Posted on: 15 December 2018 Posted by: redaksi toknyong Comments: 63

Pada malam itu 5 sahabat sedang berkumpul di dalam rumah yang mewah dan besar. Mereka sedang membicarakan tentang rumah kosong dan misterius yang terletak tidak jauh dari rumah itu.

“Apa kalian tahu rumah kosong yang berada di daerah sini?” Tanya Bima

“Tahu, memangnya kenapa?” Jawab Andi

“Dengar-dengar, rumah itu berhantu. Sudah lama sekali rumah itu tidak berpenghuni. Katanya sih banyak hal-hal misterius gitu” Jelas Ferel

“Nah, Sepertinya menarik tuh untuk dikunjungi. Bagaimana kalau malam besok kita ke sana. Siapa tahu kita bisa memecahkan misteri di sana? Apa kalian setuju?” Kata Bima

“Aku sih setuju-setuju aja, yang lain bagaimana?” Kata Andi

“Aku juga setuju. Asal ada makanan, hehe” Ucap Raihan sambil memakan keripik kentang pedas kesukaannya

“Ah, kalian saja. Aku tidak ikut” Kata Rifi

Yaelah, begitu saja takut. Pokoknya kamu harus ikut” Kata Bima sambil mengejek Rifi

“Tapi….” Kata Rifi sambil menundukkan kepala

Gak ada tapi-tapian, pokoknya semua harus ikut” Sambung Bima

“Huh, iya deh” Jawab Rifi dengan pasrah

“Baiklah, kita kumpul di rumah aku saja. Jam 20:00 kalian sudah harus berada di rumahku” Ucap Andi

Bima, Ferel, Raihan, Rifi: “Baiklah”

Hari yang ditunggu pun tiba. Tepat pukul 20:00 semuanya sudah lengkap, mereka membawa peralatan masing-masing. Termasuk Raihan yang tidak lupa membawa keripik kentang pedas kesukaannya.

“Baiklah. Sebelum kita berangkat, periksa kembali peralatan kalian, takut ada yang ketinggalan” Ucap Andi

Sambil mengecek peralatan. Tiba tiba ada seorang pria menghampiri mereka berlima.

“Kalian ingin pergi ke mana?” Tanya pria tersebut

“Eh Papa, kami ingin pergi jalan jalan, Pa, cari angin” Jawab Andi

“Iya, Om” Tambah Bima, Ferel, Rifi, dan Raihan

“Ya sudah, ingat! Jangan pulang larut malam” Tambah papa Andi

“Siap….” Jawab kelima sahabat itu dengan lantang

“Ya sudah, ayo kita berangkat” Ajak Andi dengan semangat

Bima, Ferel, Raihan, Rifi: “Ayo”

Sesampainya mereka di depan pintu gerbang rumah kosong tersebut.

“Siapa duluan yang masuk?” Tanya Rifi

“Biar aku duluan yang masuk” Jawab Andi

Dengan membuka pintu gerbang tersebut. Andi mulai menghidupkan senter miliknya dan mulai memasuki halaman rumah kosong tersebut. Diikuti teman-temannya dari belakang.

“Seram banget rumahnya” Lirih Rifi

“Santai aja” Cetus Ferel

Setibanya di depan pintu. Mereka pun mulai membuka pintu itu dan masuk ke dalam rumah kosong tersebut.

“Yah, senter aku mati nih” Ucap Bima

“Tenang, aku ada bawa senter cadangan” Ucap Ferel sambil mengambil senter tersebut dan memberikannya kepada Bima.

“Baiklah, ayo kita lanjutkan lagi” Ajak Andi

Belum sampai setengah perjalanan. Tiba tiba

#pranggg……

“Suara apa itu?” Tanya Rifi dengan rasa penuh ketakutan

“Seperti suara piring jatuh” Gumam Ferel

“Ya benar. Tapi dari mana asalnya?” Ucap Raihan sambil memakan keripik kentang pedas

“Mungkin saja itu ulah tikus. Sudahlah itu tidak penting. Ayo kita telusuri lagi tempat  ini” Ucap Bima sok berani

Mereka berjalan kembali. Belum lama mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba serasa ada yang mengikuti mereka.

“Seperti ada yang mengikuti kita” Kata Andi sambil menoleh ke belakang

“Ah, kamu jangan nakut-nakuti aku dong, Ndi” Ucap Rifi ketakutan

“Aku tidak menakut-nakutimu… Diam, suaranya semakin dekat” Sambil berkata setengah berbisik

Orang misterius itu semakin dekat dan semakin sangat dekat, hingga di dekat mereka. Setelah semakin dekat dari mereka orang misterius itu muncul dari balik kabut dan orang itu berkata pada mereka.

“Ngapain kalian datang kesini?”

Bima, Andi, Ferel, Rifi, Raihan: “Aaaaaaaaaa”

“Siapa kau?” Tanya Andi

“Aku Bambang. Penjaga rumah ini. Ada perlu apa kalian datang ke sini?” Jawab Pak Bambang dengan tatapan tajam

“Begini, Pak. Kami datang ke sini untuk memecahkan misteri yang ada di rumah ini. Warga sekitar menjadi resah karena rumah ini. Banyak warga mengatakan rumah ini berhantu. Jadi kami datang ke sini untuk memastikan apakah yang dikatakan warga benar atau tidak” Jelas Bima

 “Sudah, sudah. Kalian masih bocah, tidak tahu apa-apa. Lebih baik kalian berlima pergi dari sini. CEPAT!!!” Bentak Pak Bambang

“Memangnya kenapa? Mengapa bapak jadi marah-marah seperti itu?” Ucap Ferel heran

“Apa kalian tidak dengar? Cepat keluar dari sini!” Bentak Pak Bambang sekali lagi

Andi dan ke empat sahabatnya pun keluar dengan perasaan kecewa. Menuruti perkataan Pak Bambang. Mereka berhenti di depan pintu gerbang rumah itu.

“Aku heran dengan bapak itu. Mengapa dia mengusir kita? Padahalkan niat kita baik” Kata Bima

“Sudah aku bilang ‘kan? Jangan ke sana! Kalian saja yang pada ngeyel” Gerutu Rifi

“Diam kamu, Rifi! Aku tahu kamu penakut” Ejek Ferel

Andi berusaha menengahi mereka.

“Sudah, tidak ada gunanya kalian berdebat. Kalau begitu kita akan kembali lagi nanti. Lebih baik kita pulang ke rumah masing-masing. Karena besok kita masih akan sekolah. Kita melanjutkannya nanti saja, minggu depan”

“Hah.. Harus dilanjutkan ya? Sudah ah, lebih baik kita cari kegiatan lain saja” Kata Rifi

“Aku setuju dengan Andi. Lagi pula minggu depan kan tanggal merah dan kebetulan sekali itu malam jumat. Jadi petualangan kita akan lebih menegangkan” Kata Ferel bersemangat

“Ya, aku setuju. Asalkan ada makanan, hehe” Ucap Raihan

“Kamu ini Raihan, makanan aja yang dipikirin” Kata Bima

“Huh, baiklah aku ikut saja. Sudah, aku sudah ngantuk banget. Ayo kita pulang” Ucap Rifi sambil menguap

Mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya. Di SMP Cendrawasih, anak anak kelas 9 sedang berkumpul di kantin. Termasuk Bima, Andi, Raihan, Ferel, dan Rifi. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.

“Aku curiga dengan bapak yang kemarin malam itu” Ucap Andi

“Ya, aku juga. Apa mungkin Pak Bambang itu ada hubungannya dengan misteri yang ada di rumah itu?” Jawab Bima

“Hm… Bisa jadi sih” Kata Ferel sambil memegang dagu

“Ya. Wajah bapak itu juga cukup menakutkan” Celoteh Raihan dengan mulut penuh makanan

“Hei Raihan, habiskan dulu makananmu itu. Lihat, makananmu itu muncrat ke aku tahu” Ucap Rifi geram

“Tahu nih, Raihan” Tambah Bima

“Hehe, maaf aku tidak sengaja” Kata Raihan sambil menghabiskan makanannya

#Treenggg…..

Bel masuk pun berbunyi. Masing-masing anak kelas 9 masuk ke kelas mereka.

“Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti setelah pulang sekolah” Kata Andi

Raihan, Ferel, Rifi, Bima: “Baiklah”

#Treenggg…..

Bel pulang pun berbunyi. Semua anak-anak pun keluar kelas dengan tertib dan teratur. Termasuk kelima sahabat petualang tersebut. Namun kali ini mereka hanya bertiga. Dikarenakan Ferel dan Raihan sekarang ada jadwal piket. Jadi, Andi, Bima, & Rifi pun harus pulang lebih awal dibanding Ferel dan Raihan.

Mereka bertiga pulang sekolah bersama-sama. Kebetulan rumah mereka satu arah, jadi mereka bisa pulang bersama-sama. Dan juga untuk pulang sekolah mereka harus melewati rumah misterius itu.

“Aku masih penasaran dengan bapak yang kemarin itu. Kenapa saat kita bilang kita akan memecahkan misteri di sana bapak itu langsung marah-marah? Apa ada kaitannya bapak itu denga rumah misterius tersebut?” Kata Bima sambil mengernyitkan dahinya

“Ya. Aku rasa juga begitu. Tapi mau bagaimana lagi? Bapak itu sudah tahu maksud tujuan kita. Jadi kita harus lebih berhati-hati lagi” Sambung Andi

“Sudahlah, lebih baik kita batalkan saja niat kita untuk memecahkan misteri di sana. Karena itu berbahaya” Kata Rifi

“Sudahlah Rifi. Aku sudah bosan dengan kata-katamu itu!!!” Bentak Bima kepada Rifi

Tidak terasa. Setengah perjalanan pun sudah mereka lalui. Kali ini mereka sudah berada di depan jalan rumah kosong & misterius itu. Dan mereka berhenti di depan gerbang rumah tersebut.

“Hi, lihat rumah itu. Sangat menakutkan bukan? Apa kalian tidak ada rasa takut sama sekali?” Kata Rifi sambil melihat ke arah rumah tersebut

“Tidak. Aku tidak takut sama sekali. Karena aku sangat suka dengan hal-hal mistis. Jadi aku tidak terlalu mempedulikannya. Sudahlah Rifi aku tahu kamu itu penakut” Kata Bima sambil mengejeknya

“Huh.. Kamu selalu saja mengejekku penakut” Kata Rifi dengan nada kesal

“Memang benar ‘kan kamu penakut? Wee” Ejek Bima sambil menjulurkan lidahnya

“Pssttt… Diam! Lihat ke atas. Kalian lihat bayangan yang ada di jendela itu?” Kata Andi sambil menunjuk kearah jendel atas rumah kosong yang setengah tertutup

“Ya, aku melihatnya. Lalu kenapa?” Kata Bima kebingungan

“Di sana terlihat ada dua bayangan, yang pastinya itu bayangan manusia. Warga bilang rumah itu berhantu. Lantas kenapa ada orang yang berani masuk ke sana?” Jawab Andi

“Mungkin mereka penjaga rumah itu. Mereka sedang mengelilingi rumah itu” Kata Bima

“Ya mungkin saja. Bisa jadi itu penjaga rumah tersebut. Mereka berdiam diri cukup lama. Mencurigakan sekali” Kata Andi

Tiba-tiba kedua orang itu menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sangat tajam.

“Orang itu menatap kita. Bersikaplah sewajarnya Karena bisa saja mereka mencurigai kita” Kata Andi dengan nada setengah berbisik.

“Ya. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Perasaanku tidak enak” Kata Rifi dengan nada ketakutan

“Ayo” Ucap Andi & Bima serentak

Seminggu pun berlalu. Hari yang mereka tunggu-tunggu pun tiba. Di depan rumah Andi, kelima sahabat itu sedang berkumpul menyusun rencana

“Ayo waktunya kita berangkat” Ajak Bima

“Tunggu! Sebelum kita berangkat, periksa kembali  peralatan kalian” Ucap Andi.

Mereka berlima pun kembali periksa tas milik mereka. Dan tidak berapa lama, semuanya pun sudah selesai meriksa tas mereka.

“Sebelum kita berangkat. Alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa mulai” Pimpin Ferel

“Berdoa selesai” Ucap Ferel

“Ayo, waktunya kita berangkat” Kata Andi sambil mengomando keempat sahabatnya

“Ayo..” Ucap Raihan, Ferel, Bima, & Rifi serentak

Mereka pun berangkat ke rumah misterius yang berada tidak jauh dari rumah Andi. Di tengah perjalanan, ke lima sahabat itu berbincang-bincang.

“Makananmu tidak lupa dibawa ‘kan, Han?” Tanya Bima sambil meledek Raihan

“Tidak dong.. Aku membawa 8 bungkus keripik kentang pedas kesukaanku dan 5 Susu UHT” Jawab Raihan sambil mengambil satu bungkus makanan miliknya.

Dan tidak berapa lama. Mereka berlima pun sampai di depan pintu gerbang rumah misterius tersebut. Keadaan rumah itu sangat menyeramkan. Di depannya terdapat pohon beringin tua yang masih berdiri kukuh. Rumah tersebut dipenuhi dengan sarang laba-laba dan tikus. Kayu di rumah tersebut juga sudah ada yang rapuh. Bahkan kacanya juga sudah ada yang pecah.

“Ayo kita masuk” Kata Andi mengawali pembicaraan

Mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut dengan sangat hati-hati. Hingga tiba di depan pintu rumah itu. Andi memimpin perjalanan.

Mereka mulai memasuki ruang tamu rumah itu. Debu dan sarang laba-laba di mana-mana. Kabut mulai bermunculan.

“Hi.. Kabutnya sudah bermunculan. Kabut ini menambah suasana semakin seram ya” Kata Rifi

“Sudahlah, abaikan saja. Ayo kita lanjutkan lagi” Ucap Andi

Mereka pun kembali melanjutkan penelusuran. Dan mereka pun tiba di lantai atas.

“Eh, aku kebelet banget nih” Ucap Rifi

“Ya sudah, sana gih ke toilet” Kata Andi

“Ah kamu, Ndi. Seperti tidak tahu Rifi saja. Dia mana berani pergi sendiri” Cetus Bima

“Hehe…” Tawa Rifi

“Han, kamu temani Rifi gih” Ucap Andi sambil menyuruh Raihan menemani Rifi

“Ya sudah, ayo Rif” Ajak Rifi

“Tapi, toiletnya di mana?” Tanya Rifi

“Coba kamu ke lantai bawah, kalau tidak salah aku tadi ada seperti toilet  gitu. Di dekat kursi panjang” Jawab Ferel

“Baiklah” Ucap Rifi

Rifi & Raihan pun kembali ke lantai utama. Setibanya di lantai bawah.

“Eh, Han. Toiletnya di mana sih?” Tanya Rifi

“Itu tuh, Rif” Sambil menunjuk ke arah pintu yang sudah rusak

“Oh iya. Han, kamu tunggu di depan pintu ya” Ucap Rifi

“Baiklah” Kata Raihan sambil memakan keripik kentang pedas yang sudah hampir habis.

Tidak berapa lama. Tiba-tiba Rifi mendengar suara teriakan dari Raihan. Dan Rifi pun langsung bergegas menemui Raihan. Tetapi Rifi tidak menemui Raihan. Rifi hanya menemui senter dan bungkus makanan milik Raihan.

“Raihan….” Teriak Rifi memanggil Raihan

“Raihan…… Kamu di mana” Teriak Rifi sekali lagi

Tetapi tidak ada jawaban dari Raihan. Dengan penuh rasa takut. Rifi pun langsung bergegas menemui tiga sahabatnya.

“Kamu kenapa, Rif?” Tanya Ferel

“Loh, kok kamu sendirian? Raihan di mana?” Tambah Bima

“Raihan hilang” Jawab Rifi ngos-ngosan

“HAH? Kok bisa?” Ucap Andi, Ferel, dan Bima terkejut

“Iya, tadikan aku ke toilet, aku menyuruh Raihan tunggu di depan  pintu toilet. Tapi tiba-tiba aku mendengar Raihan teriak. Setelah aku keluar aku tidak menemui Raihan tapi aku hanya menemui senter dan bungkus makanan miliknya” Jelas Rifi

“Ya sudah, ayo kita cari Raihan” Ajak Andi

Mereka berempat pun langsung bergegas menuju ke lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah,

“Lebih baik kita berpencar aja. Aku sama Bima. Rifi sama Ferel. Dan kita berkumpul lagi di sini. Oke” Kata Andi

“Oke” Ucap Ferel, Bima, dan Rifi serentak.

Tidak berapa lama. Mereka pun berkumpul ke tempat semula.

“Aku dan Bima tidak menemukan Raihan. Kalian bagaimana?” Tanya Andi

“Aku dan Rifi juga tidak menemukan Raihan” Jawab Ferel

“Lalu bagaimana nih? Mau cari ke mana lagi si Raihan?” Tanya Bima

Di tengah percakapan mereka. Tiba-tiba.

“Ngapain kalian kesini? Bukannya minggu lalu aku sudah melarang kalian pergi ke sini?” Tanya Pak Bambang

“Kami hanya ingin mencari teman kami yang hilang di sini, Pak?” Jawab Andi

“I,iya pak” Tambah Rifi dengan nada ketakutan

“Itu akibatnya kalau kalian tidak mendengarkan aku” Kata Pak Bambang dengan nada tinggi

“Maafin kami, Pak, kami salah. Kami hanya ingin memecahkan misteri yang ada di rumah ini, Pak” Ucap Bima

“Ya sudah. Lebih baik kalian cepat pergi dari sini!” Perintah Pak Bambang

“Tapi bagimana dengan teman kami yang hilang?” Tanya Andi

“Teman kalian ada di luar. Lebih baik kalian cepat keluar dari sini. Jika tidak, kalian akan menanggung akibatnya” Kata Pak Bambang

“Baik, Pak” Ucap Andi, Rifi, Bima, dan Ferel serentak

Sesampainya di luar rumah tersebut. Andi, Rifi, Bima, dan Ferel melihat Raihan terbaring di dekat bawah pohon yang besar. Mereka berempat pun langsung bergegas pergi ke Raihan. Sesampainya di dekat Raihan.

“Han, bangun, Han, bangun..” Kata Rifi sambil menggoyangkan badan Raihan.

Raihan pun terbangun dari pingsannya.

“Han, kok kamu bisa sampai di sini?” Tanya Andi

“Tadi ada dua orang pria yang mendekatiku dan langsung memukul belakangku” Jawab Raihan sambil memegang pundaknya yang sakit

“Ya sudah, yang penting kita selamat” Ucap Ferel

Di tengah percakapan mereka. Tiba-tiba.

“Memangnya, ada perlu apa kalian berlima datang kemari?” Tanya Pak Babambang sambil duduk di sebelah Bima

“Sebenarnya kami datang ke sini untuk memecahkan misteri yang ada di rumah ini” Jawab Andi

“Memangnya kenapa kalian begitu ingin memecahkan misteri tersebut?” Tanya Pak Bambang lagi

“Para warga risih dengan rumah ini. Mereka mengatakan bahwa di rumah ini banyak sekali hal-hal yang mistis. Dan warga mengatakan bahwa rumah ini berhantu. Nah, di situ kami berlima penasaran dengan apa yang dikatakan para warga tentang rumah ini. Kami berlima memutuskan untuk menelusuri rumah ini” Jelas Ferel

“Oh begitu, sebenarnya rumah ini tidak berhantu. Rumah ini sebenarnya peninggalan keluarga yang sangat baik hati dan ramah. Tapi ada keluarga lain yang tidak senang dengan mereka. Keluarga itu membuat keluarga yang sangat baik hati dan ramah tersebut menjadi tidak waras. Lama kelamaan keluarga yang damai dan tentram itu pun menjadi gila dan akhirnya meninggal dunia. Sebelum meninggal kepala keluarga tersebut mengatakan kepada aku kalau mereka tidak akan pernah dendam kepada keluarga yang sudah membuat mereka menjadi seperti ini. Kepala keluarga tersebut pun mengasih amanah kepada aku untuk tetap menjaga dan merawat rumah ini. Dan setelah berbicara seperti itu. Akhirnya keluarga yang sangat baik dan ramah itu pun meninggal. Karena sudah tidak pernah di huni lagi membuat rumah keluarga tersebut menjadi kusam dan terlihat seperti sarang hantu. Tetapi rumah ini sama sekali tidak berhantu” Jelas Pak Bambang kepada kelima sahabat tersebut

“Oh, jadi begitu ceritanya. Sekarang kami jadi tahu tentang kisah rumah ini. Terima kasih Pak Bambang telah menceritakan kisah dari rumah ini” Ucap Andi mewakili ke empat sahabatnya

“Ya sudah, sekarang sudah sangat larut malam. Lebih baik kalian pulang saja” Ucap Pak Bambang

“Baik pak” Kata mereka berlima

Akhirnya, Andi dan keempat temannya pun langsung bergegas pulang kerumah mereka masing-masing. Rumah tersebut pun sudah tidak meresahkan warga sekitar.

 

63 People reacted on this

Leave a Comment