Posted on: 7 January 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 77

Awal tahun yang cerah ini, Natunasastra akan merilis buku, dokumen, artikel yang berhasil diarsipkan. Proses ekspedisi ini sudah berlangsung selama empat tahun sejak awal dibentuknya Natunasastra pada tahun 2016. Namun, karena terbentur dengan berbagai kendala, Natunasastra baru dapat mendata seperti di bawah. Hasil temuan didapat dari berbagai lokasi dan sumber. Jika dilihat memang karangan BM. Syamsuddin lebih dominan terarsipkan. Sekiranya, karya-karya beliau memang banyak didistribusikan. Sehingga kemungkinan untuk ditemukan lebih mudah. Sedangkan karya yang lain, ada yang hanya tersebar setingkat Ranai saja. Beraim Panglima Kasu Barat, Damak dan Jalak, Tun Biajid 1, Tun Biajid 2, dan Pohon Perhimpunan diperoleh dari perpustakaan kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta. Buku-buku ini tidak dalam bentuk asli. Harus difotokopi serupa mungkin agar tidak jauh dari harapan. Lalu ekspedisi di pasar buku bekas Blok M, Jakarta Selatan menghasilkan buku Abdul Kadir Ibrahim, yaitu 66 Menguak Takdir dan Negeri Airmata, Manusia Perahu. Buku-buku yang keluaran terbaru mudah untuk didapatkan. Seperti buku yang memuat cerita rakyat Natuna. Selain ekspedisi di dunia nyata, penulusuran juga dilakukan di berbagai pasar daring yang menjual buku, seperti bukalapak, Facebook dan tokopedia. Hasil dari telusuran itu diperoleh buku Cerita Rakyat dari Natuna, Cerita Rakyat dari Bintan, Cerita Rakyat dari Riau, Cerita Rakyat dari Riau 2, dan Cerita Rakyat dari Batam, Troubled Transit. Kliping cerpend dan puisi karya BM. Syamsuddin diperoleh dari Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin di Taman Ismail Marzuki, Cikini. Lalu ada buku Ilun Anak Natuna karangan Idrus M. Thahar yang ditelusuri awalnya melalui mesin pencari google. Selebihnya didapat dari pemberian orang.

Natunasastra mengkhawatirkan dokumen tersebut akan hilang ditelan zaman. Upaya ini dilakukan untuk membantah keadaan tersebut. Di luar sana masih banyak yang perlu dicari dan disimpan, maka Natunasatra akan terus bergerak untuk mengumpulkan karya dari penulis Natuna ataupun yang menuliskan Natuna.

Tulisan ini juga sebagai awal perkenalan perpustakaan Natunasastra. Sebenarnya, kami lebih suka menyebutnya sebagai Pagubuku Natunasastra. Lembar demi lembar ini akan tersusun bak piring di pagu. Diambil lalu diletakkan kembali. Sama seperti buku, dilepaskan dari rak, dibaca hingga tamat, dan diletakkan kembali dalam keadaan rapi. Menjadi sebuah ekosistim literasi yang ciamik. Pagubuku Natunasastra kelaknya akan menjadi perpustakaan yang menyimpan arsip dokumen sastra Natuna dan dapat dibaca di kemudian hari oleh siapa pun.   

Buku

  1. BM. Syamsuddin. 1984. Beraim Panglima Kasu Barat. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 203 hlm.
  2. BM. Syamsuddin. 1983. Damak dan Jalak. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 364 hlm.
  3. BM. Syamsuddin. 1984. Tun Biajid 1. Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 187 hlm.
  4. BM. Syamsuddin. 1984. Tun Biajid 2. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 215 hlm.
  5. BM. Syamsuddin. 1997, cetakan ke-2. Cerita Rakyat dari Natuna. Jakarta: Grasindo. 54 hlm.
  6. BM. Syamsuddin. 1998, cetakan ke-2. Cerita Rakyat dari Bintan. Jakarta: Grasindo. 62 hlm.
  7. BM. Syamsuddin. 2001, cetakan ke-3. Cerita Rakyat dari Batam. Jakarta: Grasindo. 55 hlm.
  8. BM. Syamsuddin. 2000, cetakan ke-8. Cerita Rakyat dari Riau. Jakarta: Grasindo. 55 hlm.
  9. BM. Syamsuddin. 1999, cetakan ke-3. Cerita Rakyat dari Riau 2. Jakarta: Grasindo. 56 hlm.
  10. BM. Syamsuddin. 2011, cetakan ke-7. Batu Belah Batu Bertangkup: Cerita Rakyat di Kepulauan Siantan. Jakarta: Balai Pustaka. 48 hlm.
  11. Kelompok Kerja DATATIK. 2009. Profil Pendidikan Natuna 2009. Natuna: Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna. 200 hlm.
  12. Wan Tarhusin. 2010. Bunguran Pulau Serindit. Natuna: Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. 46 hlm.
  13. H. Umar Natuna. 2008. Agama Transformasi Sosial: Perspektif Natuna Mas 2020. Natuna: STAI Natuna Press. 178 hlm.
  14. Tan Pajar. 2018. Tolong Beri Judul Sajakku. Yogyakarta: LKIS Pustaka Sastra. 200 hlm.
  15. Abdul Kadir Ibrahim. 2013. Harta Karun (Cerita Anak-anak dan Remaja). Depok: Komodo Books. 208 hlm.
  16. Abdul Kadir Ibrahim. 2013. Karpet Merah Wakil Presiden (Kumpulan Cerita Pendek). Depok: Komodo Books. 168 hlm.
  17. Abdul Kadir Ibrahim. 2013. Tanjung Perempuan (Kumpulan Cerita Pendek). Depok: Komodo Books. 192 hlm.
  18. Abdul Kadir Ibrahim. 2013. Santet Pulau Tujuh (Kumpulan Cerita Pendek). Depok: Komodo Books. 158 hlm.
  19. Abdul Kadir Ibrahim. 2010. Menguak Negeri Airmata: Nadi Hang Tuah. Yogyakarta: Akar Indonesia. 275 hlm.
  20. Abdul Kadir Ibrahim. 2004. Puisi 66 Menguak. Pekanbaru: Unri Press. 75 hlm.
  21. Abdul Kadir Ibrahim. 2004. Negeri Airmata. Pekanbaru: Unri Press. 105 hlm.
  22. Abdul Kadir Ibrahim. 2013. Tanah Air Bahasa Indonesia. Depok: Komodo Books. 280 hlm.
  23. Dian K. 2017. Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi: Legenda Pulau Senua. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer. 32 hlm.
  24. Siti Fatimah Nur Azmah, dkk. 2018. Asa dan Rasa di Perbatasan Indonesia Pulau Natuna. Tangerang: PPM LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 169 hlm.
  25. Lucas Partanda Kustoro, dkk. 2015. Dibalik Peradaban Keramik Natuna. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 78 hlm.
  26. Arie Pujilestari. 2013. Biwar Sang Penakluk Naga. Yogyakarta: Jogja Great! Publisher. 110 hlm.
  27. Peter A. Rohi. 2010. Natuna Kapal Induk Amerika. Jakarta: Adibatama Komunika. 182 hlm.  
  28. Antje Missbach. 2016. Troubled Transit: Politik Indonesia Bagi Para Pencari Suaka. Jakarta: YOI. 348 hlm.
  29. Rido Miduk Sugandi Batubara, dkk. 2013. Manikam Biru di Pagar Nusantara. Jakarta: PT Tempo Inti Media dan KKP RI. 202 hlm.
  30. Henri Chambert-Loir. 2014. Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir dan Kawan-kawan: Lima Belas Karangan tentang Sastra Indonesia Lama. Jakarta: KPG. 398 hlm.
  31. Mustafa. 2014. Adat Istiadat Nikah Kawin Melayu Tempatan Natuna. Natuna: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna. 38 hlm.
  32. Hadisun, dkk. 2017. Tata Cara Nikah Kawin Menurut Adat Istiadat Melayu Natuna dan Kepulauan Riau. Natuna: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna. 95 hlm.
  33. Hadisun, dkk. 2017. Pakaian dan Tata Rias Tradisional Melayu. Natuna: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna. 20 hlm.
  34. H. Idrus M. Thahar. 2011. Tuk Min Mengamuk (Kumpulan Cerita Pendek dan Puisi). Natuna: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. 113 hlm.
  35. Irwan Djamaluddin. Syair, Duit, dan Poli(geli)tik. Yogyakarta: Basma. 114 hlm.
  36. Syamsul Hilal. 2011. Hikayat Dewa Mendu (Cerita Rakyat Natuna). Natuna: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. 120 hlm.
  37. Isye Ismayawati. 2013. Manusia Perahu: Tragedi Kemanusiaan di Pulau Galang. Jakarta: Kompas Media Nusantara. 220 hlm.
  38. Saibansah Dardani. 2015. Tol Laut dari Natuna ke Papua. Jakarta: Persatuan Wartawan Indonesia. 107 hlm.
  39. Bidang Kebudayaan dan Cagar Budaya (penyusun). 2010. Kebudayaan dan Cagar Budaya Kabupaten Natuna. Natuna: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. 95 hlm.
  40. Wan Tarhusin. 2002. Imbas Perang Pasific di Kepualaun Anambas Natuna (Kepulauan Riau). Tanjungpinang: Milaz Grafika. 220 hlm.
  41. Badan Pusat Statistik Kabupaten Natuna.2010. Buku Saku Kabupaten Natuna 2009.  Natuna: BPS Natuna. 114 hlm.
  42. Syamsul Hilal. 2004. Nakhoda Saman Lain (Cerita Rakyat Kabupaten Natuna). Pekanbaru: Unri Press. 107 hlm.
  43. Syamsul Hilal. 2011. Nakhoda Saman Lain (Cerita Rakyat Natuna). Natuna: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Natuna. 106 hlm.
  44. Romi Andika. 2013. Jejak. Yogyakarta: Leutikaprio. 144 hlm.
  45. Ellyzan Katan. 2011. Mimpi-mimpi May. Pekanbaru: Seligi Press. 316 hlm.
  46. Syafaruddin. 2011. Meniti Pucuk Gelombang. Kepulauan Riau: Asosiasi Tradisi Lisan Mayang Kuase Riau Kepulauan. 87 hlm.
  47. H. Tirtayasa. 2010. Dalam Naungan Mukjizat Cinta (Antologi Fiksi Penggugah Jiwa). Bantul: Pustaka Prisma. 490 hlm.
  48. Agusta K. 2014. I Found You in Natuna. Jakarta: Elex Media Komputindo. 180 hlm.
  49. Jamal Rahman Iroth. 2017. Natuna: Ikhtisar Menjaga Perbatasan. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 113 hlm.
  50. Raja Ali Kelana. 1986.  Pohon Perhimpunan: Kisah Perjalanan Raja Ali Kelana ke Pulau Tujuh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  51. Badris Gifari. 2007. Menyongsong Natuna MAS 2020 Bersihkan Natuna dari Maksiat. Natuna: MUI Kabupaten Natuna. 178 hlm.
  52. Muhammad Iqbal, dkk (suntingan). 2013. Saujana Natuna. Batam: Batam Pos. 75 hlm.
  53. Buku Panduan MTQ II Provinsi Kepulauan Riau 2008
  54. Lia Mustafa. 2008. Motif Tikar Kabupaten Natuna. Yogyakarta: Bigraf dan Dekranasda Kabupaten Natuna.
  55. Candra Ibrahim. 2008. Membranding Batam, Menjual Kepri. Batam dan Depok: Forum Graha Pena Batam dan KataKita.
  56. Dhina Arriyana (ed). 2016. Potensi Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan.
  57. Tim Penggerak PKK Kabupaten Natuna POKJA III. 2008. Buku Masakan Natuna. Natuna.
  58. Wan Tarhusin. 2011. Kemaharajaan Melayu Bintan Balik ke Pangkalan Jalan. Tanjungpinang: Milaz Grafika.
  59. Wan Tarhusin. 2012. Kepulauan Natuna Ujung Tanduk Ketahanan Nasional NKRI. Tanjungpinang: Milaz Grafika

Jurnal, penelitian, artikel, diktat, makalah,

  1. Destriyadi. 2019. Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Natuna: Kajian Tradisi Lisan. Universitas Negeri Jakarta. Skripsi.
  2. BM. Syamsuddin. 1995. Dalam Alam Perkembangan Sijori Bahasa dan Sastra Melayu Akan Membersit Memetik Bunga Budaya Daerah. Dialog Selatan II, Pekanbaru, 11-13 Desember. Dewan Kesenian Riau.
  3. Asmui Bakar. 2005. Mengenal Permainan Gasing di Wilayah BKSNT Tanjungpinang. Workshop dan Pameran Tradisional (Permainan Gasing). Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Urusan Tradisi.
  4. Rencana Tata Ruang Wilayah untuk Kebudayaan
  5. Suhartati M. Natsir, dkk. 2012. The Distribution of Benthic Foraminiferal Asseemblages in Serasan Island of Riau Island. Proc Soc Indon Biodiv Intl Conf, Vol. 1,  pp. 113-117, Juli.
  6. Potensi Perikanan Laut Kabupaten Natuna (Printout PPT)
  7. Menggali Potensi Kerjasama ASEAN dengan Mitra Wicara untuk Kebutuhan Pembangunan di Daerah. Seminar. (Printout PPT)

Kliping

  1. Memorandum United States Goverment. 9 Maret 1992.
  2. BM. Syamsuddin. Sajak Oil Well dan Keluh Langkang Kapal Tua. Haluan Padang no. 244 tahun ke XXVI, Selasa, 9 September 1975. Halaman 3.
  3. BM. Syamsuddin. Cerpen Laut Deru Menderu. Harian Riau Post tahun 3 no 211. Selasa, 19 November 1991. Halaman 5.
  4. BM. Syamsuddin. Cerpen Kembali ke Bintan. Harian Riau Post. Selasa, 3 April 1991. Halaman 5.
  5. BM. Syamsuddin. Cerpen Selisung Arus Bersiung. Jakarta: Suara Karya Minggu tahun XXII nomor 1083. Minggu, Oktober 1992. Halaman 11
  6. BM. Syamsuddin. Cerpen Angku Gadang. Jakarta: Merdeka tahun 41 nomor 306861. Minggu, 22 November 1987. Halaman 7
  7. BM. Syamsuddin. Cerpen Gadis Berpalis. Jakarta: Mingguan Kompas tahun 27 nomor 50. Minggu, 18 Agustus 1991. Halaman 10.
  8. BM. Syamsuddin. Cerpen Perempuan Sampan. Jakarta: Kompas tahun 26 nomor 181. Minggu, 30 Desember 1990. Halaman 10
  9. BM. Syamsuddin. Cerpen Cengkeh Pun Berbunga di Natuna. Jakarta: Mingguan Kompas tahun 27 nomor 91. Minggu, 29 September 1991. Halaman 10
  10. BM. Syamsuddin. Cerpen Toako. Jakarta: Mingguan Suara Karya Minggu tahun 20 nomor 996. Minggu 3 Januari 1991. Halaman 2
  11. BM. Syamsuddin. Cerpen Nang Nora. Jakarta: Mingguan Kompas tahun 27 nomor 160. Minggu, 8 Desember 1991. Halaman 10.
  12. BM. Syamsuddin. Cerpen Taikong. Jakarta: Suara Karya tahun 21 nomor 1051. Minggu, 4 Mei 1992. Halaman 2.
  13. BM. Syamsuddin. Cerpen Jiro San, Tak Elok Menangis. Jakarta: Kompas tahun 28 nomor 14. Minggu, 12 Juli 1992. Halaman 2.
  14. BM. Syamsuddin. Cerpen Burung-burung Camar. Jakarta: Suara Karya Minggu tahun 21 nomor 1827. Minggu, 3 September 1992. Halaman 2
  15. BM. Syamsuddin. Cerpen Hanyut. Pekanbaru: Majalah Menyimak. 28 April 1993. Halaman 40-43.
  16. BM. Syamsuddin. Cerpen Kemantan Muda Roh Belian. Jakarta: Kompas. Tahun 29 nomor 297. Minggu, 1 Mei 1994.
  17. BM. Syamsuddin. Cerpen Tok Bandar. Jakarta: Suara Karya tahun 24 nomor 7156. Minggu, 18 September 1994. Halaman 4
  18. BM. Syamsuddin. Cerpen Tarempa. Jakarta: Suara Karya tahun 24 nomor 7212. Minggu, 13 November 1994. Halaman 4
  19. BM. Syamsuddin. Cerpen Bu Guru Rahimah. Jakarta: Kompas tahun 30 nomor 190. Minggu, 8 Januari 1995. Halaman 17.
  20. BM. Syamsuddin. Cerpen Bianglala di Langit Natuna. Jakarta: Suara Karya tahun XXV nomor 7396. Minggu, 28 Mei 1995. Halaman 5.
  21. BM. Syamsuddin. Esai Teater Melayu: Mendu dan Makyong. 25 Agustus 1992
  22. Karen Kartomi Thomas. 2017. Puisi di dalam Teater Indonesia-Melayu: Mendu dalam Kepulauan Riau Indonesia dengan referensi khusus kepada lirik lagu ladun dan nasib.

PDF

  1. H. Idrus M. Thahar. Ilun Anak Natuna. Pekanbaru: Yayasan Sagang Pekanbaru. 152 hlm.

Antologi

  1. Yoana Dianika, dkk.  2017. Indonesia Bercerita: Kisah-kisah Rakyat yang Terlupakan. Tangerang Selatan: Pustaka Alvabet. 532 hlm. (Asal-usul Selat Nasi-Riawani Elyta)
  2. 2016. Kado Istimewa: Cerpen Pilihan Kompas 1992. Jakarta: Kompas Media Nusantara. 156 hlm. (Cengkeh Pun Berbunga di Natuna-BM. Syamsuddin)
  3. Bang Noval, dkk. 2018. Karena Tuhan Mencintai Kita. Jakarta: Bukuloe. 122 hlm. (Hutang Zahra-Bang Noval)
  4. Antologi Cerpen Teater Zat. 2018. Mendu Laut. Yogyakarta: Jual Buku Sastra. 92 hlm. (Mendu Laut-Destriyadi Imam Nuryaddin)
  5. Moh. Zahirul Alim, dkk. 2018. Natunees: Natuna Berkisah. Sleman: Penerbit Deepublish. 162 hlm.
  6. Antologi Cerpen Natuna. 2011. Senandung Rindu Natuna. Serang: GONG Publishing. 150 hlm.
  7. Ilyas Sabli, Chaidir Char, dan JBR Yahya. Membaca Natuna: Puisi Berserapah. 39 hlm.

77 People reacted on this

Leave a Comment