Posted on: 16 June 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Barangkali alat musik tradisional ini terlihat dan terdengar asing bagi masyarakat Natuna yang hidup di masa sekarang. Memang alat musik ini terbilang jarang ditampilkan di acara-acara seni budaya dikarenakan satu dan lain hal. Meskipun begitu, bukan berarti keberadaannya tidak memiliki nilai spesial dibanding alat musik tradisional lain.   

Orang-orang menyebutnya dengan nama gembuong atau giambong. Tidak ada yang dapat memastikan dari mana alat musik itu disebut gembuong. Selain gembuong, beberapa daerah di Bunguran menyebut alat musik ini sebagai linang kayu hutan, namun ada juga yang menyamai gembuong dengan talimpong.

Satu set gembuong terdiri dari rumah, yaitu tempat penopang bilah tangga nada. Bentuknya persegi panjang. Lalu elemen penting lainnya enam bilah tangga nada dan pemukul. Bilah-bilah tangga nada disusun melintang di atas rumah. Antara bilah kayu dan rumah gembuong tersebut diberi alas busa atau tali, agar bunyinya dapat keluar dengan sempurna.

Bahan yang digunakan untuk membuat gembuong adalah batang purang, parek, ulin atau belian, kubung, dan nui. Bahan-bahan ini dipilih karena menghasilkan bunyi yang sesuai dan mutu dari batangnya sendiri yang memang berkualitas. Termasuk juga seperti batang purang yang mudah untuk narah, proses merapikanbatang. Pemukulnya sendiri juga berasal dari kayu yang sama, jika bilahnya menggunakan batang purang maka pemukulnya lebih pas juga menggunakan batang purang, walaupun bisa juga menggunakan bahan belian. Tetapi risiko yang mesti ditanggung adalah lapisan pada bilah tangga nada tersebut akan lekas mengalami pengikisan.

Proses yang terbilang sulit adalah menentukan tangga nada. Pembuat gembuong harus mengukur panjang pendeknya atau besar kecilnya masing-masing bilah. Hal ini bisa memakan waktu selama setengah hari. Tanpa bantuan teknologi, pembuat gembuong mengandalkan kemampuan telinganya untuk menentukan suara yang tepat.

Gembuong memiliki lagu empat kara yang sama dengan talimpong, seperti kucing kuneng, sawek berembun, mbak ayam, dan burung laut. Lagu-lagu ini dimainkan secara bergantian dengan durasi permainan yang dipedomani dari ketukan gembuong. Mengenai asal-usul lagu ini, salah satu pemain menyebutkan, seperti lagu sawek berembun berasal dari suara burung sawek berwarna hitam. Suara itu dicari dalam ketukan gembuong, dan menghasilkan satu lagu yang menghibur. Lagu burung laut juga berasal dari suara elang ketika nelayan—yang barangkali juga pemain gembuong—sedang pergi melaut. Suara itu dicari-cari dalam ketukan gembuong dan dapat didengarkan seperti yang ada saat ini. Kepiawaian orang dulu sungguh benar mengekspresikan kenyataan dalam suatu nada.

Lagu kucing kuneng memainkan enam bilah tangga nada, sedangkan tiga lagu lainnya memainkan lima tangga nada.

catatan

Jika diperhatikan, gembuong mirip dengan gambang kayu yang ada di Betawi dan Jawa. Namun, tidak bisa dipastikan apakah gembuong hasil dari akulturasi dari salah satu kebudayaan itu atau bukan. Jelasnya, gembuong memiliki lagu dan nilai lokalnya sendiri. Terlepas dari asal kedatangannya, nenek moyang kita dulu sungguh memiliki kemampuan seni yang tinggi dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di alam Natuna. Hasrat seni timbul tanpa tergantung pada dunia luar.

Gembuong bersifat fleksibel. Artinya ia dapat dimainkan sendiri dan bisa juga digabungkan dengan alat musik genduong panjuong atau gendang panjang yang terdiri dari dua gendang panjang, dua gong, dan satu talimpong. Jika dimainkan sendiri maka tetap disebut gembuong, tetapi jika sudah bersatu dengan set genduong panjuong, maka menjadi genduong panjuong. Para pelaku musik tradisional genduong panjuong lebih suka menggunakan talimpong untuk nada pentatonisnya, karena suara yang dihasilkan lebih sesuai dan dinilai pas. Sebab itu gembuong tidak bisa dimainkan bersamaan dengan talimpong dalam satu set genduong panjuong. Hal itu pula yang menyebabkan gembuong jarang tampil di kenduri atau gawai.

Jika diperhatikan sedikit dalam antara gembuong dan talimpong, jelas gembuong lebih punya nilai lokalitas. Talimpong tidak bisa diproduksi di Natuna, mengingat bahan yang digunakan sulit didapat. Gembuong lebih mudah karena batang purang masih dapat ditemukan, dan waktu pengerjaan gembuong tidak memakan waktu banyak. Proses gembuong mesti dijemur dahulu agar kering dan menghasilkan suara yang bagus. Artinya dari proses pemilihan bahan sampai pada bentuk jadinya, dapat dilakukan di Natuna dan bahan yang berasal dari Natuna pula.

Gembuong erat kaitannya dengan aktivitas perkebunan di pulau Bunguran. Pasalnya, alat musik ini digunakan sebagai hiburan dikala menunggu kebun. Hal ini wajar, mengingat zaman dulu tidaklah ada hiburan seperti sekarang. Memainkan alat musik ini dapat menghilangkan suntuk dan sepi saat berada di kebun. Bunyi gembuong ini juga terdengar ramai, sehingga dapat mengusir kera sebelum hasil kebun habis dilahapnya. Hal ini juga yang menguatkan bahwa gembuong lebih dulu hadir dibandingkan lesung alu. Sebab gembuong berfungsi sebagai hiburan di kala menunggu hasil kebun, bahan-bahan yang digunakan biasanya didapat saat kegiatan membuka kebun. Sedangkan lesung alu digunakan saat merayakan hasil panen. Tapi tentu pernyataan ini dapat ditelusuri lebih dalam lagi. Baik gembuong maupun lesung alu, menunjukkan bahwa kekayaan Natuna tidaklah semata dari baharinya saja, jelas kekayaan itu juga berasal dari kesuburan tanahnya. Bahkan menghasilkan alat musik yang sampai sekarang dapat kita jumpai. Sayangnya, saat ini gembuong hanya ada di Ranai dan hanya ada di satu tempat. Keadaan ini jika dibiarkan akan menyebabkan kepunahan.

Leave a Comment