Posted on: 23 December 2019 Posted by: redaksi toknyong Comments: 181

Natunasastra menyadari bahwa Malam Puisi Natuna bukan lagi sekadar malam yang dipenuhi dengan pembacaan puisi. Lebih dari itu, Natunasastra menemukan karya-karya lain di luar bentuk puisi yang patut dan perlu diapresiasi oleh sesiapa pun. Hal itu sudah merambat ke karya seni lainnya. Karya itu lahir dari kreativitas komunitas maupun dari hasil olah individu. Namun, sebuah kekhawatiran muncul kembali. Sampai di manakah karya atau kreativitas mereka dapat diapresiasi dan di manakah tempatnya. Malam Puisi Natuna sekiranya menjadi ruang alternatif yang dapat mereka manfaatkan untuk berbagi ekspresi, menunjukkan potensi, publikasi karya, bahkan orientasi komunitas. Apalagi ruang-ruang yang diharapkan, seingat kami, belum pernah muncul dan intens diadakan.

Akhir tahun dua ribu sembilan belas, Natunasastra tidak ingin menutup dengan sunyi-sunyi hambar di tengah gejolak berkreativitas yang terus berkembang. Ditambah lagi apresiasi dan dukungan yang membuat kami yakin untuk kembali menghadirkan sebuah ruang. Sama seperti sebelumnya, Natunasastra berkolaborasi bersama Natunees dan Kedai Sepertiga Malam melanjutkan hajat kesenian untuk ketiga kalinya, Malam Puisi Natuna: Nyeni Akhir Tahun. Pada akhir tahun ini juga, kami—Natunasastra, Natunees, dan Kedai Sepertiga Malam mengajak seluruh yang hadir merenung kembali selama setahun belakang. Kami menyebutnya sebuah Narasi Refleksi. Refleksi untuk menenangkan pikiran dan berpikiran jernih dan dingin, sebuah pilihan apakah kita akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya atau mempersiapkan sesuatu untuk dapat kita capai di tahun berikutnya.

Beberapa komunitas atau kelompok resmi lainnya berminat hadir dan menampilkan potensi mereka, seperti Forli SMA N 1 Bunguran Timur Laut, Smansa, Lasak Smanda, Forum Anak Natuna, Sanggar Tiara Mayang, Alumni Kemah Pemuda Natuna, Indonesia Mengajar. Ada yang rela datang jauh untuk dapat hadir di Malam Puisi Natuna, seperti Jendela Mimpi dari Kelarik-Bunguran Utara dan Batubi Kids Club dari Batubi-Bunguran Batubi. Mereka menampilkan Pantomim, Musikalisasi Puisi, Syair, Gurindam, Nyanyi, deklamasi puisi. Yang patut diapresiasi juga adalah ketertarikan generasi muda pada seni tradisi masih memiliki harapan, seperti Sanggar Tiara Mayang dengan pasukan anak-anak kecil yang menampilkan ayam sudur, salah satu kesenian tradisi Natuna.  

Kami menyiapkan sebuah halaman biasa menjadi sebuah tempat yang layak disebut panggung. Hanya bermodalkan dinding yang ditempel koran-koran bekas dengan gaya abstrak, peti buah yang sudah keabu-abuan, beberapa belah batang pohon, dan pencahayaan halogen berwarna kuning dengan seala kadarnya. Bantuan sistim suara selalu kami percayakan dengan Indrasyah Musik—tetangga sebelah.

Tidak ada tata cara undangan khusus pada seseorang, tanpa susunan acara yang ala-ala formal, menyamaratakan hadirin, dan membuat malam menjadi bebas dan bahagia. Sekiranya begitulah format acara yang selalu kami pegang untuk membangun kultur kesenian, tanpa otoritas dan politik.

Malam Minggu, 21 Desember 2019. Kali ini kami membuka dengan apa yang sudah disebut sebelumnya, narasi refleksi. Beberapa pasang mata terkejut dan beralih pandang kepada si pembaca narasi. Lalu agenda-agenda kecil lainnya yang terjadi di Malam Puisi Natuna, yaitu setiap orang bebas mengekspresikan rasanya lewat sebuah kanvas. Setiap satu orang boleh membuat selarik puisi, lalu orang yang lain melanjutkan larik selanjutnya. Begitu seterusnya sampai batas kanvas. Selain itu, kami menyediakan stick notes berukuran persegi empat berwarna kuning. Setiap pengunjung yang datang dipersilakan menuliskan kata-kata terbaik untuk ibu, hal ini tak lain sebagai peringatan hari ibu. Kertas tersebut ditempelkan pada salah satu sisi Kedai Sepertiga Malam. Juga, penampilan yang menarik berhasil membawa hadiah lawang (doorprize) dari Natunasastra, Natunees, dan Kedai Sepertiga Malam yang sudah dipersiapkan sebelum acara. Hadiah lawang tersebut berupa buku bacaan anak-anak dan sastra, kopi gratis, dan bingkisan rahasia.

Kami sebenarnya tidak menaruh ekspetasi yang tinggi untuk Malam Puisi Natuna kali ini. Tetapi hajat yang kami suguhkan ternyata mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Sebelum acara dimulai, bangku-bangku sudah sebagian banyak terisi. Lainnya, paling sedikit dua orang dalam sekali datang. Memang kami sudah menyiapkan kursi tambahan, tetapi inisiatif itu ternyata meleset. Kami harus menambah lagi kursi agar pengunjung dapat menikmati setiap penampilan dengan nyaman. Sempat kami khawatir dengan gerimis yang turun, perlahan mulai berhenti dan acara dapat tetap dilanjutkan. Bagusnya, selain penampil yang sudah diatur urutannya, banyak juga waktu yang kami sediakan untuk pengunjung yang spontan mau membacakan puisi-puisinya.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan kami untuk menutup Malam Puisi Natuna dengan menyanyikan lagu wajib nasional, pengunjung yang masih bertahan kami ajak untuk berdiri di panggung. Lampu panggung dimatikan sementara, gelap cahaya digantikan dengan flash lamp dari masing-masing gawai pengunjung. Sambil tubuh bergerak ke kiri-kanan, dengan saksama kami menyatukan suara menyanyikan Indonesia Pusaka. Entah kenapa, penutup ini selalu terasa manis.

Akhirnya kami melakukan cara mengabadikan sebuah momen yang konvensional. Foto bersama. Dan kami katakan, “Sampai jumpa di Malam Puisi Natuna selanjutnya.”

Ranai, 23 Desember 2019

181 People reacted on this

  1. I’ve been browsing on-line more than 3 hours as of late,
    yet I never discovered any attention-grabbing article like
    yours. It is beautiful worth enough for me.

    In my view, if all site owners and bloggers made excellent content
    as you probably did, the internet will probably be much
    more helpful than ever before.

  2. I simply could not depart your website before suggesting that I really loved the standard information an individual supply in your guests?

    Is going to be again frequently in order to investigate cross-check new posts

  3. It is the best time to make a few plans for the future
    and it’s time to be happy. I’ve read this post and if I may just I want to recommend you few fascinating
    issues or tips. Maybe you can write subsequent
    articles relating to this article. I desire to read even more things about
    it!

  4. When I originally commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each
    time a comment is added I get four emails with the same comment.
    Is there any way you can remove me from that service?
    Thanks!

  5. I have been surfing online more than three hours nowadays, but I by no means found any interesting article like
    yours. It’s pretty value sufficient for me.
    Personally, if all site owners and bloggers made good
    content as you did, the web will likely be much more helpful than ever before.

  6. Greetings! I’ve been reading your weblog for a long time now and finally got the
    bravery to go ahead and give you a shout out from Humble Texas!
    Just wanted to mention keep up the good job!

  7. I have been surfing online greater than 3
    hours today, but I never discovered any interesting article like yours.
    It’s pretty value sufficient for me. In my opinion, if all website owners and bloggers made just right content material as you did, the web will
    be a lot more helpful than ever before.

  8. I just now wanted to thank you once more for this amazing website you have designed here. It’s full of ideas for those who are seriously interested in that subject, specifically this very post. Your all amazingly sweet plus thoughtful of others and reading the blog posts is a good delight in my opinion. And what a generous surprise! Jeff and I usually have excitement making use of your guidelines in what we have to do in a month’s time. Our record is a kilometer long which means that your tips will definitely be put to fine use.

Leave a Comment