Posted on: 30 March 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 103

Kompetisi tidak lagi menjadi kebutuhan antara individu ke individu lain maupun lintas komunitas. Setidaknya begitulah yang dilakukan oleh Kompasbenua dan Pusat Informasi Konseling-Mahasiswa STAI Natuna dalam mengadakan kegiatan pada Sabtu, 27 Maret 2021 yang bertajuk Dulong Budaye: melestarikan budaye, perteguh identitas bangse. Dulong diambil dari kegiatan masyarakat Natuna, yaitu makan bedulong. Dulong adalah talam yang di atasnya terdiri dari beberapa lauk-pauk saat mengadakan kegiatan kenduri atau hari besar Islam. Pelbagai macam lauk-pauk itu diibaratkan sebagai keragaman budaya yang ada di Natuna. Salah satunya yang menjadi pembukaan kegiatan lokakarya berkelanjutan ini adalah pantun yang juga untuk merayakan atas ditetapkannya pantun sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada Desember tahun lalu pukul 14.30 waktu Paris.

Kegiatan Dulong Budaye ini diikuti oleh SMA sederajat di beberapa wilayah bunguran dan komunitas seperti Natunasastra dan Mbecite Kelarik yang dipusatkan di Aula SMA N 2 Bunguran Timur. Peserta kegiatan tampak antusias mengikuti materi dan praktik yang disampaikan oleh Ellyzan Katan. Jumlah peserta pada kegiatan ini memang terbatas hanya 50 orang yang sudah termasuk tamu undangan. Hal ini menyesuaikan dengan musim pandemi yang tak kunjung usai.

Harapan dari kegiatan ini nantinya dapat menstimulus generasi muda untuk lebih tertarik pada pantun, baik yang bersifat pantun tulis atau pantun cakap. Dulong Budaye ini nantinya menjadi ajang silaturahmi antarsekolah, antarkomunitas, dan antarbudaya.

(din-toknyong.com, foto: panitia kegiatan)

103 People reacted on this

Leave a Comment