Posted on: 8 December 2018 Posted by: redaksi toknyong Comments: 8

Pagi ini ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bunda yang tak biasa membangunkanku, pagi ini bunda membangunkanku dengan penuh perasaan. Entah ada hal apa yang membuat bunda mau membangunkanku.

“Linda… Linda… Sayang… Bangun sayang sudah subuh.” Panggil bunda sambil mengelus-elus ubun-ubunku. Pelan-pelan ku buka mata ini namun, apa daya mataku  yang masih lengket  seperti lem yang menempel dikertas. Aku hanya menganggukan kepala.

“Linda… Jangan lupa sholat subuh ya, terus jangan lupa berkemas hari ini kamu sekolah kan?” Tanya bunda kepadaku

“Hari ini Linda libur bun.”

“Loh kok bisa, memang ada acara apa?”Tanya bunda heran

“Guru lagi ada acara katanya bun, jadi siswa/siswi diliburkan.”

“Oooh.. Seperti itu.. Ya sudah cepat berkemas sana jangan lupa sholat dulu!”

“Iya bunda iya..”

       Dengan perasaan malas aku turun dari kasurku yang empuk. Sebenarnya aku masih ingin baring diatas kasurku yang empuk, tapi bunda sudah menyuruhku bangun.

     Setelah selesai sholat dan berkemas, tiba-tiba aku merasa seperti mencium bau masakan bintang lima. Hidungku terasa tertusuk oleh bau itu, bau itu benar-benar menusuk indra penciumanku. Perlahan ku buka pintu kamar, hidungku yang masih penasaran dengan bau itu, terus mengendus dan berjalan menuju arah dimana bau itu berasal. Ternyata bau itu berasal dari dapur. Bunda yang melihatku mengendus-ngendus seperti kucing langsung memanggilku.

“Linda!! Kamu nagapin ngendus-ngendus seperti kucing?”Tanya bunda sambil menggelengkan kepala melihat tingkahku.

“Hehehe.. Linda penasaran bau ini dari tadi bunda”Jawabku sambil meringis karena malu.

“Bau ini yang kamu maksud?”Tanya bunda dengan menyodorkan sepiring opor ayam

“Waaah.. tumben bunda masak opor ayam pagi-pagi gini?”

“Iya, soalnya ayah ngajak teman kerja buat sarapan dirumah. Makanya bunda masak opor ayam.”

“Pantesan… Dari tadi Linda cium bau masakan bintang lima, sampai nusuk hidung hehe.”

“Huss.. Ngejek bunda ya. Udah sana panggil ayah suruh kedapur sambil nunggu teman kerjanya datang.”

“Baik bunda..” Jawabku sambil memberikan hormat kepada bunda seperti sedang upacara bendera. Bunda yang melihatku bertingkah konyol hanya tersenyum menunjukan gigi kelincinya. Sampai didepan pintu kamar ayah akupun mengetuk pintu. Tok..tok..tok..

“Ayah.. Ayah.. Sudah bangun belum?”Panggilku diluar pintu kamar ayah.”

 “Iya ayah sudah bangun, sebentar ayah sedang mengemas barang-barang yang mau dibawa kekantor.”

“Oke ayah linda tunggu dimeja makan ya.”

“Iya.. Iya..”Jawab ayah

     Tinn…Tinn..Tinn.. Bunda yang mendengar suara klakson mobil langsung menyuruhku untuk membukakan  pintu. Waktu pintu kubuka, aku seakan melihat Gatot Kaca. Sampai-sampai aku melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut karena sangking herannya. Melihat tingkahku yang aneh bapak itu pun bertanya,

“Anaknya pak Broto ya?

“Ehh.. Iya om silahkan masuk. Ayah sudah nunggu di meja makan.”

     Di meja makan, bunda sudah menyiapkan segalanya. Meja makan hari ini terasa ada yang lain seperti ada yang lebih. Selesai sarapan ayah bersiap pergi kekantor bersama tema kerjanya. Tapi gak tau kenapa ayah tiba-tiba memanggilku.

“Linda, kata bunda hari ini kamu libur ya?”

“Eh iya ayah hari ini Linda libur, ada apa ya?

“Wah kebetulan, yuk ikut kekantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat ayah bekerja. Ayah mau mengajarkan kamu tentang pekerjaan ayah disana.”

“Wah keren… oke ayah Linda mau ikut.”

     Hari ini aku benar-benar bersemangat, padahal hari ini hari libur buatku. Mungkin karena mendengar ayah mau mengajari aku tentang  pekerjaannya sebagai pegawai Bea Cukai. Aku benar-benar merasa ada energi yang besar masuk dalam diriku. Sesampainya dikantor aku diajak keruangan ayah. Diruangan ayah begitu banyak berkas dan buku-buku yang tidak aku tahu apa isi semua berkas dan buku-buku yang ada diruangan ayah. Aku bingung mau mengerjakan apa jadi, aku cuma melihat-lihat saja. Tiba-tiba ayah memanggilku.

“Linda.. Sini sayang duduk dulu”

“Iya ayah.” Jawabku sambil melangkah mendekati ayah.

“Linda.. Kamu kenapa cuma lihat-lihat saja?”Tanya ayah heran

“Tidak apa-apa ayah, Linda cuma bingung mau baca yang mana.”Jawabku sambil menggaruk-garuk kepalaku karena bingung.

“Mau denger cerita ayah gimana bisa menjadi seorang pegawai bea cukai di kantor ini?”

“Mau ayah, hehe. Buruan ya yah Linda sudah tidak sabar nih.”

“Ayah dulu lulusan dari STAN.”

“STAN itu singkatan dari apa yah?”

“STAN itu singkatan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sebagian besar pegawai bea cukai yang satu kantor dengan ayah berasal dari STAN.”

“Seperti teman kerja ayah yang tadi pagi kerumah?”

“Iya, Ayah dan temen ayah sama-sama lulusan dari STAN. Ayah dan temen ayah satu angkatan.”

“Ooh seperti itu.  ”

     Belum banyak ayah bercerita, tiba-tiba ayah memandangi jam tangannya. Aku berfikir pasti ayah  ada pekerjaan yang sudah menunggu. Sebelum pergi menjalankan tugas ayah memberiku sebuah buku. Dari covernya buku itu terlihat menarik.

      Ayahpun meninggalkan ku. Aku keluar dari ruangan kerja ayah dan memutuskan untuk pergi ketaman yang tidak jauh dari kantor ayah. Saat sampai ditaman aku melihat ada kursi putih yang ada dibawah  pohon rindang, aku pun berfikir untuk duduk dan membaca buku disana.           Saat aku sedang asyik membaca,aku merasa seperti ada seseorang yang coba mendekatiku. Derap langkahnya seperti langkah kaki tentara yang sedang berbaris, semakin dekat, semakin dekat derap kaki itu terdengar jelas ditelingaku. Aku tidak tau itu langkah kaki seorang laki-laki atau perempuan. Leherku terasa kaku untuk memutarkan kepalauku kebelakang dan tiba-tiba,

“Heei” Sapa seorang laki-laki yang ku rasa dia lebih tua dariku

“Eeeh.. Kamu siapa?”Tanyaku heran dan badanku bergetar ketakutan

“Oh iya.. perkenalkan namaku Dimas”?

“Dimas.. Dimas siapa ya? Aku tidak mengenalumu.”Jawabku sambil menggaru-garuk kepala

“Iya kita memang baru kenalan hari ini. Aku anaknya teman kerja ayahmu. Kamu Linda kan?”

“Oooh iya aku Linda. Teman kerja ayah yang tadi pagi kerumah ya?”

“Iya benar, sebenarnya pagi tadi harusnya  aku ada pergi kerumahmu untuk sarapan karena, ibuku sibuk jadi aku putuskan untuk langsung pergi kekantor ayahku setelah selesai membantu ibuku.” Jelas dia dengan penuh perasaan

“Oh iya ngomong-ngomong, kamu masih sekolah atau sudah kuliah?”

“Aku sudah kuliah di STAN. Aku baru masuk 1 semester. Aku sedang liburan dan ayah mengajakku pergi kekantornya.”

“Ooh ternyata kamu sekolah di STAN juga, ayahku dan ayahmu lulusan dari sana loh.”

“Iya aku tahu, waktu itu ayahku ada bercerita tentang ayahmu.”

“Wah… Ternyata ayahku dan ayahmu teman dekat ya. Boleh aku panggil kamu kakak?

“Tentu saja boleh.”

     Saat asik mengobrol aku mulai gelisah kalau-kalau ayah tau aku sedang duduk dengan seorang laki-laki. Aku takut ayah akan salah mengira aku sedang bersama pacarku. Aku celingukan, kutolehkan kepalaku kekanan, kekiri, kedepan dan kebelakang untuk memastikan bahwa ayah tidak akan mengetahui hal ini. Saat aku sedang celingukan, Dimas tiba-tiba menepuk punggungku.

“Hei kamu kenapa?”Tanya dimas heran melihatku celingukan tidak jelas

“Ah aku tidak papa.”

“Kenapa? Kamu takut ketahuan ayahmu ya?”

“Sebenarnya aku merasa begitu. Aku takun ayah akan salah mengira kalau kakak pacarku,”

“Jangan khawatir.. Ayahmu lah yang menyuruku datang menemuimu.”

“Ah benarkah?”

“Iya benar,ayahmu memintaku untuk menngobrol sekaligus menceritakan pengalamanku sekolah di STAN dan tentang bea cukai juga.”

“Waah, ayah tidak memberitahuku sebelumnya. Memang  kakak tahu tentang bea cukai?”

“Tahu dong walaupun sedikit-sedikit.”

“Kakak suka belajar tentang bea cukai?”

“Iya aku suka, belajar tentang bea cukai itu menyenangkan loh.”

“Waaah.. Boleh dong certain sedikit.”

“Oke-oke nanti aku ceritakan.”

      Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Sesekali kupandangi wajah Dimas yang saat tersenyum manis sekali. Jantungku rasanya berdetak lebih kencang saat mencoba memandanginya. Dimas yang melihatku seperti cacing kepanasan, mulai mengajakku mengobrol tentang dirinya.

“Kamu tau gak kenapa aku kuliah di STAN?”

“Emm.. Tidak tahu hehe.”

“Aku kuliah di STAN karena aku bercita-cita ingin menjadi seperti ayahku.”

“Sebagai PNS di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai?”

“Iya benar. Jadi PNS di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah cita-citaku sejak kecil.”

“Waah senangnya.. Bisa dong kakak jelaskan tetang bea cukai?”

“Boleh dong.. Gini ceritanya. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai itu berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan. Direktorat Jendral Bea dan Cukai memiliki tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang pengawasan, penegak hukum, pelayanan dan optimalisasi penerimaan Negara di bidang kepabeanan dan cukai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

 “Waah ternyata Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan.”

“Iya benar sekali. Yang sering kita sebut Bea Cukai itu merupakan institusi global yang hampir setiap Negara memilikinya loh.”

“Waah.. Ternyata semua Negara memiliki Bea dan cukai juga ya.”

 “Iya dong semua Negara pasti memilikinya. Bea cukai juga memiliki peran penting loh. Kamu tau apa?”

“Hehe tidak tau kak. Aku kan tidak sepintar kakak mengenai bea cukai.”Kataku sambil meringis karena tidak tahu

“Bea cukai memiliki peranan dalam memberantas penyeludupan narkoba. Bea cukai sering menggagalkan penyeludupan narkoba”

“Jadi yang sering menggagalkan penyeludupan-penyeludupan narkoba itu petugas bea cukai ya.”

“Iya dong, dan masih banyak lagi tugas-tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ada diIndonesia. Ngomong-ngomong sudah sore ya, semoga yang tadi aku jelaskan bisa bermanfaat, menginspirasi dan menambah wawasan seputar kepabeanan dan cukai buat kamu.”

“Iya kak terima kasih banyak sudah mengajariku tentang bea dan cukai.”

“Sama-sama. Yuk kita pulang biar aku yang antar.”

“Iya kak, Ayo hehe.”

            Sore itu aku pulang diantar kak Dimas. Hatiku rasanya sangat senang sekali bisa belajar tentang bea dan cukai dengan kak Dimas. Ternyata Bea Cukai sangat penting keberadaannya bagi bangsa Indonesia. Bea cukai sangat berkontribusi bagi pembangunan dan perekonomian Negara Indonesia. Bea Cukai sangat luar biasa! Sukses selalu Bea Cukai Indonesia!

TAMAT

            Penulis merupakan seorang gadis yang lahir di Sidorejo pada tanggal 17 Februari 2000, yang bercita-cita menjadi seorang guru dan pembisnis. Hamimah, nama panggilannya, lengkapnya, Hamimah Yuliasari.

            Penulis merupakan siswi dari sekolah SMAN 1 BUNGURAN TIMUR kelas XII MIPA. Penulis memiliki hobi membaca dan berniaga. Penulis tinggal di kota Ranai, lengkapnya Jln. Haji Adam Malik, RT 006 RW 003 Batu Hitam.

            Mulai aktif menulis saat ikut kelas menulis cerpen. Jika ingin mengirimkan saran dan kritikan melalui DM instagram dengan akun _ukh.hamimah_, bisa juga lewat email: hamimah.170200@gmail.com. Bekerja seolah-olah akan hidup seratus tahun lagi, giat beribadah seolah akan mati esok.

8 People reacted on this

Leave a Comment