Posted on: 4 May 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 99

Oleh: Ellyzan Katan

Entah perasaan apakah yang saya rasakan saat ini, benar-benar bercampur baur di dalam minda. Ada rasa senang. Ada juga rasa terkejut. Ternyata kesemuanya berkelindan secara nyata, kait-mengait sehingga menyebabkan saya melambung tersanjung. Ini karena ada geliat yang luar biasa dari dunia berpantun di tanah Melayu Pulau Tujuh, khususnya di Kabupaten Natuna sebagai wilayah para datuk kaya. Dunia berpantun seolah bergeliat semakin lincah, seiring bergantinya waktu siang dan malam.

Ketika siang, orang ramai menjamah pantun. Bahkan dimulai sejak subuh buta, pantun sudah bergerilya di banyak grup Whatsapp. Pun begitu juga ketika waktu mulai menanjak siang, petang dan malam, pantun banyak berserak di Facebook, Twitter, Instagram dan media-media sosial lainnya. Kita tidak akan susah untuk menemukan sebentuk pantun sesuai kebutuhan masing-masing. Pantun-pantun itu dapat dibaca kapan saja.

Sampai di sini, pergerakan perkembangan pantun yang luar biasa ini, benar-benar membuat saya menjadi senang. Waaaahhhh…..

Aduhai tumbang si kayu jati
Menimpa dahan di tepian kebun
Aduhai senang rasanya hati
Melihat Tuan berbalas pantun

Semarak, rancak dan semangat ini memang tidak pernah bisa lepas dari apa yang sudah dihulukan oleh orang-orang tua dulu, terutama sekali institusi para raja yang berleguh-legah menjaga Melayu tetap hadir di tengah kehidupan bermasyarakat, seperti dalam kehidupan bergaul dengan sesama, semua akrab dengan pantun. Bahkan kerja keras nampak nyata dalam lapangan pendidikan serta keberlangsungan adat nikah kawin, di mana melalui dua lapangan ini, nilai keberlanjutan pantun sebagai buah dari kebesaran Melayu lama, tetap ada sehinggakan sekarang.

Paling tidak saya mencermati di kalangan anak muda Melayu di kawasan Pulau Tujuh, ramai yang secara sengaja, mulai menggunakan pantun dalam pergaulan. Padahal dalam perkembangan dunia kebahasaan sekarang ini, gempuran terhadap budaya lokal tidaklah dapat dikatakan kecil. Namun, entah kekuatan dari mana, ternyata azam berpantun masih tetap hadir, kendati masih terbatas “sebagai pelengkap acara, agar acara mempunyai nuansa Melayu,” (lihat Hodidjah dalam Pantun…. Sastra Lisan yang Mati Suri halaman 2).

Kondisi ini, dalam konteks revitalisasi pantun, cukup memberikan gambaran sederhana bahwa telah terjadi “perlawanan” terhadap gempuran budaya asing, budaya populer yang sekarang sudah menjamah seluruh sendi kehidupan kita. Di mana budaya populer di sini dapat diartikan menurunnya kualitas budaya tinggi (high culture) menuju budaya rendahan sebagai hasil dari terjadinya pertembungan antara budaya tinggi yang diasuh oleh kalangan bangsawan dengan budaya rakyat golongan pertengahan (Wilson dan Wilson, 2001).

Pantun, setelah dulu hadir di tengah kehidupan masyarakat zaman kerajaan, juga tetap hadir di tengah kehidupan zaman republik. Tidak terkecuali di tanah semenanjung Melaka misalnya, pantun terlihat lebih semarak lagi jika dibandingkan di daerah kita. Namun demikian, “kekalahan” ini tidaklah berarti kita selalu lalai dalam menghidupkan lagi semangat untuk berpantun. Dimulai dari sekolah dasar, sudah dikenal apa itu pantun, kendati baru sebatas “Pantun adalah…..” belum menjamah pada tindakan untuk membiasakan pantun dalam berucap. Belum sampai pada penerapan pemahaman pantun untuk memberi nasihat, marah, menyindir, atau kadang-kadang berkelakar.

Itulah sebabnya, saya kira, mengapa Hodidjah begitu bersemangat mengatakan bahwa pantun saat ini sedang mengalami mati suri. “Fenomena tersebut merupakan realitas yang cukup memprihatinkan karena pantun hanya menjadi sekadar permainan kata-kata dan hiburan penyemarak suasana,” ujar Hodidjah lagi.

Untungnya saat ini, kewajiban untuk mengantarkan lagi pantun ke tengah publik Melayu, telah diambil dengan gagah perkasa oleh banyak pemuda di sini, terutama sekali di Kepulauan Riau. (Sengaja saya tidak membabitkan mereka-mereka yang suka berpantun dari tanah Riau daratan sana). Di tempat kita, cukup terdengar nyaring nama-nama seperti Tamrin Dahlan, Alnaziran Syahputra, Raden Yoan Sutrisna Nugraha (sekadar menyebut beberapa nama yang dapat dilihat di Youtube). Belum lagi termasuk mereka yang generasi tua, yang luput dari rekam Youtube, Facebook, ataupun juga Instagram. Yang jelas, hal ini secara perlahan-lahan akan membuat “pantun yang mati suri” kembali terbangun. Kemudian akan menggegarkan pentas kebudayaan sastra lisan atau pun tulisan di tanah Melayu.

Peran ini juga sudah dapat dilihat bergeliat di tanah Pulau Tujuh, di mana dari berbagai aktivitas penduduk, pantun akan dengan mudah kita temui. Dan yang paling penting, sudah terdapat usaha untuk mengetengahkan pantun menjadi lebih meresap. Seperti,

Singgah ke muara mencari salak
Untuk dibelah di tepi kaki
Kalaulah nak dara tak pandai masak
Akan buruklah melayan laki

Makanya jangan abaikan pantun dalam memberi nasihat, menyindir ataupun juga marah. Melalui pantun, orang yang disindir tidak akan mudah marah. Nilai yang akan disampaikan pun benar-benar langsung menyerap ke lubuk hati terdalam.

Ha, kan benar apa kata Tenas Effendi mengenai pantun Melayu, yaitu tunjuk ajar yang di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur agama, budaya, dan norma-norma yang dianut masyarakat yang dismpaikan melalui bentuk kelakar, sindiran, nyanyian, dan sebagainya (dalam Hodidjah, Pantun…. Sastra Lisan yang Mati Suri halaman 7).

Saya kembali seperti tersentak ketika melihat betapa semaraknya acara berbalas pantun untuk membuka pintu ketika pengantin lelaki datang ke rumah pengantin perempuan. Pemandu di pintu pihak perempuan, berhasil mencegat dengan sengaja rombongan pengantin lelaki yang berniat bersanding di sebelah pengantin perempuan. Asyiknya lagi, kegiatan mencegat di depan pintu yang dilakukan penuh dengan kesengajaan itu, tidak menimbulkan marah merajuk dari pihak rombongan pengantin lelaki. Malah mereka bersuka ria di depan pintu sambil tak sudah-sudah mengulurkan syarat. Syarat dimaksud tentu saja berupa lembar-lembar duit yang diberikan langsung kepada pemandu serta pemegang kain penghalang pintu.

Coba saja hal ini dilakukan tidak dalam nuansa berpantun, pastilah buku lima akan naik ke muka pemegang kain penghalang pintu. Pasalnya, sudah jauh-jauh datang ke rumah pengantin perempuan untuk bersanding, eh, dihalang pula di depan pintu. Buku lima juga nantinya yang akan beraksi. Namun tidak demikian ketika ada pantun di dalamnya, suasana pun langsung menjadi cair.

Paling-paling pihak pengantin lelaki akan berkata begini,

Burung balam jalan mengendap
Hinggap di batu di tanah rata
Ucapan salam sudah pun dijawab
Kenapa pintu tak juga dibuka

Nak marah?
Tak akan Tuan….

Ranai, 19 Ramadan 1442 H/01 Mei 2021 M

Ellyzan Katan adalah alumni Universitas Islam Riau Pekanbaru. Menetap dan bekerja di Ranai, Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Bisa dihubungi tanjakqu@gmail.com.

99 People reacted on this

Leave a Comment