Posted on: 11 November 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 83

Oleh: Ellyzan Katan

Amboi-amboi. Bukan main senang rasanya hati. Ada orang di luar bandar akan datang menjenguk, bertanya kabar, bertanya apa keperluan. Dan yang paling ditunggu adalah adanya pemberian berupa bahan keperluan pokok. Pemberian ini biasanya dibungkus dalam acara yang sedikit formal tapi cair. Antara yang berbual di panggung dengan mereka di depan panggung, tidak ada jarak. Semuanya berlangsung berazaskan kekeluargaan kental. Siapa saja boleh langsung bertanya, dan siapa saja boleh langsung bersalaman, bila hendak bersalam dengan orang di atas panggung. Biasanya celoteh yang diberikan pun, kadang-kadang diselipkan menggunakan bahasa daerah, bahasa Melayu.

Hanya saja, dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, setelah acara selesai, setelah tenda dikemas, piring gelas bekas santapan bersama dibersihkan, dan kursi-kursi disimpan, semuanya kembali ke kondisi semula; nelayan akan kembali melaut, yang memiliki kebun akan kembali ke kebun, yang sedang bertukang akan melanjutkan kerja tukang, dan yang sedang duduk-duduk di rumah akan kembali duduk-duduk di rumah sambil menikmati sumbangan bahan keperluan pokok yang diterima.

Tidak ada lagi leguh-legah dari pengeras suara. Karena apa? Karena yang bercakap melalui pengeras suara, telah berpindah pula ke kampong lain. Dia, sang pembual itu, hendak menebar sumbangan pula di kampong sebelah. Soal di kampong sini masih ada yang membutuhkan sumbangan atau pekerjaan, bisa dimasukkan ke nomor urut paling belakang. Maklum, agenda untuk bersosialisasi dengan calon pemilih harus diutamakan. Kalau yang sudah bertemu, bisa dijadwal ulang nanti.

Hmm, tak mengapakah hal demikian kita dengar?

Tak mengapa memang. Soalnya, ini terjadi tidak setiap hari. Hal ini terjadi hanya lima tahun sekali, ketika musim kampanye ditetapkan oleh KPU boleh dijalankan. Bagi sesiapa yang hendak bercakap-cakap besar di depan pengeras suara, dapat memenuhi syarat terlebih dahulu, baru kemudian pergi ke kampong-kampong untuk berbual besar.

Bila ada yang mendengar, berarti alhamdulillah. Namun bila yang hadir cuma lima enam orang saja, ha ha ha, harap maklum sajalah. Itu tandanya orang kampong tidak berkenan menerima Tuan. Jangan pula dipaksakan. Nanti tak baik ujungnya. Akan lebih baik, dengan berbesar hati, sabar dan ikhlas, berundur segera.

Sayangnya, adakah orang yang mau bersikap seperti ini? Saya kira agak sulit untuk dicari. Bukan mengapa, para pembual yang suka berbual di depan pengeras suara itu akan selalu berpegang teguh pada kata-kata ini, “Kita lihat saja nanti. Kan hasil survei bisa dibeli.”

Bagi saya orang yang tak paham politik, kata-kata ini sangat bertentangan dengan petuah arwah Bapak kami dulu. Dia kata, “Lebih baik kita tumpah setitik dari pada kita tumpah sebelanga.” Maksudnya akan lebih baik kita rugi sedikit dari pada kita rugi banyak. Kan, petunjuknya sudah jelas di depan mata; baru awal-awal berkampanye saja sudah sepi yang hadir, mana kan lagi yang hendak diharap? Pasti akan bertambah sepi.

Tak guna berkilah pada pernyataan, “Kan hasil survei bisa dibeli.”

Siapa pula yang mau memainkan hasil survey bila penduduk di kampong benar yang memiliki kuasa; kuasa suara? Pada tangan merekalah yang nantinya akan menentukan ke mana suara akan diberikan.

Maka janganlah cepat untuk berbual ini itu di tengah orang kampong. Biarkan mereka saja yang bergembira menanti kedatangan Tuan. Bukan Tuan yang bergembira sampai lupa bahwa yang hadir di depan Tuan sebenarnya bergembira karena menerima sumbangan. Sudah ada sumbangan lain yang orang kampong terima sebelum kedatangan Tuan. Atau nanti, menerima pula sumbangan lain dari kedatangan Tuan yang lain lagi. Sampai pada akhirnya, masa kampanye pun selesai.

Nak cakap apa?

Cakap saja yang patut. Jangan orang kampong dicabar mengenai hal ehwal ekonomi makro, hubungan antara produksi dengan pasar, ataupun juga rencana membangun pabrik ini itu, tak akan berguna. Sebabnya orang kampong kini sudah paham betul apa yang ada di depan mata; bila pekerjaan yang diberi, mereka akan senang. Tapi bila “akan” yang diberi, ha, inilah peliknya. “Akan” hanya memberikan angan-angan. Sementara kebutuhan tidak bisa dipenuhi dengan angan-angan. Kebutuhan hanya bisa dipenuhi dengan, 1) sumbangan untuk jangka pendek, 2) pekerjaan untuk jangka panjang.

Tapi ingat, dua hal ini memiliki konteks yang berbeda. Sumbangan untuk menarik peserta hadir di majelis pertemuan saja. Sementara pekerjaan yang jelas-jelas mampu menyediakan sumber pendapatan, mampu membuka jalan bagi terciptanya kesinambungan rezeki, lebih bermanfaat dibanding apa pun. Dan bila hal ini sudah terjadi, in sha Allah, tingkat kesejahteraan penduduk akan berubah.

Untuk itu, sebelum memegang microphone, ingat-ingatlah dulu apa yang hendak dibualkan. Jangan berbual terlalu tinggi, nanti tak tercapai. Dan jangan pula berbual terlalu besar, nanti tak terlaksana. Jadinya malu sendiri dengan orang kampong. Bahkan parahnya lagi, bila musim kampanye telah selesai, masa penghitungan suara sudah selesai, pelantikan pemimpin baru pun sudah selesai, yang merasa tak dapat menunaikan apa yang dibualkan sewaktu kampanye, tak sanggup lagi untuk menginjakkan kaki di kampong. Maklumlah, orang kampong akan melihatnya biasa saja. Diri sendirilah yang merasa tak nyaman. Ha, ingat-ingat petuah.

Membelah belut untuk dijual

Letakkan kecap supaya pedas

Jagalah mulut ketika berbual

Takut terucap yang tak pantas

Instrumennya sudah ada. Jaga mulut. Tahan nafsu. Atas izin Allah, tak akan menjadi orang yang besar bual. Kalau sampai terjadi, berarti itu juga atas izin Allah. Maka perbanyak istigfar. Memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah dilakuan. Melalui pengampunan itu, semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang beruntung. Bukan orang yang merugi.

Mau tahu orang yang beruntung menurut al-Quran?

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Mu’minuun:1-5).

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90).

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah:10). (https://republika.co.id/berita/q2yham430/orang-yang-beruntung-dalam-alquran. Senin, 23 Desember 2019. Diakses Senin, 9 Nopember 2020).

Macam mana? Masih nak besar bual?

Ranai, 23 Rabi’ul Awal 1442/09 November 2020

Biodata Singkat

Ellyzan Katan adalah alumni Universitas Islam Riau Pekanbaru. Menetap dan bekerja di Ranai, Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Bisa dihubungi di tanjakqu@gmail.com.

83 People reacted on this

Leave a Comment