Posted on: 12 January 2019 Posted by: redaksi toknyong Comments: 1,183

Tak pernah terduga sebelumnya, Prof. Lighty yang berusia tujuh puluhan dalam tahun 1972 itu datang lagi ke rumahku hari ini. Tangan gemetarnya yang dahulu tercecah-cecah menghitung lembaran rupiah tukaran seribu sebanyak seratus lembar sehari, biaya peelitian yang dipercayakan kepadaku, hari ini semakin egoncang-goncang. Gemetar sejadi-jadinya. Senyumnya lesut dan dahinya berkerut. Kepalanya, licin nyaris tidak diukir helaian rambut dua puluh dua tahun silam, saat ini botak mengkilap, sehingga ubun-ubun di pelatar hadapan atas kepala ahli gali-galian perut bumi itu yang turun-naik berdenyut-denyut, kentara benar tampaknya. Bulu masu alias ubanan, terjuntal panjang dan menukik ke bawah, menikam-nikam kelopak matanya tatkala ia berbicara. Pipi cekung sudah tidak begitu bernas, menyatu otot dalam ekspresi wajah bangka begitu renta.

Nature naze,” diulangkannya ucapan yang dahulu menjadi buah bibir, “Natuurno, iyeah alam lingkungan menawan. Menawan dan memendam selaksa makna!”

            Ia berpaling. Menatap tegang ke arah laut membiru. Luasnya saujana mata memandang. Lepas pantai ke tengah Laut Cina Selatan.

            Nature dan Natuurno itu perlambang nilai dan bukan berasal dari dongeng dewa-dewi. Begitu pengertian yang disebut-sebut Prof. Lighty, kewarganegaraan Swiss, Guru Besar di Rotterdam University.

            Dua puluh sembilan tahun pengalamannya menelusuri lekuk karang kerak pantai Asia, sepuluh tahun menyidik bebatuan tebing pantai karang Borneo tersisa waktu setahun pada Common Facilities Agip-Conoco Natuna Base Came

Iyeh, archipelago generale italiano petroleum,” dia bergumam “Confinental Oil Company.”

            Diulang-ulangkannya berkali-kali, lancar lidahnya tanpa gagap berpengaruh usia tua dan memang sudah cukup renta. Ahli geologi tersoho itu menghirup napas. Ia dihanuykan kenangan lama, membayangkan rekan-rekan, teman sejawat semasa di Natuna Base Camp seperlima abad silam.

“Pitoy demam panas dan meninggal dunia dalam perjalanan pulang ke Jakarta,” ia menggeleng-geleng. Ajal merenggutnya di bandara Kijang Pulau Bintan. “Oh, God, ampuni dia!”

            “Profesor!” Kusadarkan dia, jangan berhanyut dalam lautan kenangan mahaluas, tidak terbatas.

            “Tuan begitu lemah, kulihat penat sekali. Istirahatlah, silakan,” pintaku.

            “Waw! Engkau seperti tidak pernah kenal tabiatku. Ia memandang ditatapnya aku dalam-dalam, lembut, sebentar kemudian menyala dan berapi-api. Berkaca-kaca matanya.

            “Itu baru Pitoy kukenang. Belum lagi Van Haam korban laut ganas lepas pantai Natuna. Korban jatuhnya helly jenis Wessex yeah! Mereka, penghuni Natuna Base Camp akrab kita. Wow, lagi-lagi aku teringat d’larryo Al Fonso terserang disentri.”

            “Tapi hasil penelitian Tuan, bukankah berhasil?”

Wow!

Camar melayang-layang di karang pantai, seakan meniti-niti pasir putih pantai, Ramai. Ciak-miak suaranya, “Cekikik … kiak, Ceki-kik … kiak-kiak, kiak…” nun, kedengarannya sampai jauh.

            Nature Naze atau juga natuurno itu nama pulau dalam sebuah gugus, menjadi perlambang kesejahteraan yang makmur. Delapan puluh ribu jiwa di lingkungannya, dua puluh delapan jiwa dalam perut bumi itu sendiri. Dan dua ratus jiwa juga tak terlepas harap.

            “Yeah, masih ada kesetiaanmu, Syam. Seperti dulu-dulu menjadi seorang sahabat penyimpan rahasia alami?” tiba-tiba Prof. Lighty menepuk pundakku, “Yeah, Syam?”

            “Oh, Nur Lela yang pegawai pantai Tuan puji-puji seperlima abad silam.” Gugup, disertai rasa haru kutatap wajah geolog berusia lima tahun lagi satu abad. Perasaan belas, mengharu-birukan suasana.

            “Dia?”

            “Ya!”

Ehm ….,” tangan dahulu gemetar, sekarang semakin gemetar menepis-nepis angin seakan nyamuk agas meriau di muka hidungnya.

            “Ada apa Nur Lela engkau sebut-sebut? Padahal aku sudah lama melupakan dia, perawan pencari remis di pasir putih. Gadis molek tubuh semampai, terurai halus rambutnya, sayu pandangan matanya yang ku reguk rasa syahdu. Ehm, benar-benar aku jadi teringat padanya.”

            “Masih tersimpan rasa cinta di hati insani, pada Tuan serenta ini Profesor?” Gelagapan dan jantungku berdebar-debar. Rasa belas kasihan dan cemburu, ulai bersarang. Luar biasa pikiranku sendiri jadi kacau-balau

            “Rasa cinta insani, tidak terbatas usia. Mungkin liang lahat juga bukan pembatas.“ Prof. Lighty memainkan senyum khas bibir tuanya, setelah mengingat-ingat dia berpantun gaya Melayu yang dahulu pernah dihafalnya.

Namanya tua patik lelah jauhara

Terlalu kaya di dalam petara

Budinya baik sempurna

Bicara sekalian dagang kasih dan mesra.”

            Ia mengakhiri pantun beragi syair itu seraya menyisipkan mata, “Ehm, aku pernah baca syair Bidasari dari buku studimu, Syam. Ehm, di pendidikan guru bahasa dan sastra, bukan?”

            “Ya, tapi apa sangkut-pautnya? Syair Bidasari, Nur Lela dan Natuna dari makna natuurno natuze naza

            “Sama-sama mengandung rahasia alam.” Sahut sang geolog agak parau, “Yeah rahasia alam terpendam cukup dalam.”

            “Aku jadi cemburu, Profesor!”

            “Waw!”

            Memang terlalu sukar menapak sesuatu yang tersembunyi dalam dada Profesor Lighty, apalagi yang sedang berkelemayar dalam pandangannya, pandangan yang menghanyutkan kita ke lautan pikir mahapekat. Seperti dahulu kedatangannya dengan tangan gemetar, berjalan bertatah-tatah, tiba-tiba melemparkan kepercayaannya luar biasa kepadaku. Padahal, baru berkenalan sehari saja.

            Setengah tahun bergaul, baru tersibak makna sebuah rahasia penelitian bebatuan karang laut. Terungkap data cekung-lembah relung dasar samudra Lautan Cina Selatan, pantai Asia berlubuk di Natuna. Natuurno… natuze naze.

            “Syam,” katanya dahulu, seperlima abad silam seraya berbisik, “Sumur minyak dan gas bumi dinegerimu, ehm, seandainya lingkungan ini sebuah stroomking atau lampu pompa!”

            Sementara ahli geolog terkemuka dengan setumpuk pengalam di karang Asia itu asyik melepaskan pandangannya, ke lautan lepas, aku pun mengingat-ingat apa yang pernah dibicarakannya seperlima abad telah lalu.

            “Jika gas terpompa, desakannya ke atas mencuatkan minyak. Yeak, sumur minyak yang terletak di atas terbis karang tertinggi semakin berkurang ketimbang sumur kaki terbis itu. beruntung sumua minyak lepas pantai Natuna sendiri terletak di bawah. Tetapi Syam… perubahan sosial ASEAN akan terjadi, yakni kekeringan di batas pantai Borneo bagian Barat. Ini rahasia, Syam!”

            Sangat terngiang-ngiang, suara Prof. Lighty dahulu, dan pada saat bersamaan geolog asal Swiss berusia 95 tahun ini sekarang ke rumahku. Datang kembali,, setelah dua puluh dua tahun berpisah jauh, dalam ramalanku selama itu dia sudah berpulang ke alam baka.

            Nur Lela semampai beranak empat kini masih sebagaimana biasanya dahulu mengikis-ngikis pasir pantai dengan termpurung kelapa, mencari remis. Karang kecil berwarna seputih pasir menepung itu, dipungut sejumput demi sejumput. Dahulu sendirian di pantai, hari ini berlima. Kadir yang sulung, kisah anak tengah, Usman putra muda, dan si bungsu Siti Utami berusia enam tahun.

            “Dua puluh tahun dahulu di pantai ini, semasa emak menggadis,” Nur Lela membungkuk mengambil remis dua-tiga ekor dari sibakan pasir digali putra-putrinya pasir seraya berkata lagi “Ehm, sepuluh depa pasir pantai dijalani dengan remis sekeranjang penuh. Kini kita telah menyibak pasir beratus-ratus depa, payah terkumpul senang di rumahku. Natuna sebagai kampung keduanya di dunia setelah Eropa. “Nur Lela menunduk. Kemudian diangkatnya wajahnya, memandang lurus bersama tatapanku, ke lepas Pantai Natuna. Seakan di sana terbang hayat terakhir Profesor Lighty sehingga berbendang-bendang bianglala merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan lembayung. Laut Natuna ada kemungkinan kehabisan habitat, tertitik sebuah kemilau warna bianglala gas bermega-mega ton, berkadar teknologi serba rumit

Sumber: Horison Sastra Indonesia 2, Kitab Cerpen, 2002

Karya: B. M. Syamsuddin

https://books.google.co.id/books?id=8Xelzog01nAC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=true

1,183 People reacted on this

  1. I wanted to thank you for this wonderful read!!
    I certainly enjoyed every little bit of it.
    I have you bookmarked to look at new stuff you post…