Posted on: 7 March 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 77

Cerpen Ratna Ning

Lin mengaca di cermin. Mukanya tirus, bibirnya merekah seksi, hidungnya mancung. Malah terlalu mancung. Mata belonya. Semua yang ada di wajahnya, sangat berbeda dengan raut wajah Ibu. Bahkan tak ada kesamaan pula dengan raut wajah Bapak.

Bukannya tidak pernah terpikir, malah kerap kali terlintas pada pikirannya, beberapa kemungkinan. Melihat raut wajah yang sangat berbeda. Merasakan perlakuan Ibu yang tak seperti ibu-ibu lainnya.

Apakah Lin bukan anak kandung ibu dan bapak? Anak angkat? Atau anak telantar yang mereka temukan di bak sampah. Pikiran jahat yang seharusnya tak ada. Bahkan ia sempat berpikir mungkinkah ia Pinakia? Boneka kayu perempuan yang kemudian menjelma menjadi manusia. Lin meraba hidungnya yang teramat mancung.

Semasa kecil, ia punya bermacam-macam boneka pemberian dari Antie Teta, adik Ibu yang bekerja sebagai pramugari. Setiap singgah di kota atau di negara lain, Antie selalu membelikannya rupa-rupa boneka. Lin menaruh boneka-boneka itu di tempat tidurnya. Lin kecil menganggap boneka-boneka itu sebagai temannya tidur dan bermain. Tapi kemudian Ibu memindahkan boneka-boneka itu ke lemari hias di tengah rumah. Katanya untuk pajangan agar kamarnya rapi tak berantakan. Lin tak boleh memainkannya. Ibu tidak suka. Kalau sudah begitu, Lin bisa buat apa? Selain menurut walau kesal.

Bukan itu saja, banyak ketaksukaan Ibu yang justru bertentangan dengan Lin. Ibu tidak suka rambut Lin digerai, padahal Lin lebih merasa cantik jika rambutnya digerai. Ibu selalu mengikat rambutnya tiap hari. Dikucir dua, dikepang kuda, dicepol. Lin tak bisa membangkang. Harus menurut apa yang Ibu suka dan tidak suka. Sewaktu Lin lebih nyaman memakai celana jeans, Ibu juga tidak menyukainya.

“Kamu ini perempuan. Masak ke mana-mana pake celana jeans, kaos, kemeja?  Penampilan kamu jadi tak ada bedanya dengan laki-laki. Ibu tidak suka!” kritik Ibu. Lalu ia membelikan rok-rok dan gaun-gaun anggun untuk Lin. Dan Lin dipaksa untuk mengenakan apa yang Ibu suka.

Pun ketika teman-teman mahasiswinya yang gaul, mengecat rambut-rambut mereka. Jadi pirang atau coklat ngejreng, seperti boneka-boneka barbie. Banyak juga yang memberi warna cat dengan lebih berani. Merah Fanta atau oranye keemasan. Masa itu, cat rambut sedang nge-trend.  Bersama teman-temannya Lin kompak mengecat rambut.

Tapi Ibu mengomelinya habis-habisan. Malah sampai menjambak rambutnya segala. Mengatakan hal yang kurang pantas. Dan hari itu juga Ibu mengultimatum Lin untuk mengecat rambutnya ke warna semula.

Banyak lagi aturan Ibu, ketaksukaan Ibu pada semua yang Lin lakukan. Ibu tidak suka manakala alis Lin dirapikan dan ia mulai mengenakan pensil alis. Ibu juga tak suka Lin memakai lipstik warna merah jreng. Ibu tidak suka Lin pulang terlambat meskipun ada alasan untuk itu. Ibu selalu mengatur Lin bergaul. Dia akan komentar jika ada teman yang dianggapnya membawa pengaruh buruk pada Lin.

“Ibu tidak suka kamu terlalu akrab dengan Hesti. Dia itu kecentilan dan sering Ibu lihat gonta-ganti teman laki-laki. Pergaulannya juga terlalu bebas. Kamu jangan terlalu dekat dengannya. Nanti kena pengaruhnya pula!”

Untuk larangan itu semua, Lin tidak bisa menentangnya. Ibu bagi Lin adalah momok yang menakutkan. Seorang perempuan yang pertama ia kenal dalam hidupnya, yang begitu banyak mengatur dan memperlakukan Lin seperti kemauannya. Semua Ibu yang punya aturan. Dari jam tidur hingga bangun hingga tidur lagi. Dari makanan hingga warna dan merk celana dalam, semua Ibu yang mengatur. Jika kata Ibu merah ya harus merah!

***

 Lin merasa sangat lelah. Ia pergi ke bar. Menikmati suasana sepulang kuliah. Ada kemalasan untuk pulang. Ia pasti akan mendapati Ibu dan doktrin-doktrinnya. Lin hanya bengong saja, memperhatikan suasana samar penyanyi dari live musik di depan.

Biduannya seorang perempuan sebaya dirinya, dengan pakaian minim, bergincu tebal, beralis tebal pula. Perempuan itu seperti wanita dewasa yang bebas. Padahal tadi Lin melihat dia masuk dengan celana jeans dan kaus stretch seksi yang dibalut cardigan sepinggang, warna biru serasi. Bertopi pet. Lalu berganti pakaian seksi, duduk sebentar di deretan meja paling depan, dengan segelas bir dan sebungkus rokok. Ia seperti melakukan pemanasan.  Seperti nikmat mengisap rokoknya, mereguk minuman beralkohol ringan yang masih berbusa di atasnya itu. Dan busa-busanya menempel seksi di permukaan bibirnya. Oalah… nikmat sekali sepertinya hidup dia.

Selepas membawakan lagu yang ketiga, perempuan itu turun panggung. Berjalan ke arah Lin. Mengangguk. Tersenyum. Mengulurkan tangan.

“Erina…”

Lantas ia duduk di depan Lin setelah meminta ijin. Mengeluarkan rokok. Memesan bir pada waitress.

“Mau minum?” Perempuan itu menyodorkan gelas bir. Lin tergeragap lagi. Tapi perempuan itu, Erina itu, tersenyum. Menjentik jarinya memanggil pelayan. Lin tak sempat menolak.

“Biasalah.. hanya bir saja. Sekedar penghangat. Masakan mabuk. Santai saja. Merokok?” Perempuan itu mengangsurkan bungkus rokok, menariknya sebatang. Ia mengangguk seperti isyarat Lin harus menerimanya.

Lin menarik rokok itu. Ragu. Pemantik disodorkan si Erina itu. Jadilah segelas bir dan berbatang-batang rokok, yang menemani mereka ngobrol hingga jeda waktu rehat Erina habis.

Itulah yang  menyeret Lin untuk selalu datang ke cafe bar yang tenang dan syahdu itu. Menghabiskan waktu santai dengan hal yang sama. Ngobrol, menikmati segelas bir dan  merokok. Kebiasaan yang kemudian terbawa ke rumah. Lin merasakan kebebasannya yang hakiki ada pada sebatang rokok. Ketika mengisapnya dan meresapinya dengan melambungkan khayalan, meski ia melakukannya diam-diam dan sembunyi rapat jika di dalam rumah.

 “Aku tak takut dan tak malu dilihat siapa pun. Meski banyak pejabat, dosen, lelaki ganteng atau Menteri Kesehatan sekali pun. Yang membuatku takut di dunia ini hanya seorang saja. Ibu! Segila-gilanya aku, tak akan kulakukan hal ini depan Ibu. Bisa habis aku!” koarnya kepada Erina saat Lin mabuk karena terlalu banyak menenggak bir.

Sore itu, tak seperti sore biasanya. Lembayung tampak sangat redup, langit sore seperti seorang gadis yang menyimpan kesedihan begitu lama. Mungkin sebentar lagi ia akan membuncahkan tangisnya lewat hujan.

Lin yang mendapati kamarnya berantakan. Meja belajar dipenuhi tumpukan buku, seperti sengaja diburaikan dari tempatnya. Baju-baju berserakan di atas kasur. Sampah yang keluar dari tempatnya. Dan sepiring suguhan puntung rokok di meja hias.

Dari dulu, Ibu adalah dewa pengatur yang tak suka didebat atau dilawan, oleh siapa saja termasuk Bapak. Jika itu terjadi, sudah pasti kemarahannya akan semakin menjadi. Itu jarang terjadi pada yang lainnya yang selalu menurut semua peraturan Ibu. Tidak dengan Lin. Lin yang kerap mendebat. Dan hari ini adalah perlawanan terdahsyatnya.

“Aku capek dengan segala peraturan Ibu. Ibu selalu memaksakan kehendak. Ini tak boleh itu tak boleh. Aku dilarang punya keinginan sendiri. Semua harus terserah Ibu. Harus sesuai keinginan Ibu. Aku disetir seperti yang Ibu mau. Bu.. aku ini bukan boneka…..”

 “Ini rumahku. Kamu anakku. Jika kamu tak suka dengan segala peraturan dan tak mau menurutiku, silakan kamu angkat kaki dari sini, jika sudah mampu!” Itu kata-kata Ibu yang mermbuat Lin seperti benar-benar menjadi patung. Ia berpikir, mungkin benar dirinya adalah boneka ciptaan Ibu. Ia juga diam  ketika dijodohkan dengan lelaki pilihan Ibu.

Lin serasa kaku tubuhnya. Hari-hari dilaluinya dengan diam. Ia tunduk dengan semua keinginan Ibu tanpa Ibu harus tahu dan mengerti tentang keinginannya. Ia pergi kuliah dengan diam-diam saja. Lalu seperti biasa, merokok dan menikmati segelas bir sebelum kembali ke rumah. Meyakinkan Ibu bahwa ia sibuk di tengah persiapan akhir skripsinya. Dan Lin merasa, hidungnya kian hari kian memanjang.***


Ratna Ning, lahir dan besar di Subang, menulis  cerpen, puisi, opini, liputan berita dan tersebar di media cetak dan online.  Mulai menulis tahun 1994.  Tulisan pertamanya dimuat di Media Massa remaja “Kawanku”.  Menjabat Ketua Cabang Rumah Belajar Kreatif Subang. 

77 People reacted on this

Leave a Comment