Posted on: 6 January 2019 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

“Tik tok tik tok tik tok” Bunyi jam berputar.

Terdengar lantunan azan Subuh berkumandang membangunkan seorang gadis kecil bernama Aisyah di balik kamarnya yang kecil dan usang.

“Aisyah, bangun, Nak” Panggil ibu Aisyah yang terdengar sayup-sayup.

“Iya, Bu… Aisyah udah bangun kok” Jawab Aisyah.

“Aisyah, nanti setelah salat tolong urus adikmu ya, ibu mau buat gorengan

 dulu” Tutur ibu lembut.

“Baik, Bu….” Jawab Aisyah dari dalam kamar. Dengan kakinya yang kecil Aisyah beranjak dari kamar tidurnya yang usang menuju kamar mandi yang ada di belakang luar rumah. Selesai mandi Aisyah mengambil air wudu untuk melaksanakan salat Subuh. Selesai salat, Aisyah berdoa, mengangkat kedua tangan dan menghadap ke atas.

Allahuma firli waliwalidaiya warhamhuma kamarobayana sogiro

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil. Tiba-tiba Aisyah menitikan air mata, Aisyah teringat ayahnya. Di dalam lamunannya hatinya berkata,

Ayah, ayah, ayah di mana? Aisyah rindu ayah. Ayah kapan pulang?

“Aisyah…. Sudah siap-siap belum?  Kok belum keluar dari kamar?” Panggil ibu heran

Tiba-tiba Aisyah terkejut mendengar panggilan ibu.

“Iya, Bu… sebentar lagi selesai kok” Sahut Aisyah tergesa-gesa.

“Ya sudah. Buruan ya, adikmu belum diurus dia juga mau ke sekolah” Tegas ibu

“Baik, Bu… sebentar lagi Aisyah selesai kok” Jawab Aisyah

Aisyah segera mengenakan baju sekolah dan membereskan buku pelajarannya kemudian ke ruang tamu untuk meletakan tasnya yang berisi buku pelajaran. Kemudian Aisyah langsung ke kamar adiknya, dan melihat adiknya yang masih terlelap dalam tidurnya. Sambil mengelus-elus adiknya seraya membangunkan adiknya.

“Deeeeek… Bangun sayang.. Udah pagi… Siap-siap ke sekolah yuk”.

Sambil mengucek-ucek matanya, adik Aisyah pun bangun walaupun dengan lesu dan keadaan yang masih ngantuk.

“Adek masih ngantuk, ya?” Tanya Aisyah. Adiknya hanya menganggukan kepala.

“Ya sudah ,yuk kakak gendong ke kamar mandinya biar cepet sampai, hehe.”

“He-eh” Sambil mengangguk-anggukan kepala. Aisyah sedang memandikan adiknya. Terdengar suara ibu Aisyah yang sedang memasak gorengan. Ibu Aisyah bekerja keras bagaikan kepala keluarga yang harus menghidupi anak-anaknya. Tanpa kata lelah ibu Aisyah sabar menghadapi hari-hari tanpa seorang suami. Ibu Aisyah selalu bekerja keras untuk menjual gorengan setiap hari.

Setelah selesai menyiapkan adiknya, Aisyah dan adiknya pergi ke dapur.

“Eissssss… Anak ibu udah siap semua. Sarapan dulu yuk biar kuat sekolahnya” Sambil tersenyum melihat Aisyah dan adiknya.

Hari-hari mereka hanya makan sederhana dengan lauk gorengan,dengan minum segelas air putih di pagi hari. Selesai sarapan Aisyah membereskan meja makan, sedangkan ibu sedang menyiapkan gorengan untuk dijual.

“Aisyah ini ibu siapkan gorengan 20 biji, kamu jual di sekolah ya.” Sambil memberikan sekotak gorengan yang tertata rapi di dalam tupperware.

“Iya, Bu, doakan saja gorengan ini habis ya Bu.” Tutur Aisyah lembut.

“Iya, Nak. Amin… doakan ibu juga supaya dagangan gorengan ibu habis hari ini.” Aisyah hanya menganggukan kepala. Hari-hari Aisyah membantu ibunya untuk menjual gorengan di sekolahnya, sedangkan ibunya berkeliling kampung. Selesai menyiapkan semua, ibu Aisyah mengantarkan Aisyah dan adiknya keluar rumah.

“Bu, Aisyah pamit ya” Sambil menyalami ibunya.

“Iya, Nak belajar rajin-rajin ya di sekolah biar sukses kelak” Sambil mengelus-elus kepala Aisyah. Adiknnya pun bersalaman dengan ibunya. Dengan kakinya yang kecil Aisyah menuntun adiknya sembari memegang sekotak gorengan. Perlahan pandangan ibu mulai memudar karena Aisyah dan adiknya sudah berjalan jauh dari rumah. Di tengah jalan tiba-tiba adik Aisyah berhenti dan terduduk di bawah pohon.

“Dek… Adek kenapa? Capek ya?” Tanya Aisyah heran

“Iya, Kak, kaki adek capek” Jawab adek sambil memijit kakinya.

“Sabar ya, Dek. Kalau ayah ada disini kita pasti gak bakalan jalan kaki seperti ini” Jelas Aisyah kepada adiknya. Adiknya hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil memijat kakinya yang terasa pegal. Aisyah kasihan melihat adiknya yang kelelahan mencoba untuk menghibur adiknya.

“Ya udah, yuk kakak gendong supaya gak pegel lagi kakinya, biar gak terlambat ke sekolahnya” ajak Aisyah dengan lembut. Adiknya pun naik ke punggung Aisyah dan mereka berdua pun mulai berjalan kembali menuju sekolah. Jalan yang panjang Aisyah lalui dengan menggendong adiknya dan memegang gorengannya supaya bisa sampai sekolah tepat waktu. Dengan napas yang ngos-ngosan akhirnya Aisyah sampai di depan gerbang sekolah yang bertulisakan SDN 03 Sidorejo. Sebuah sekolah yang yang letaknya jauh dari kediaman rumah Aisyah.Terdengar riuh murid SDN  03 Sidorejo yang membuat Aisyah rindu dan ingin ke sekolah selalu.

“Yuk, Dek kakak antar ke kelas” Ajak Aisyah

“Iya kak. Yuk..” Jawab adiknya

Setelah mengantarkan adiknya, Aisyah pun berjalan menuju kelasnya yang terletak paling sudut kanan dari kelas adiknya. Setelah sampai di kelasnya, baru saja Aisyah menginjakkan kaki ke dalam kelas tiba-tiba…

“Haha anak siapa nih ke sekolah jualan gorengan.” Ejek salah satu teman sekelas Aisyah.

“Tahu nih, ke sekolah itu mau belajar bukan jualan.” Sahut teman yang lain

“Oh iya aku lupa, dia kan gak punya ayah guys makanya dia bantu jualan ibunya.. Hahaha” celetuk ria yang begitu tidak suka dengan Aisyah. Aisyah hanya bisa tertunduk sedih karena mereka menghinanya.

“Saya punya ayah kok, tahu dari mana kalian kalau saya gak punya ayah?” Tanya Aisyah sedih. Tiba-tiba terdengar suara sahabat Aisyah yaitu lia.

“Eh kalian semua gak usah pada menghina Aisyah deh, ngaca dulu kalau mau menghina!” Tegas Lia sahabat Aisyah dengan nada tinggi.

“Helo-heloooo… Dia emang pantas dihina,rata-rata yang sekolah di sini masih punya ayah, dan di kelas ini orang kaya cuma dia aja yang miskin dan gak punya ayah..!”Sahut ria dengan muka yang sok. Aisyah hanya menangis sendu melihat kelakuan temannya itu.

“Haha kaya kamu bilang? Gak salah dengar?” Ejek lia

“Eh lu gak usah sok-sokan belain dia ya! gue emang lebih kaya daripada dia.” Sambil menunjuk Aisyah dengan muka merah.

“Yang kaya itu orang tua kamu bukan kamu, kalau orang tua kamu gak ada pasti kamu gak kaya lagi, kamu bakalan miskin harta, miskin hati!,makanya jadi orang itu gak usah sombong!” Tegas Lia dengan nada tinggi.

“Sudah-sudah cukup, gak perlu bertengkar karena saya.” Pinta Aisyah yang terlihat sedih melihat kejadian ini.

“Ya udah , yuk duduk Aisyah gak perlu ngeladenin mulut mereka semua yang bangga sama harta orang tua mereka.” Sambil memegang pundak Aisyah yang terasa gemetaran. Aisyah segera duduk dan meletakan gorengan di atas mejanya. Bel  masuk berbunyi saat jam pelajaran dimulai. Selesai belajar anak di kelas Aisyah pergi keluar untuk membeli makanan di kantin dan ada juga yang membeli gorengan Aisyah.

“Aisyah mau gorengannya satu ya.”

“Aku juga ya.”

“Aku mau juga dong.”

“Jangan dihabisin dong aku kan juga mau.” Pinta teman-teman Aisyah yang ingin membeli gorangan Aisyah.

“Tenang-tenang masih cukup kok, pasti semua kebagian” Jelas Aisyah.

“Biar aku bantu ya, syah?” tanya Lia

“Iya… Makasih ya Lia udah mau bantu saya.” Tersenyum memandang Lia.

“Iya, Syah kita kan sahabat sebagai sahabat kita harus saling membantu.” Tutur Lia lembut.

Lagi sibuk berjualan tiba-tiba ada omongan kasar keluar dari mulut seseorang.

“Hei kalian ngapain beli gorengan Aisyah, mending kalian beli makanan di kantin yang lebih higienis.” Ucap Ria

“Eh Ria kamu suka banget sih nyusahin hidup orang!! Tadi kamu bilang Aisyah gak ada ayah. sekarang kamu bilang gorengan Aisyah ga higienis.” Ucap Lia dengan nada marah

“Emang iya kan, yang jualan aja orang miskin, orang miskin itu kan jorok-jorok.” Sambil menunjuk Aisyah.

“Apa salah saya sampai kamu begitu membenci saya?” Tanya Aiyah sedih

“Karena kamu miskin, hahaha” Ria dan temannya menertawakan Aisyah. Aisyah hanya bisa menangis dan bersedih mendengar cari maki dari mereka.

“Jangan sedih ya, Syah, di balik semua kesusahan ini pasti ada kebaikan.” Hibur Lia ke Aisyah.

“Iya makasih ya, Lia, kamu selalu membela saya dan membantu saya.” Sambil memeluk Lia sahabatnya karena sedih Aisyah menangis di pundak Lia.

“Udah, Syah kamu gak perlu sedih ada aku di sini” Sambil menepuk pelan pundak Aisyah. Terdengar bunyi bel masuk, mereka pun mulai belajar lagi seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi tadi jam istirahat. Aisyah termenung mengingat kejadian tadi, di dalam lamunannya Aisyah meratapi kata-kata Ria yang bilang Aisyah tidak memiliki seorang ayah.

“Yah … Ayah di mana? Aisyah rindu” Tak terasa Aiyah menitikan air mata.

Kiiiinnng kriiiing kriiiing Kriiinng” Aisyah kaget mendengar bel pulang sekolah. Dan semuanya mulai berkemas-kemas untuk pulang, Aisyah pun mulai mengemas tas dan tempat gorengannya yang sudah habis.

“Syah, aku pulang duluan ya soalnya udah dijemput sama ayah.” kata Lia lembut

“Iya Lia gak apa-apa, kamu pulang aja duluan.” Sahut Aisyah

“Ya udah aku pulang dulu ya, kamu hati-hati di jalan, dan jangan suka melamun bahaya hehehe” Sambil mencolek Aisyah.

“Ih apaan sih saya gak melamun kok… ya udah kamu juga hati-hati di jalan ya.” Jawab Aisyah

Ketika Lia sudah pergi Aisyah pun melangkah kan kakinya keluar kelas dan menjemput  adiknya. Dilihatnya adiknya sedang menunggu dirinya.

“Udah lama ya, Dek? Maafin kakak ya agak lama tadi” Jelas Aisyah

“Iya gak apa-apa, Kak. Pulang yuk adek laper”Celetuk adik Aisyah

“Ya udah yuk, atau mau kakak gendong lagi?” Tanya Aisyah

“Gak usah kok adek kuat” Jawab adiknya

Mereka pun mulai meninggalkan sekolahnya, mereka berjalan berdua sambil ngobrol-ngobrol.

“Kak, gimana gorengannya, udah habis?” Tanya adik Aisyah

“Alhamdulilah sudah, Dek, hari ini laris manis hehe” Jawab Aisyah tertawa kecil

“Alhamdulilah, ibu pasti seneng melihat jualan kakak abis semua” kata adik Aisyah

“Pasti, Dek, pasti ibu bersyukur banget dagangan kakak habis, semoga aja dagangan ibu habis juga ya, Dek” Jelas Aisyah

“Amin semoga, Kak, habis dagangan ibu hari ini” Katanya

Sambil berbincang-bincang tak terasa mereka sudah sampai di halaman rumahnya, terlihat sandal ibunya sudah ada di rumah.

“Assalamualaikum….” Ucap Aisyah dan adiknya

“Walaikum salam” sahut ibunya dari dalam rumah. Ibunya pun membukakan pintu.

“Ais anak ibu yang cantik-cantik sudah pulang.” mereka hanya tersenyum, mereka pun bersalaman dengan ibunya .

“Nanti selesai kalian ganti baju, jangan lupa makan siang ya ibu tunggu di dapur.” Ucap ibu

“Iya buuuu…”sahut Aisyah dan adiknya.

Selesai ganti baju, kemas sepatu, kemas tas, mereka pun pergi ke dapur. Di meja dapur sudah tertata makan siang yang ibu siapkan, ada nasi putih dan tempe goreng tidak lupa seteko air putih.

“Yuk makan siang” Ajak ibu

“Baik, Bu” Jawab Aisyah dan adiknya.

Mereka pun makan dengan lahap walaupun cuma dengan lauk tempe goreng, mereka sudah sangat bersyukur masih bisa dapat makan. Selesai makan ibu pergi ke kamar untuk istirahat, adiknya pun  ikut dengan ibu. Aisyah membereskan tempat dapur. hari semakin larut, jam menunjukan pukul 17;00 sore, Aisyah yang duduk termenung di dalam kamar segera terentak bangun, kemudian keluar kamar dan ternyata ada ibu.

“Aisyah salat Magrib berjamaah yuk” Ajak ibu.

“Iya, Bu. Oh iya adek mana, Bu?” Tanya Aisyah

“Ada di tempat salat tuh nunggu kita” Jelas ibu

“Oh… Iya udah Aisyah ambil air wudu dulu ya.”

“Ya sudah ibu ke tempat salat dulu.” Kata ibu

Aisyah yang sedang mengambil air wudu, ibu dan adiknya sedang membaca ayat suci al-Quran sambil menunggu Aisyah. Selesai ambil air wudu Aisyah pun masuk ke tempat salat.

“Udah wudunya, Syah” Tanya ibu

“Sudah, Bu” Jawab Aisyah

“Ya sudah yuk kita salat Magrib berjamaah.” Ajak ibu

“Iya, Bu.” Jawab Aisyah dan adiknya.

Selesai membereskan dapur Aisyah pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudu untuk melaksanakan sholat. Mereka pun melaksanakan salat Magrib berjamaah. Selesai Salat Aisyah berdoa, Ia menitikan air mata teringat kata-kata Ria di sekolah yang membuat Aisyah sedih. Melihat Aisyah menitikan air mata Ibunya pun berkata

“Kamu kenapa, Nak, kok kamu sedih?” Tanya ibu penasaran

“Aisyah sedih, Bu, di bilang gak punya ayah” Jawab Aisyah tersedu-sedu

“Siapa yang bilang begitu kepada kamu, kamu punya ayah kok” Jelas ibu

“Ria, Bu, anak kaya di kelas Aisyah.. Dia menghina Aisyah bilang kalau Aisyah tidak punya ayah” Jelas Aisyah terbata-bata karena menangis.

“Nak, biar ibu jelaskan kenapa ayah sekarang tidak ada di rumah dan bersama kita. Ayah kalian pergi merantau sudah tiga tahun yang lalu, ayah kalian belum bisa pulang karena ayah di sana terkena musibah, ayah kalian difitnah mencuri uang bosnya.”

“Jadi ayah belum bisa pulang, Bu?” Tanya Aisyah terkejut.

“Iya nak ayahmu belum bisa pulang, ayahmu harus ditahan di sana satu tahun lagi untuk bekerja tanpa mendapatkan gaji.” Jelas ibu

“huk…huk…huk… Ayah….” Tangis Aisyah

“Sudah, Nak jangan bersedih, ayahmu pasti pulang. Kamu harus sabar dan tabah” Sambil mengelus-elus Aisyah.

Aisyah langsung meninggalkan ibu dan adiknya di tempat salat, Aisyah langsung pergi ke kamar sambil menangis.Di kamar Aisyah tak henti-hentinya menangis, jika Aisyah sedih, Aisyah selalu membuat diary di buku kecilnya. Kemudian Aisyah duduk di tempat belajarnya dan menuliskan isi hatinya. Lalu Aisyah menulis sebuah kata-kata yang mewakili hati dan perasaannya, ia tuliskan itu di kertas satu lembar.

            “Ayah… Aisyah sayang ayah… Aisyah cuma mau ayah pulang dan berkumpul dengan kita, ayah pulanglah…. Aisyah tidak bisa menahan rindu terlalu lama lagi”

Setelah Aisyah menuliskan itu, hati Aisyah terasa tenang dan Aisyah pun pergi ke ranjang untuk menutup mata sejenak. Besok adalah hari libur, biasa di saat hari libur Aisyah pergi ke danau. Dengan membawa tas kecil dan diary yang ia tulis tadi malam dan dengan hati yang masih terasa pilu mendengar penjelasan ibu tentang ayahnya, dengan kakinya yang kecil ia pergi menuju ke danau. Sesampainya di danau ia duduk di bangku bawah pohon yang rindang. Aisyah datang ke danau hanya untuk menghibur hatinya yang sedih. Aisyah mengeluarkan buku diary-nya dari dalam tasnya yang kecil itu. Ia melihat botol kaca yang ada di dekat bangku yang ia duduki. Kemudian Aisyah mengambil kertas yang sudah ditulis tadi malam, lalu ia menggulung kertas itu dan memasukannya di dalam botol, kemudian ia melempar botol itu ke danau dan berteriak dengan keras

            “Ayaaahhhh Aisyah rindu, Aisyah mau ayah pulang.” Teriak Aisyah. Setelah melempar botol hati Aisyah merasa nyaman. Kemudian Aisyah melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Aisyah melihat sebuah mobil, Aisyah merasa heran. Hatinya bertanya.

“Siapa yang datang ke rumah” Hatinya bertanya-tanya. Aisyah pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

“Asalamualaikum.” Salamnya

“Waalaikumsalam.” Sahut seorang laki-laki yang tengah duduk di ruang tamu. Aisyah semakin heran.

“Siapakah dia? Apakah dia ayah saya?” Hatinya bertanya-tanya tak henti-hentinya

Kemudian ibunya keluar dari dapur membawa air minum.

“Aisyah sudah pulang?” Tanya ibunya

“Iya,Bu. Aisyah sudah pulang, Bu. bapak ini siapa?” Tanya Aisyah.

“Nak, ini ayahmu. Ayah yang membesarkanmu” mata ibu berkaca-kaca

“Ayah, Bu? Beneran ayah?” Tanya Aisyah heran.

“Nak, ini ayah … ayah mu yang kamu rindu?” Sambil menatap mata Aisyah dengan tajam.

“Ayaaahhhh….” Sambil memeluk ayahnya dengan erat-erat.

“Ayah Aisyah rindu, ayah jangan pergi-pergi lagi, Aisyah gak mau ditinggal oleh ayah.” Pinta Aisyah dengan tatapan memelas kepada ayah.

“iya, Nak. Ayah gak akan ninggalin Aisyah lagi ayah janji” mengangkat jari kelingkingnnya dan ditunjukan ke Aisyah. Aisyah pun membalasnya.

Aisyah merasa bahagia, ayahnya sudah pulang dengan selamat, rindunya terasa sudah terobati. Dengan kedatangan ayahnya hidup Aisyah terasa lengkap Aisyah tidak akan dihina oleh temannya lagi.

Hari-hari Aisyah semakin terasa indah setelah kepulangan ayahnya ke rumah. Aisyah dan keluarganya pun hidup bahagia.

Leave a Comment