelaki yang entah siapa. Aku sungguh tak mengerti, mengapa mereka memaksaku untuk menunggu dan menikah dengan lelaki yang tak kukenal itu, sembari melarangku untuk mengecap arti-arti perasaanku terhadap lelaki yang lain, yang mungkin kukenal baik.

Karena itu, cinta bagiku telah mati. Dibunuh oleh tradisi. Sebab aku tak punya kehendak bebas untuk menjatuhkan hatiku kepada lelaki pilihanku sendiri. Bahkan aku tak punya hak untuk sekadar berpendapat perihal kriteria lelaki yang aku dambakan. Hingga pada akhirnya, aku mesti menikah dengan seorang lelaki pilihan kedua orang tuaku.

Nasibku memang nahas, sebab para tetua di kampungku ini, masih beranggapan bahwa jodoh terbaik adalah pilihan orang tua. Mereka memandang bahwa gadis-gadis sepertiku, tak cakap untuk memilih pasangan. Mereka menuding bahwa jiwa muda kami hanya memperturut nafsu dalam memilih pendamping hidup. Mereka menilai mata hati kami masih buta memandang cinta.

Karena pandangan itu pula, para orang tua memilihkan jodoh untuk anak mereka. Bahkan banyak di antaranya yang telah menjodohkan anaknya semasih kanak-kanak. Pertimbangan utamanya adalah soal akhlak dan nasab, bukan harta maupun rupa. Sebab itu, banyak gadis yang menikah dengan lelaki yang rendah nilai secara fisik dan materi, tetapi alim dan terhormat.

Untuk pertimbangan perjodohan itu, aku pun tak memprotes. Tentu aku juga ingin menikah dengan seseorang yang taat pada agama, dan berasal dari keluarga baik-baik. Namun bukan berarti aku tak berhak mempertimbangkan perihal ketampanan dan kemapanan. Bagaimanapun, aku ingin senang menatap paras pasangan hidupku, dan aku ingin hidup berkecukupan secara
ekonomi.

Bagiku, perimbangan untuk memilih pasangan hidup, seharusnya menjadi hak setiap orang. Aku, dan siapa pun juga, seharusnya bebas menentukan pasangan hidup sendiri, selama atas pertimbangan yang baik dan benar. Aku, dan siapa pun juga, semestinya bebas menetapkan pasangan hidup sendiri, berdasarkan pandangan mata hati dan mata kepala sendiri, sebab dua sudut pandang itu memang tidak sepatutnya dipisahkan.

Tetapi aku memang sial. Aku dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan yang masih berpandangan kolot soal jodoh. Aku dipaksa menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tuaku begitu saja. Aku pun tak bisa melakukan apa-apa, sebab menolak perjodohan berarti melakukan pembangkangan terhadap tradisi dan tafsir keagamaan para tetua.

Dan betapa mengenaskan bagiku, sebab belakangan, aku semakin jatuh hati pada seorang pendakwah yang terhitung kondang di daerahku. Ia adalah seorang lelaki muda yang merupakan anak seorang ulama terhormat sekaligus pengusaha peternakan sapi. Ia adalah seorang lelaki yang kerap datang ke kampungku dengan mobil pribadinya, bersama beberapa teman pendakwahnya, untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada para warga desa.

Kekagumanku kepadanya pun semakin menjadi-jadi belakangan ini. Aku merasa semakin jatuh hati dan jatuh mata kepadanya. Pasalnya, ia semakin sering bertandang ke kampungku untuk menyiarkan ajaran agama, dan aku senantiasa ikut dalam majelisnya. Terlebih lagi, ia sesekali mampir di rumahku untuk bercengkerama dengan ayahku selepas acara dakwahnya, sebab ayahku memang seorang imam desa.

Tentu saja, jika lelaki itu adalah seorang lelaki yang dijodohkan denganku, pastilah aku tidak akan menolak. Ia telah memenuhi kriteria kealiman dan kemuliaan nasab seperti yang dipersyaratkan orang tuaku. Selain itu, ia juga tampak memenuhi kriteria ketampanan dan kemapanan sebagaimana keinginanku. Kerena itu, kukira, sang dai adalah perpaduan yang sempurna antara kriteria pasangan hidup yang baik menurutku, dan baik menurut orang tuaku.

Tetapi aku tak ingin terus-menerus berkhayal tentang kemungkinan itu. Aku tak ingin terus larut dalam angan-angan sesatku sendiri. Bagaimanapun, aku yakin, ia bukanlah sosok yang telah dijodohkan denganku. Karena itu pula, aku terus berusaha meredam dan membendung rekahan perasaanku kepadanya. Aku ingin hidup realistis, sembari terus memaksa diri untuk bersiap menerima kenyataan perjodohanku, entah dengan siapa pun itu.

Sampai akhirnya, aku pun sampai di gerbang kematian cintaku. Sebagaimana yang kutahu, hari ini, orang tua sang lelaki yang telah dijodohkan denganku, akan datang melamar. Itu berarti, tak lama lagi, aku akan masuk ke dalam kehidupan rumah tangga yang tak pernah kuimpikan. Aku akan menjadi istri untuk seorang lelaki yang tak pernah kuinginkan.

Sungguh, jiwaku memberontak. Aku merasa tak sanggup menerima perjodohanku dengan seorang lelaki yang tak kukenal. Karena itu, aku sangat ingin terempas ke tempat yang jauh dan meloloskan diri dari jeratan tradisi yang tidak manusiawi. Tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain terdiam dan menangis. Aku tak kuasa untuk mendebat dan bertengkar dengan ayah-ibuku, seperti yang sudah-sudah.

“Maafkan kami, Nak. Sungguh, kami melakukan ini demi kebaikanmu,” tutur ibuku, sambil menggenggam tanganku. “Aku mohon, terimalah perjodohanmu dengan lapang dada. Belajarlah untuk menerima takdirmu setulus hati,”

Aku hanya terus berbaring dan menangis di atas kasurku, di dalam kamar persembunyianku.

Ibuku pun mendengkus, lantas berucap dengan nada prihatin, “Kalau kau bisa bersabar dan menerima perjodohanmu ini dengan ikhlas, aku yakin kau pasti hidup bahagia. Apalagi, lelaki yang akan menjadi suamimu itu, adalah seseorang yang sangat alim. Karena itu, ia pasti akan memperlakukanmu dengan baik sebagai istrinya.”

Aku terus saja terisak dan tak memedulikan kalimat-kalimat pelipur dari ibuku.

Sesaat kemudian, ibuku pun menyerah untuk menenangkan perasaanku. Ia lantas keluar dari kamarku, dan meninggalkanku sendiri.

Akhirnya, beberapa saat berselang, di tengah kediamanku selepas uraian air mataku, sayup-sayup, aku pun mendengar perbincangan ayahku dengan para tamu pelamar. Mereka terdengar membicarakan perihal waktu dan tata cara penyelenggaraan akad dan pesta pernikahanku, seolah-olah tak ada lagi permasalahan terkait kesepakatan perjodohanku itu.

Tetapi kemudian, kesedihanku malah berubah jadi penasaran. Pasalnya, aku berulang kali mendengar nama yang tak asing di telingaku. Sebuah nama yang sering kudengar akhir-akhir ini. Sebuah nama yang kerap terngiang di dalam benakku. Sebuah nama milik sang pendakwah muda yang aku kagumi.

Namun kukira, persesuaian itu tak berarti apa-apa, sebab aku yakin, kalau aku hanya tengah disesatkan oleh perpaduan sebuah kebetulan dengan khayalan liarku.

Hingga akhirnya, setelah sekian lama, terdengarlah basa-basi penutup untuk acara lamaran itu. Pelan-pelan, aku pun mendengar para tetamu mulai berpamitan. Pelahan-lahan, suara perbincangan pun semakin ciut. Yang terdengar kemudian, adalah suara mesin kendaraan di halaman depan rumahku.

Dengan perasaan yang campur aduk, aku pun melangkah ke dekat jendela. Aku lalu mengintip dari balik sibakan gorden yang sempit, sembari berharap para tetamu itu segera pergi. Sampai akhirnya, aku melihat sebuah keajaiban. Dengan begitu saja, mataku menjurus pada satu wajah seorang lelaki yang tampak diiringi tetamu yang lain. Sebuah wajah tampan milik sang dai muda.

Seketika pula, di tengah pantauanku, tanpa kukira, sang dai menoleh pada jendela tempatku berlindung, sembari melayangkan senyuman. Lekas saja, aku menarik diri dan bersembunyi dengan jantung yang berdegup kencang. Aku lantas melangkah mundur dengan perasaan yang berbunga-bunga, kemudian kembali merebahkan tubuh di atas kasur.

Tiba-tiba, aku memandang dan merasa segalanya indah. Aku seolah-olah berada di taman surga.***


Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksespi).

53 People reacted on this

  1. Wow, wonderful weblog structure! How long have you ever been blogging for? you make blogging look easy. The total glance of your site is excellent, let alone the content material!

  2. I enjoy you because of your own hard work on this website. Debby take interest in conducting investigations and it is easy to understand why. My spouse and i know all about the lively mode you give rewarding ideas by means of the web blog and even encourage participation from some others on that concern then my girl is really becoming educated so much. Take pleasure in the remaining portion of the new year. You have been performing a terrific job. blog

Leave a Comment