Posted on: 4 July 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 111

oleh Destriyadi Imam Nuryaddin

Pemenggalan Penghulu Djamal
Pada masa dulu setiap wilayah memiliki penghulu atau saat ini setara dengan kepala desa. Djamaluddin menjabat penghulu Pulau Tiga bersama Muhamad Usul atau Mat Usul sebagai wakil penghulunya. Mereka disuruh oleh Jepang untuk mencari padi di Bunguran, karena dulu banyak sawah di sana. Penghulu Djamal dan Mat Usul melakukan kegiatan itu digaji Jepang. Hasil panen itu harus disetor kepada penjajah tersebut. Setelah mendapatkan apa yang diperintahkan, mereka menghadap. Sayangnya, menurut tentara Jepang penghulu Djamal dan Mat Usul melakukan kecurangan. Karena dianggap membeli padi tapi tidak disetor dengan mereka sesuai jumlahnya, ditambah lagi untuk kepentingan pribadi.

Akibatnya, mereka dihukum pancung—kata lain dari membunuh. Sekitar 3-4 hari mereka diikat dijemur dan habis dipukul. Tidak dikasih makan dan minum. Sesiapa masyarakat yang lewat, dipanggil untuk memukul penghulu Pulau Tiga tersebut. Dengan berat hati mereka melaksanakan perintah itu bahkan sambil meminta maaf kepada Djamaluddin yang dipanggil Yahlong itu. Karena tidak ada kemampuan untuk melawan, pun membantah berarti bersedia dipukul. Kadang di antara mereka mengelabui tentara Jepang yang seakan-akan memukul keras-keras kedua petinggi di Pulau Tiga itu.

Penghulu Djamal dan Mat Usul sudah tidak berdaya, tubuh mereka berdua sudah tidak bisa menahan samurai yang akan memancung leher mereka karena dianggap bohong terhadap pemerintahan Jepang. Keadaan itu semakin membuat masyarakat susah terhadap pemimpin mereka itu.

Oleh masyarakat menjelang hari eksekusi, meminta Usman bin Haji Ahmad atau Yahlong Man dan Wan Yakub atau Tok Kub untuk menghadap tentara Jepang. Yahlong Man asal Serantas itu saat masa Jepang diangkat menjadi soncho (penghulu atau kepala desa). Sedangkan Tok Kub merupakan pemuka masyarakat yang berasal dari Teluk Melam. Mereka dianggap memiliki ilmu batin dan kemampuan menghadap petinggi Jepang, Masida-Sang.

Entah memakai jampi-jampi atau cuce-cuce, kedua tetua itu datang menghadap Masida-Sang untuk memohon agar melepaskan dua orang tersebut dan membatalkan hukuman pancung itu. Alhasil, Penghulu Djamal dan Mat Usul dibebaskan dari hukuman pancung. Nyawa memang masih bisa diselamatkan, tetapi muka lebam dan bengkak di sana-sini.

Lokasi lubang yang direncanakan sebagai tempat eksekusi pemancungan saat ini masih bisa ditemukan di bukit Pasir Timah.

Wanita Penghibur Tentara Jepang
Tentara-tentara yang ikut berperang membela negara harus merelakan jauh dari kekasih atau istri mereka. Dalam jangka waktu yang lama, bertahun-tahun, mereka harus meninggalkan anak dan istri. Tidak ada kata pulang. Hal itu yang menyebabkan para tentara mengimajinasikan dan memanfaatkan tubuh-tubuh perempuan di Serantas sebagai wanita penghibur. Mereka adalah jugun ianfu, istilah ini erat dengan masa pendudukan tentara Jepang selama Perang Dunia II.  Mereka dijadikan budak untuk pemuas nafsu tentara Jepang.

Pukul 1 atau 2 dini hari tentara-tentara itu bangun, sebab mereka mengikuti waktu Tokyo. Antara Indonesia dan Tokyo perbedaannya 2 jam. Jam-jam segitu mereka hormat mendengar jagu kebangsaan Jepang, kimigayo. Sekitar pukul 4 mereka mandi menggunakan air panas.

Perempuan yang dijadikan wanita penghibur atau jugun ianfu itu harus memasak air panas sebelum memandikan tentara Jepang. Mereka juga yang menggosok seluruh badan tentara Jepang dalam keadaan telanjang. Seperti seorang ibu yang sedang memandikan anaknya. Tentara-tentara itu tidak ada rasa malu. Jika wanita-wanita itu melawan, akibatnya tidak hanya kata bagero saja yang muncul, tentu akan kena belasah juga.

Paling menyakitkan adalah bagi mereka yang sudah menikah. Suami melihat istrinya memandikan orang lain, tapi tidak bisa apa-apa. bungkam. Ada perasaan takut untuk menghajar atau sekadar menegur para tentara tersebut ketimbang mati sia-sia dan istrinya tetap menjadi jugun ianfu, akhirnya ada yang memilih untuk lari.

Bahkan praktik ini nyatanya menghasilkan seorang anak tanpa status pernikahan antara tentara Jepang dan wanita pulau Serantas. Ditambah lagi wanita yang telah menghiburnya itu dibiarkan begitu saja, sebab Jepang kalah dan harus meninggalkan Serantas. Perempuan itu bernama Fatimah dan anaknya bernama Ahmad. Pada saat itu diperkirakan Ahmad masih dalam kandungan ibunya. Fatimah berasal dari Nusa-Tanjung Batang, entah bagaimana pertemuan di antara mereka. Teman-teman Ahmad menggelarnya dengan Mat Tokyo. Gelar itu diberikan karena ayahnya berasal dari Jepang, orang-orang dulu masih susah menyebut Jepang, jadi diubah Tokyo yang sebenarnya merujuk pada Jepang. 

Kenangan Zainuddin dan Hamzah
Zainuddin mendengar cerita dari Long Yakub. Ia lahir tahun 45, saat Jepang mendekati masa kekalahan. Cerita dari Long Yakub menjadi sumber yang valid karena ia adalah mantan pasukan heiho yang rencananya akan dikirimkan ke Birma.

Usman bin Haji Ahmad adalah yahlong atau paman Zainuddin abang dari ibunya. Abang Zainuddin adalah orang pertama yang menemui tentara Jepang menunjukkan pulau Serantas.

Ayahnya bernama Hamzah, sama dengan nama belakang Zainuddin, yaitu Zainuddin Hamzah. Nama lain dari Hamzah ialah Buyung Pelalawan. Dia berasal dari Pelalawan dan menetap di Serantas sejak 1914 semasa Perang Dunia Pertama (PD I). Orang-orang kampung di Serantas biasa mengenalnya dengan panggilan Pak Dagang. Julukan ini oleh masyarakat karena ia merupakan perantau yang tidak memiliki saudara-mara di Serantas. Dagang dalam pengertian ini adalah orang dari negeri asing atau pengembara. Gelar ini bahkan dianggap sebagai penghormatan dan penghargaan.  

Ia membuka kebun, dua tiga gunung ia bekerja menanam kelapa di Serantas hingga 4000-5000 batang dulu. Sejak masa pemerintahan Belanda, ia sudah mulai menanam dan selama 8 tahun menunggu panen. Sempat juga Hamzah menjadi tempat tauke-tauke meminjam uang. Orang-orang dulu prinsipnya, termasuk Hamzah, rumah besar banyak anak biar semuanya berkumpul satu tempat. Sampai saat ini rumah tersebut masih bisa dijumpai di Serantas.

Beberapa lama Jepang masuk ke Serantas, sikap mereka malah mengambil uang milik Hamzah dan menukarnya dengan uang Jepang sebanyak 17 ribu dolar. Menurut Hamzah uang Jepang tidak memiliki harga, tapi menurut Jepang tetap sama saja dengan uang dolar, tapi jika memang benar sama kenapa Hamzah membungkus uang tersebut untuk dijadikan kenang-kenangan, tentu rugi kalau tidak digunakan untuk berbelanja kebutuhan dapur.

Saat keadaan kalut di masa Jepang karena kekurangan pangan dan sandang, ia menyewa tuako milik Cina Aheng yang tinggal di Teluk Labuh guna memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan untuk berdagang, tetapi jika ada orang-orang kampung meminta bantuan kepadanya seperti kain, ia menukarkannya dengan barang milik orang kampung tersebut dengan sistem barter. Jika orang kampung memerlukan kain maka dibayar dengan padi, minyak kelapa atau ayam. Tapi di masa-masa seperti itu, ada saja yang memanfaatkan kesempatan di tengah kesulitan. Ada satu orang kampung sehelai kain batik murah dibayar dengan 200 batang kelapa. Pada akhirnya orang tetap membayar mahar itu daripada telanjang. Orang kampung tidak sepenuhnya bergantung pada Hamzah dan mereka yang berlayar itu, orang kampung tetap membuka huma menanam padi atau ubi.

Tuako itu berlayar ke Kuching dan Singapur. Ia membawa barang dari Serantas ke sana menyesuaikan kebutuhan pasar di Singapur dan Kuching, lalu membawa pulang barang tukarnya ke Serantas. Juga pernah ia membawa kelapa untuk dijual di negeri seberang. Hamzah pandai membawa tuako, sebuah kapal yang menggunakan layar untuk berlayar, bukan pakai mesin. Kemudian ia membawa barang komoditas seperti minyak kelapa. Menurut Zainuddin, kalau ayahnya hendak berlayar ke Singapur mesti mengambil angin Utara, karena gelombang kuat membuat kapal lebih cepat karena terkena pukulan angin. Sementara dari Singapur ke Serantas mengikuti angin Selatan. Hal itu menjadikan Hamzah salah satu pelaut ulung pada masanya. Kalau ke Kuching setidaknya sekitar satu minggu. Namun celakanya jika angin teduh, karena harus mencari laju angin agar toako dapat berlayar.

Ibu Zainuddin juga pernah berhadapan langsung dengan Jepang. Tidak diketahui kapan pastinya, yang jelas tentara Jepang datang dengan sebuah kapal perang naik ke pulau berjalan-jalan hendak mencari barang-barang sembako seperti, buah-buahan, kelapa, termasuk tamago (telur). Ibunya pada saat itu banyak memelihara ayam. Tentara Jepang itu memberi uang kepada ibunya untuk membeli telur, tetapi ia menolak dengan mengatakan, “Nai, nai”. Ibu dengan ikhlas memberi telur-telur itu kepada tentara Jepang bukan karena takut, tetapi karena mereka datang dengan cara baik-baik. Memang pada masa itu tentara yang berasal dari Korea terkenal jahatnya, sedangkan tentara yang berasal dari Jepang masih tergolong baik.

Guna mengenang dan mengekalkan masa lalu itu ia berharap bahwa dibuatkan tugu Jepang di Serantas untuk menandakan kehadiran jajahan Jepang dan perjuangan masyarakat di Serantas dari tahun 1942-1946.

Warisan Jepang di Serantas
Warisan dari Jepang yang ada di Serantas berupa barang-barang dan lokasi yang tidak sempat dihilangkan dari Serantas. Peninggalan jejak ini setidaknya membuktikan bahwa Jepang benar-benar ada di Serantas beserta kenangan di dalamnya. Warisan ini mempunyai nilai jual yang sama mahal bahkan lebih mahal daripada pemandangan alam. Warisan ini menjadi pintu masuk untuk melihat setiap sudut sejarah yang menyedihkan itu.

Areal yang menjadi pusat Jepang ada di Pasir Timah. Luasnya sekitar 5 hektar sampai ke atas bukit. Areal ini yang dibangun sekolah, kumiai (koperasi), kantor, barak, tempat pemandian, tempat masak air, dan lain-lain. Tapi jumlah mereka tidak ramai sekitar 1 pleton, yaitu 30 orang.

Agak naik ke bukit Pasir Timah, sebuah lokasi yang dipersiapkan untuk mengeksekusi dua tokoh di Pulau Tiga, yaitu Penghulu Djamal dan Wakil Penghulu Mat Usul. Ukurannya cukup besar muat untuk jasad dua orang. Hasbullah, pemuda Serantas sekaligus keponakan Zainuddin, mengatakan bahwa di lokasi tersebut sudah direntangkan batang belian sebagai alas leher kedua tokoh itu. Tetapi belian itu sekarang sudah tidak ada lagi. Menurutnya juga setelah selesai dipancung, jasad itu langsung ditanam.

Selain lokasi eksekusi itu, tak jauh dari pinggir jalan Pasir Timah ada sebuah jangkar kapal besar. Jangkal ini ditemukan di laut, lalu oleh masyarakat diangkat ke darat di tempat lain sebelum di Pasir Timah. Lalu jangkar ini diceburkan kembali ke laut dengan maksud untuk dijadikan tempat ikat tali pompong nelayan. Tapi oleh salah satu masyarakat meminta agar jangkar ini diangkat kembali dengan alasan jangan sampai peninggalan Jepang itu habis atau musnah di laut. Panjang jangkar ini sekitar satu depa orang dewasa. Jangkar yang saat ini masih terjaga di Serantas itu merupakan jangkar kapal Kudamaru.

Tidak jauh dari tempat diletakkannya jangkar itu, terdapat tempat pemandian masa Jepang dulu. Orang setempat menyebutnya telaga Jepang. Menurut penuturan Taliman, masyarakat setempat, telaga ini selalu ada air ketika masa Jepang dulu. Bentuknya masih asli, hanya ada tambahan beberapa papan beluti. Kemungkinan masyarakat Serantas diperintah oleh tentara Jepang untuk membuat telaga itu dengan kata lain sebagai romusha. Awalnya telaga ini tertutup timbunan sampah bekas longsor di Serantas. Lalu orang kampung berpindah-pindah mencari air karena masa dulu kering air. Ditemukanlah telaga ini dengan air yang melimpah.

Beberapa menyebutkan bahwa lubang hantu yang ada di Serantas adalah tempat persembunyian tentara Jepang dari kejaran musuh, tetapi menurut Zainuddin, lubang itu tidak ada kaitannya dengan kehadiran Jepang. Sebenarnya di situ merupakan tempat mata air yang besar dan dalam, masyarakat sekitar menggelar tempat itu dengan sebutan lubang hantu. Takhayul yang selalu dibangun oleh orang-orang tua dulu seperti larangan bermain di dekat lubang hantu, nanti jauh sampai ke Midai.

Satu lokasi yang terpisah dari Serantas tapi masih menjadi bagian sejarah Jepang adalah sungai besar yang berada di dekat pelabuhan penyeberangan Ranai-Pulau Tiga. Sungai besar itu sebagai tempat kapal-kapal kecil angkatan laut Jepang berlindung dari kejaran musuh. Kapal-kapal itu masuk ke dalam sungai besar itu sehingga tidak nampak dari luar karena ketutupan bukit-bukit.

Jepang juga membuat para-para, semacam tempat untuk menyalai ikan. Mereka membuat satu lubang sekitar dua meter. Lokasi tepatnya adalah bekas lapangan voli yang sekarang sudah tertimbun jalan. Selain itu, dulu juga ada bom berukuran besar di bawah batang jambu yang sekarang sudah tidak ada lagi. Bom itu juga merupakan bekas peninggalan Jepang. Seperti basoka mini dan samurai disayangkan berhasil diambil oleh orang Jepang yang datang ke Serantas dengan modus investasi.

Jepang juga mewarisi satu tempat masak air. Orang-orang kampung menyebutnya kawah. Terdapat tulisan menggunakan aksara Jepang. Kondisinya kini masih bagus, hanya didiami lumut di beberapa titik dan sedikit berkarat. Kawah ini sebelumnya sempat menjadi tempat wudu. Sekarang kawah itu berada di salah satu rumah masyarakat dan terpisah dari bekas area markas Jepang. Selain tempat masak air, Jepang juga mewarisi satu wadah untuk memasak arak. Bentuknya persegi empat, kurang lebih seperti fiber ikan. Tingginya sekitar sepinggang orang dewasa. Sekali lagi disayangkan benda itu kini lenyap di makan zaman.

Akhir Penjajahan Jepang
Jepang akhirnya angkat kaki dari Serantas sejak Februari 1946. Tentara-tentara itu dikapalkan dan dibalikkan. Mereka pulang dalam beberapa kloter.  Tentara Jepang itu dikirim ke Kuching sebelum ke kampung halaman. Karena sudah kalah perang, akhirnya mereka tidak lagi memperlakukan masyarakat seperti awal kedatangan.

Sumber
Laporan Akhir Studi Kelayakan Untuk Pengembangan Keramba Jaring Tancap dan Rumput Laut di Wilayah Coremap Kabupaten Natuna. Badan penelitian dan pengembangan pemanfaatan sumber daya perairan (BP3SDP). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNRI, 2008.
Wawancara pribadi, Zainuddin Hamzah, SE. Ranai, Juni 2021
Wawancara pribadi, Hasbullah, Desa Serantas, Serantas, Mei 2021
Wan Tarhusin. 2002. Imbas Perang Pasific di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau). Milaz Grafika: Tanjungpinang.
Tony Firman. 2017. “Jugun Ianfu, Budak Wanita di Masa Penjajahan Jepang”. https://tirto.id/cgZz
https://www.ruangguru.com/blog/asal-mula-penjajahan-indonesia-oleh-jepang
https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/kedatangan-jepang-ke-indonesia-7171/ https://idtesis.com/beikoku-kouri-kumiai-pada-masa-pendudukan-jepang-di-surakarta-kochi-tahun-1942-1945/


(editor Ryannaldo/foto Wahyudi)

111 People reacted on this

Leave a Comment