Posted on: 18 April 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 150

Oleh Destriyadi Imam Nuryaddin

Dornier Do 24
Perang Dunia II mewarisi catatan sejarah di pulau Natuna. Tepatnya ketika di akhir kekuasaan Belanda dan ekspansi Jepang di Natuna-Anambas pada Desember 1941-1943. Peristiwa ini tidak hanya antara Belanda dan Jepang saja, tetapi juga punya kaitannya dengan negara lain.

Peristiwa ini dimulai pada Minggu, 14 Desember 1941. Ketika itu masyarakat melakukan aktivitas seperti Minggu biasanya. Pada hari itu juga, masyarakat menunggu kelompok teater mendu dari Bunguran (Natuna) untuk menghibur masyarakat Tarempa. Tepat pukul sembilan, pesawat tempur Jepang melintas di langit Tarempa.

Pesawat tempur Jepang 7 menyusuri pulau Mubur dari timur ke barat. Beberapa menit kemudian, sebuah pesawat tempur hilang dan tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang sangat keras. Api berkobar setinggi gunung. Masyarakat langsung keluar rumah berlari mencari tempat aman, berlindung di gunung dan celah-celah batu yang besar.

Pesawat tempur Jepang kembali mengebom Tarempa pada Kamis, 18 Desember 1941 hingga kantor kontelir Belanda hancur terbakar dan rumah-rumah warga pedagang Cina di pinggir laut. Api setinggi pohon kelapa. Hal ini disebabkan bendera Belanda masih berkibar, sedangkan pihak Belanda sudah kabur.

Pesawat tempur Jepang di Natuna hanya berhasil menjatuhkan bom di pinggir laut di sekitar pelantar Penagi. Walaupun begitu, tetap Penagi pada saat itu dalam keadaan hancur dihantam bom. Penduduk setempat berlarian, terjun ke laut. Seorang amir (camat) bernama Ibrahim yang pada saat itu memerintah di Ranai dengan sekretarisnya H. Achmad Idjis mengambil tindakan agar penduduk Penagi lari ke darat dan berlindung di bawah pohon-pohon yang pada saat itu masih banyak hutan belukar. Bom Jepang lebih banyak meledak di laut sekitar pulau Natuna. Catatan lain mengenai lokasi pengeboman Jepang di Ranai belum ditemukan lagi, sejauh ini masyarakat yang sempat bertemu dengan masa penjajahan Jepang mengenang bahwa pada masa itu kehidupan lebih siksa dibanding dengan kolonialisme Belanda. Pakaian bukan lagi dari bahan baju yang kebanyakan, tetapi dari bekas karung yang dijahit menyerupai baju. Untuk makanan sehari-hari juga tidak tentu apa yang bisa dimakan. Terlebih lagi sistem kerja paksa yang dirasakan penduduk Natuna untuk pembangunan lapangan udara di pulau Subi sebagai pertahanan udara Jepang yang harus bekerja siang malam bahkan terkenal beringas dan tak sungkan membunuh kaum pribumi yang tidak mengikuti perintah. Walaupun sebentar, tetapi selain menyimpan banyak duka dan siksa, penjajahan Jepang di Natuna mewarisi bekas lapangan udara di Subi dan barang-barang di Pulau Tiga.

Masih dalam suasana PD II di Natuna-Anambas, perlawanan terhadap Jepang dilakukan oleh pihak Belanda dengan pesawat andalan mereka, yaitu Dornier Do 24. Nama Dornier diambil dari Claudius Dornier yang juga pendiri produsen pesawat Jerman bernama Dornier Flugzeugwerke yang didirikan di Friedrichshafen pada tahun 1914. Dornier Do 24 termasuk pesawat yang dibuat pada rentang tahun produksi 1930-1945 dengan berbagai seri. Produksi pesawat Dornier Flugzeugwerke diberi nama-nama berbeda sesuai dengan negara pemesan, seperti Jerman (seenotgruppe, seenotkommando, seenotstaffel), Prancis (flottile, escadrille), dan Belanda (groep vliegtuigen). Dornier Do 24 merupakan pesawat bermesin tiga dengan sayap payung strut-braced. Pesawat Dornier lebih dulu mendapat perhatian kolonial Belanda untuk membantu kekuatan Dienst Luchtvaart Marinir (DLM) atau Dinas Penerbangan Angkatan Laut Belanda di wilayah koloni Hindia Belanda, ketimbang pemerintah Jerman yang baru memakai jasa pesawat flying boat ini pada saat PD II meletus untuk kebutuhan tugas pengintaian, transportasi, misi kemanusiaan, dan search and rescue.

Sebagai wilayah koloni, pemerintah Belanda juga menempatkan groep vliegtuigen atau GVT di Natuna. Pada awal 1941, Dornier Do 24 GVT 2 yang berbasis di Sedanau menerbangkan misi pengintaian sebagai respon terhadap konsentrasi pasukan Jepang yang dilaporkan berada di Formosa (Taiwan) yang diduga sebagai titik awal untuk invasi NEI (Netherlands East Indies).

Pada Senin, 15 Desember 1941 di lepas pantai Barat, GVT 1 X-36 telah mendarat darurat di dekat kepulauan Natuna karena mengalami masalah mesin kemudian dibawa ke Pontianak, Kalimantan Barat untuk dilakukan perbaikan. Pada tanggal yang sama, terjadi juga pendaratan darurat GVT 7 (werk nr. 73) karena kegagalan mesin di selatan Kepulauan Natuna. Pesawat juga diderek ke Pontianak untuk diperbaiki. Lalu Jumat, 19 Desember 1941, pesawat Dornier Do 24 GVT 7 (werk nr. 72) rusak selama pertempuran udara di dekat Kepulauan Natuna dan diterbangkan ke Pontianak untuk perbaikan.

Kegagalan dialami GVT 1 X-15 pada Senin, 29 Desember 1941 bertemu dengan G3M ‘Nell’ yang sedang melakukan patroli di dekat pulau Midai lalu ditembak jatuh. Berselang dua hari, GVT 1 X-35 dan X-36 mencari korban selamat namun tanpa hasil, termasuk komandan unit sekaligus kapten  pilot J.H.J. Nepveu, sementara W.R. Landman dan P. Jaapies yang juga merupakan pilot pesawat GVT X-15 tidak diketahui ikut bersama kapten Nepveu atau tidak. Tidak diketahui berapa jumlah pasukan yang ada di dalam pesawat tersebut. G3M adalah Mitsubishi G3M Rikko (istilah ‘Nell’ digunakan oleh sekutu) merupakan pembom medium garis depan bermesin kembar yang digunakan oleh Imperial Japanese Navy (IJN) selama PD II. Tidak hanya berfungsi sebagai pembom, G3M ‘Nell’ juga melakukan sortir maritim, patroli, transportasi VIP, pesawat latihan aircrews dan pasukan terjun payung.

Sebelumnya pada Rabu, 17 Desember 1941, GVT 3 X-19 (werk nr. 783) dan GVT 7 (werk nr. 780) berhasil menenggelamkan schooner (kapal sekunar) milik Jepang di dekat Kepulauan Tambelan. Keberhasilan memukul mundur Jepang juga terjadi pada Kamis, 25 Desember yang dilakukan oleh pesawat GVT 3 X-19 (werk nr. 779) dan GVT 4 (werk nr. 779) ketika terlibat pertempuran udara dengan pesawat Jepang di dekat Kepulauan Anambas. Kekuatan X-19 mengakibatkan pesawat milik Jepang melarikan diri sebelum ditembak jatuh. GVT 3 juga membantu menerbangkan pasokan bantuan ke Tarempa-Anambas setelah beberapa hari dibom habis-habisan oleh Jepang.

Pada pertengahan Januari 1942, GVT 6 menerbangkan patroli pengintaian di atas Laut Cina Selatan dan juga misi kemanusiaan. Salah satu misi kemanusiaan yang dilakukan oleh GVT X-29 yang kemungkinan selaku pilot P.L.G. Adriani, menjemput dan menerbangkan empat orang Rusia dari kapal Perekop dalam keadaan terluka dari pulau Natuna Besar (Bunguran) ke Pontianak, Kalimantan pada Sabtu, 24 Januari 1942. Keesokan harinya, beras dijatuhkan dari pesawat untuk masyarakat Kepulauan Tambelan-Anambas yang terisolasi. Beberapa pilot GVT 6, yaitu J.G. Stegeman (komandan unit), T. ten Klooster, P.L.G. Adriani, S.A. Snep dan J.R. Goudberg.

baca juga: http://toknyong.com/batu-rusia-perang-dunia-ii-dan-kolonialisme-belanda-di-natuna/

SS Perekop
Perekop (2.493 GRT/gross register ton) merupakan kapal kargo dengan propulsi uap yang beroperasi dari tahun 1935 sampai 1941 yang sebelumnya bernama SS Dampen milik Oslo (Norwegia) yang beroperasi dari awal dibuat tahun 1922 sampai tahun 1935. Perekop diambil dari nama daerah di Rusia yang menghubungkan Semenanjung Krimea dan daratan. Kapal kargo ini bersandar di pelabuhan Vladivostok yang merupakan kota pelabuhan terbesar Rusia di tepi pantai Samudera Pasifik yang terletak di wilayah Rusia Timur Jauh dan merupakan ibu kota dari provinsi Primorsky Krai. Vladivostok tidak jauh dari berbatasan dengan Tiongkok dan Korea Utara.  

Bermula Rabu, 3 Desember 1941 kapal uap Perekop dari Fast East State Shipping Company meninggalkan dermaga Vladivostok untuk penugasan ke Surabaya di Indonesia. Laut Cina Selatan menjadi rute yang dilewati saat berlayar ke Surabaya. Dalam keadaan itu, awak kapal Perekop tidak menduga akan terjadi pengeboman Pearl Harbour empat hari ke depan dari jadwal keberangkatan, sehingga lampu navigasi tetap menyala. Menurut kesaksian Budarin yang diinterogasi pada tahun 1946, lima tahun setelah kejadian, kapal itu tidak bersenjata. Para awak dan penumpang kapal tidak memiliki pistol bahkan senapan mesin. Hanya ada beberapa senapan untuk menjaga kapal. Namun, tetap menjadikannya sebagai kapal pengangkut kayu komersial yang paling tidak berbahaya. Tidak ada kekuatan untuk membentengi kapal tersebut selama pelayaran dari Vladivostok ke Surabaya yang melewati Natuna. Kapal Perekop tidak ada kawalan, karena memang kapal yang berangkat dari Vladivostok berlayar sendiri-sendiri tanpa ada konvoi. Lagi pula Rusia dan Jepang tidak berperang dalam Perang Dunia II.

Menjelang Senin malam tanggal 8 Desember 1941, saat kapal uap Perekop berada di Selat Taiwan, Moskow melaporkan operasi militer antara Jepang dan sekutu-sekutunya di Samudera Pasifik sudah dimulai.

Saat kapal Perekop sedang melewati Laut China Selatan, tepatnya Laut Natuna di dekat pulau Senua pada Rabu, 17 Desember 1941, sekitar pukul 9 pagi, sebuah pesawat secara tiba-tiba melintas di atas kapal. Pesawat itu membuat dua atau tiga lingkaran. Alexander Demidov, sebagai kapten kapal dan saksi Budarin melihat lebih jelas dengan teropong dan ketika pesawat itu menghampiri lebih dekat, terlihat di sayapnya lingkaran merah ‘matahari’ yang menunjukkan itu pesawat tempur Jepang. Awak kapal Perekop segera mengangkat bendera penanda, menunjukkan nama kapal dan status kewarganegaraannya. Selain itu, bendera Soviet yang khusus dilukis dengan cat pada terpal dikeluarkan pada kibaran kedua. Tapi usaha itu tidak mendatangkan hasil, Jepang tetap menjatuhkan dua bom yang mengenai kapal bagian kanan pada bagian mesin, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.

Demi mengelabui pihak Jepang dan keselamatan awak kapal, Kapten Alexander mengambil langkah berpura-pura serangan tersebut berhasil dilakukan, beberapa awak kapal membakar resin, sehingga kapal tersebut mengalami kerusakan. Siasat Kapten Alexander berhasil, pesawat pun terbang menjauh.

Untuk berjaga-jaga, satu barel kvass (minuman fermentasi khas Rusia) dimasukkan ke dalam sekoci. Awak kapal mengirimkan radiogram melaporkan tentang apa yang telah terjadi. Jawaban melalui radiogram mengatakan bahwa Uni Soviet berada dalam hubungan damai dengan Jepang dan bahwa serangan terhadap kapal Jepang oleh kapal Soviet telah dilaporkan ke pemerintah. Walau tidak ada dijelaskan lebih lanjut, dari beberapa catatan yang ada menyatakan bahwa kapal Perekop masih dapat berlayar.

Penderitaan pelaut Rusia nyatanya tidak berhenti di situ. Kamis, 18 Desember 1941, ada 17 pesawat dengan dua mesin muncul dari sebelah kiri. Mereka terbagi menjadi dua kelompok dan ditujukan ke kapal Perekop. Satu kelompok berjumlah 9 pesawat membentuk busur dan 8 pesawat membentuk buritan. Di buku catatan asisten ketiga Kapten I.S. Andrianov menuliskan “Pukul enam, pukul enam, pukul enam, pukul enam, ada alarm, mereka menuju ketinggian 300-400 meter langsung ke kapal, tanda-tanda Jepang terlihat jelas.” Tanda identitas kapal seperti bendera yang berada di pegangan ditunjukkan secara jelas. Bendera Rusia dikibarkan, warna dan lambangnya ditampilkan dengan jelas pula. Tapi usaha itu kembali tidak mendapat hasil baik. Pesawat-pesawat itu menyerang kapal dan pada penerbangan rendah mereka mulai mengebom dan menembak dengan machine-gunning. Kondisi kapal semakin parah, nyawa awak kapal semakin terancam. Bom menghantam haluan, empat orang langsung tewas di bagian gudang. Dua kebakaran terjadi di haluan dan buritan kapal, plester dan peralatan penyelamat lainnya robek tidak dapat digunakan lagi.

Beberapa saat sebelum Perekop tenggelam, Kapten Alexander Demidov memutar haluan kapal agar terhindar dari serangan udara. Namun dua bom berhasil meledak di kapal, satu bom meledak di tangki tengah dan satunya lagi di palka pertama. Botsun Sokolov, stoker Stivrin, Anipko dan Reva terbunuh di dek, masinis Alexei Zorin satu kakinya hancur dan perutnya robek berkecai.

Setelah kapal Perekop tenggelam begitu cepat, pesawat tempur Jepang berpindah arah menjatuhkan bom ke orang-orang yang berada di dalam air dan pada saat yang sama terus-menerus ditembak dengan machine-gunning. Orang-orang yang dimaksud tersebut, yaitu Stokers Onipko, Ogarkov, dan Insinyur Budoyan tewas. Hari itu Perekop dinyatakan menghilang dari udara.

Dari peristiwa itu, didapati 8 orang meninggal, 32 orang selamat termasuk 3 perempuan. Menurut catatan, Jumat, 19 Desember 1941 mereka yang masih hidup mendarat di pulau Natuna besar (Bunguran) dengan sebuah sekoci dalam keadaan parah. Selain tong kvass dari kapal uap yang tenggelam, ada kemungkinan mereka membawa juga seratus lima puluh kaleng daging kalengan dan dua kaleng biskuit. Namun, di negaranya, keberadaan Perekop beserta awak kapal tidak diketahui dan dianggap sudah tiada. Begitu pula sebaliknya, awak kapal yang selamat tidak bisa mengabari mengenai kondisi mereka saat ini.

Iklim yang berbeda dengan Rusia, menyebabkan 32 orang itu harus beradaptasi dengan kondisi sekitar. Mereka sempat terserang malaria. Satu setengah tahun mereka berada di pulau Natuna, mereka mencoba berbaur dengan penduduk yang ada pada saat itu dalam suasana perang antara Belanda dan Jepang. Begitu pula kehadiran mereka disambut baik oleh penduduk sekitar. Mereka harus terbiasa memakan ubi, sagu, dan ikan sungai. Orang-orang kampung menyebut mereka ‘orang merah’ karena warna kulit orang-orang Rusia itu merah-merah terkena sengat matahari. Perubahan yang terjadi pada tubuh mereka yang semula gemuk kukuh menjadi kurus dan hampir putus asa. Dengan kemampuan yang mereka miliki, mulai membuat minyak kelapa, menguapkan air laut untuk membuat garam, menukarnya dengan barang-barang lokal dan menjadi penghasilan mereka. Garam yang mereka produksi dengan baik diajarkan pula dengan penduduk sekitar yang mengalami krisis garam pada saat PD II. Tungku-tungku pemasak garam yang disebut ‘paon’ itu berada hampir di setiap kampung.

Selain nama-nama di atas, beberapa nama lain dari 32 yang selamat dari pengeboman, yaitu Bakhirev, Plisko, Oleinikov, Radchenko, Kostyuk, Zubov, Chulynin, Zverev, Zinchuk, Demirov, Nikolai Usachenko, Alexander Afrikanovich, Zakhov, Ezdenova, Pogrebnoy, Evdokia Vasilievna, Boris Alexandrovich, Nikolai Fyodorovich, dan Timofey Zakharovich.

Tidak hanya Perekop, pada Desember 1941, kapal barang seperti Soviet Krechet, Svirstroy, Sergei Lazo dan Simferopol yang sedang melakukan perbaikan di pelabuhan Hongkong, kapal-kapal tersebut dihancurkan oleh artileri Jepang ketika mereka berhasil merebut kota itu. Termasuk juga kapal tanker Maikop yang dibom pesawat Jepang pada 20 Desember 1941 di Selatan pulau Sarangani, Filipina.

Upaya kembali ke negeri Rusia begitu sulit dengan segala keterbatasannya. Ditambah lagi Jepang menahan kepulangan mereka, dalam artian menjadikan mereka tahanan. Dari catatan mengenai flying boat Dornier Do 24 GVT 6, hanya sekali berhasil membawa empat orang ke Kalimantan pada Sabtu, 24 Januari 1942. Sebab Borneo telah lebih dulu direbut oleh Jepang. Proses pemulangan ini tidak berlanjut, malah mereka ditangkap penjajah Jepang dan sebulan kemudian di kembalikan ke Natuna. Akhir November 1942, pihak Jepang membawa pelaut Rusia ke kota Johor-Singapura. Pada Juni 1943 para pelaut berada di Saigon-Vietnam. Lalu, 5 Juli 1943 mereka dipindahkan ke konsulat Soviet di Shangsai (Tiongkok) menggunakan kapal uap milik Jepang. Sementara waktu menunggu prosedur pemulangan selanjutnya, para pelaut Perekop yang dijaga oleh konsulat Soviet dihibur dengan penampilan konser Vertinsky (penyanyi ternama asal Rusia) yang khusus dipersembahkan untuk mereka. Baru pada Selasa, 23 November 1943 mereka pulang ke Rusia, tepatnya di Chita melalui Harbin-Tiongkok.

Sampai sekarang masih belum diketahui kapan tepatnya Kapten Alexander dan lain-lain meninggalkan Natuna. Kepulangan mereka menyisakan kesedihan bagi penduduk setempat karena sudah begitu dekat. Untuk menandai bahwa mereka pernah berada di Natuna, Kapten Alexander menuliskan simbol jangkar terlilit tali bertuliskan USSR pada sebuah batu berbentuk buritan kapal yang kita kenal sekarang dengan nama Batu Rusia terletak di teluk Senubing, Kecamatan Bunguran Timur.

Referensi:
www.oneocean.no
www.militaryfactory.com
www.dornier24.com
http://blog.fontanka.ru/posts/176780/
The Unknown World War II in the Northern Pacific – Lend-Lease (lend-lease.net)
https://www.legal-tools.org › doc ›
https://masramid.blogspot.com/
Wan Tarhusin, BSc. 2002. Imbas Perang Pasific di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau). Milaz Grafika: Tanjungpinang.
Peter de Jong. 2015. Dornier Do 24 Units, Osprey Publishing.
Rosslyn A Hubbard Page. 1997. The Gravesite On The Unknown Sailor On Christmas Island, Part 2: HMAS Sidney part Discounting Other Possibilities.
Transcipt of Proceedings. 1946. Affidavit of Witness Budarin, B. A., 1st Mate of the ship “Perekop”, dated 14 March 1946. International Military Tribunal For The Far East.
B.M. Syamsuddin. Batu Rus di Senubing Bunguran Besar. (artikel tidak diterbitkan)

150 People reacted on this

  1. Премьера «Матрицы-4», которая, по слухам, называется «Воскрешение», выйдет на большие экраны 16 декабря 2021 года Матрица 4 фильм Дата начала проката в США: 22.12.2021. Оригинальное название: The Untitled Matrix Film.

  2. Warner Bros. представили первый трейлер нового фильма в серии «Матрица», который вызвал больше вопросов, чем ответов. Матрица 4 онлайн Дата выхода. Россия: 16 декабря 2021 года; США: 22 декабря 2021 года

  3. Премьера «Матрицы-4», которая, по слухам, называется «Воскрешение», выйдет на большие экраны 16 декабря 2021 года Матрица 4 films Вся информация о фильме: дата выхода, трейлеры, фото, актеры.

  4. Фильм будет называться The Matrix: Resurrections («Матрица: Воскрешения»), и сюжетно он близок к первой картине Матрица 4 кино Вся информация о фильме: дата выхода, трейлеры, фото, актеры.

  5. Премьера «Матрицы-4», которая, по слухам, называется «Воскрешение», выйдет на большие экраны 16 декабря 2021 года Матрица 4 2021 Дата начала проката в США: 22.12.2021. Оригинальное название: The Untitled Matrix Film.

  6. Warner Bros. представили первый трейлер нового фильма в серии «Матрица», который вызвал больше вопросов, чем ответов. Матрица 4 кино Дата выхода. Россия: 16 декабря 2021 года; США: 22 декабря 2021 года

Leave a Comment