Posted on: 2 July 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 68

oleh Destriyadi Imam Nuryaddin

Warisan penjajah Jepang di Natuna tidak hanya ada di Penagi dan Subi. Bahkan dua tempat tersebut hanyalah sebagian kecil dari kenangan bengis saat Jepang berhasil menduduki Natuna setelah menaklukkan Belanda. Meskipun terbilang singkat, tetapi kebanyakan orang-orang tua dulu yang merasakan kehidupan berdampingan dengan Jepang tentu menyatakan bahwa lebih baik dijajah Belanda ratusan tahun dibanding Jepang yang hanya tiga tahun: baju tak tentu baju, makan tak tentu makan.

Sisa-sisa peninggalan penjajahan Jepang pada perang dunia kedua juga terdapat di Desa Serantas, bagian dari Kecamatan Pulau Tiga. Menuju ke desa yang berbentuk teluk ini, hanya dapat melalui transportasi laut. Jika diperhatikan, Serantas memang memiliki posisi yang strategis untuk menjadi markas militer. Letaknya tertutup dari sisi kiri, kanan dan belakang oleh gunung. Tidak jauh juga jika hendak menyeberang ke pulau Bunguran.

Awal Penjajahan Jepang
Ekspansi ke wilayah pulau Natuna dimulai tahun 1942, tepatnya di Serantas. Bermula ketika itu abang dari Zainuddin Hamzah (narasumber) pergi mancing di dekat laut Serantas. Ia melihat kapal Jepang masuk ke wilayah laut Serantas dan berhenti di dekatnya. Salah satu dari mereka menanyakan di mana Serantas, lalu oleh orang tersebut ditunjuklah Serantas. Orang tersebut mengira mereka hanya ingin mencari barang di Serantas untuk membangun sesuatu. Tanpa disadari, ia baru saja membuka jalan untuk para penjajah Jepang.

Kapal itu bernama Kudamaru. Selain berlayar ke Serantas, Kudamaru juga menjelajah pulau Bunguran. Tahun 1943—Jepang sudah menduduki Natuna—Kudamaru berlabuh ke Desa Tanjung dengan tujuan untuk mencari ikan. Karena memang Tanjung dikenal cukup kaya akan ikan. Dengan tujuan yang sama, Kudamaru berlayar pula ke Sededap, salah satu desa yang berdekatan dengan Serantas hanya berbatas laut. Tahun yang sama, Kudamaru menjelajah ke Desa Pulau Tiga masih dengan tujuan mencari ikan. Artinya, Kudamaru aktif berlayar di pulau Bunguran dan gugusan Pulau Tiga untuk mendapatkan hasil laut pribumi. Dalam catatan Tarhusin, kegiatan serupa juga dilakukan di wilayah Serasan, Midai, Sedanau, Tanjung Batang, Sepasir, dan Semedang untuk mencari bahan makanan.

Setelah berhasil menduduki Tarakan, Jepang memperluas penguasaan wilayahnya ke Serantas. Sebelumnya, Jepang berhasil mengebom Tarempa pada pertengahan Desember 1941 melalui pesawat tempurnya. Hanya saja pangkalan yang dibangun di Serantas untuk kebutuhan seperti logistik-logistik yang diolah di Serantas baru kemudian dikirim ke markas utama di Tarakan, seperti ikan, daging, sayur, dan beras. Mengingat Natuna pada masa itu merupakan sumber yang melimpah. Kegiatan-kegiatan di pangkalan Serantas itu berupa perlengkapan kebutuhan-kebutuhan pangkalan Angkatan Laut Jepang. Alasan lain dibangunnya pangkalan di Serantas sebagai basis pertahanan di Natuna sebelum menyerang kota Singapura. Dibangunlah perumahan-perumahan, tempat pengasapan ikan, sekolah, dan kumiai (koperasi propaganda yang didirikan oleh Jepang). Areal markas Jepang tepatnya berada di Pasir Timah sampai ke pesisir rumah penduduk. Pangkalan itu dipimpin komandan yang bernama Mashida-sang dan Juka-Sang, meraka termasuk pembesar-pembesar angkatan laut Jepang.

Lapangan Udara Jepang di Subi
Operasi selanjutnya adalah membangun pangkalan udara di Subi Kecil. Pangkalan ini dibangun sebagai tempat pertahanan udara Jepang. Pemerintah Jepang mengambil orang-orang dari Bunguran dan sekitarnya seperti Ranai, Sedanau, Pulau Tiga, Midai, Serasan, Kuching, Kelarik, dan Pulau Panjang dengan total pekerja romusha 600 pekerja. Salah satu romusha yang berasal dari Serantas, yaitu Syamsuddin atau Aki Din. Dalam pengertiannya, romusha ini dipahami sebagai kerja pakat, artinya kerja bakti atau gotong royong. Mereka laki-laki yang berumur 20-an sampai 40-an dikirim ke Subi menggunakan toako (kapal layar). Mereka dipekerjakan siang di tengah panasnya matahari sampai malam. Banyak dari mereka yang tidak tahan dengan sistem kerja yang seperti itu, tapi mau tidak mau lapangan udara tersebut harus diselesaikan. Perlakuan dari tentara Jepang membuat hidup semakin tersiksa karena kebanyakan terdiri dari orang-orang korea yang terkenal beringas dan kasar. Selesailah landasan itu setelah enam bulan pengerjaan.

Dampak
Sedikit banyaknya, masyarakat Serantas merasakan dampak kehadiran keluarga baru tersebut. Salah satu masyarakat Serantas yang menjadi tentara pembantu (heiho) pada saat itu adalah Yakub atau Long Akub atau Long Kub. Dari Serantas, ada 4-5 orang yang dijadikan heiho, lalu dibawa ke Kuching untuk mengikuti latihan. Rencananya mereka akan dipersiapkan melawan Birma, namun Jepang lebih dulu menerima kekalahan. Selain itu, pegawai-pegawai kantor pemerintahan Jepang juga mempekerjakan masyarakat Serantas, salah satunya Bujang Din atau Yahcik Din. Ia juga salah satu masyarakat yang fasih berbahasa Jepang.

Kegiatan lain yang dinilai baik pada masa itu dengan dibukanya sekolah Jepang. Lokasinya di bukit Pasir Timah. Sekolah itu berbentuk besar panjang, dindingnya menggunakan bambu anyam. Anak-anak diajarkan materi-materi yang berkaitan dengan Jepang, seperti bahasa Jepang, berhitung, membaca menulis (katakana dan hiragana). Sehingga orang-orang tua dulu pandai berbahasa Jepang. Tidak hanya dari Serantas, siswanya juga ada yang dari Ranai. Malahan guru-gurunya pun diambil dari orang Indonesia yang bisa berbahasa Jepang dan Bahasa Indonesia, termasuk Wan Muhammad Rasyid, adik beradik Wan Fatimah di Sedanau. Namun, usia sekolah Jepang itu dapat diketahui umurnya tidak lama, hanya sampai kelas 2 Jepang setelah itu mengakui kekalahan mereka.

Dampak lain yang sempat dirasakan seperti listrik jadi terang benderang, jejaring perhubungan, telekomunikasi, jauh sampai ke gunung-gunung mereka pasang. Jepang mengira mereka akan lama berada di Natuna dan melakukan penjajahan lebih luas.

Sayangnya, masyarakat sekitar lebih merasakan siksa yang betul-betul siksa selama masa penjajahan Jepang. Masyarakat Serantas disuruh (paksa) memancing ikan untuk perbekalan logistik yang akan dikirimkan ke Kuching. Ikan-ikan itu nantinya akan disalai (asap) atau diawetkan. Jika masyarakat menolak perintah, mereka akan menerima imbalan berupa pukulan. Teruknya lagi, hasil ikan yang mereka dapatkan itu tidak dibayar, masyarakat tidak mendapatkan apa-apa. Mereka yang tidak dapat ikan kena pelasah di pian (pantai). Tentara Jepang mengira masyarakat yang disuruh mengail itu menjual kepada pihak lain, padahal memang tidak ada ikan yang diperoleh. Jepang tidak ada peduli sekalipun masyarakat sudah mengatakan tidak ada. Artinya mau tidak mau masyarakat harus dapat ikan dan harus dijual kepada mereka. Hukuman dan ancaman menghantui mereka jika menampik perintah Jepang. Sekadar marah masih bisa dihadapi, tetapi Jepang lebih dari itu. Menolak pergi mengail saja diancam mati. Selain itu, badan mereka habis diterajang, ditendang, dijemur di tengah-tengah panas.

Jepang benar-benar tidak peduli sehingga masyarakat harus pandai menghidupi diri sendiri. Tepatnya Jepang tidak mau ambil tahu, kecuali orang-orang yang bekerja dengan Jepang saja yang dikasih makan. Pun makanan yang diberikan ala kadarnya, seperti ular sawah dan kera.

Masuknya Jepang membangun pemerintahan di Serantas mengakibatkan orang-orang tak tentu baju. Sehelai kain pun tidak punya. Tidak heran orang-orang banyak bertelanjang, baju mereka berbungkuskan tikar, lebih dari sekadar miskin. Keluarga dalam rumah hampir tak berbaju, ketika ada tetangga lain yang memanggil, barulah sibuk mengenakan pakaian (tikar putih). Tidak ada kata mewah, tidak ada kata cukup. Selain tikar, pakaian lain terbuat dari goni. Tuma-tuma bertimbun dalam masa-masa itu, ‘baju’ sudah ditambal sana-sini. Langsi tingkap (jendela) dijahit untuk dijadikan baju anak-anak mereka. Kegiatan mencuci baju pun hanya mencuci-cuci sekadarnya saja, sebab jangankan sabun, beras saja tidak ada untuk dimakan.

Masyarakat memilih berhuma untuk bertahan hidup. Harus pandai-pandai, karena kebun dan padi milik masyarakat dengan seketika diambil paksa oleh tentara Jepang. Kembali lagi, mau tidak mau. Selain itu juga Jepang menukar paksa uang Belanda dengan uang Jepang yang sebenarnya tidak laku dari masyarakat yang masih menyimpan uang tersebut.  Ya, memang semau-maunya. Banyak hari-hari masyarakat yang kena tangan (pukul), meskipun hanya kesalahan yang tidak berarti fatal. Sekalipun diberi imbalan uang, tidak laku. Ada pun uang, untuk apa, sebab barang-barang tidak ada dijual. Nelayan-nelayan tidak bebas bekerja, semua diatur Jepang.

Masa Jepang adalah masa-masa sulit mencari makan, satu sama yang lain saling merasakan duka tersebut memilih untuk bertukar makanan. Saling mencukupi dan saling membantu hidup. Kepala keluarga dituntut untuk mencari berbagai cara agar anak istri dapat tertolong, memungkinkan sekali praktik mengambil jatah Jepang secara diam-diam walaupun tahu apa risiko yang akan diterima, semisal beras. 

Selama masa penjajahan, belum ada catatan atau cerita mengenai masyarakat yang dibunuh Jepang. Tetapi praktik penjajahan yang mereka pakai nyatanya menimbulkan bahasa pada masa itu, biar mati daripada kena jajah.

Sumber
Laporan Akhir Studi Kelayakan Untuk Pengembangan Keramba Jaring Tancap dan Rumput Laut di Wilayah Coremap Kabupaten Natuna. Badan penelitian dan pengembangan pemanfaatan sumber daya perairan (BP3SDP). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNRI, 2008.
Wawancara pribadi, Zainuddin Hamzah, SE. Ranai, Juni 2021
Wawancara pribadi, Hasbullah, Desa Serantas, Serantas, Mei 2021
Wan Tarhusin. 2002. Imbas Perang Pasific di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau). Milaz Grafika: Tanjungpinang.
Tony Firman. 2017. “Jugun Ianfu, Budak Wanita di Masa Penjajahan Jepang”. https://tirto.id/cgZz
https://www.ruangguru.com/blog/asal-mula-penjajahan-indonesia-oleh-jepang
https://www.kelaspintar.id/blog/edutech/kedatangan-jepang-ke-indonesia-7171/ https://idtesis.com/beikoku-kouri-kumiai-pada-masa-pendudukan-jepang-di-surakarta-kochi-tahun-1942-1945/

(editor Ryannaldo/foto Wahyudi )

68 People reacted on this

Leave a Comment