Posted on: 26 May 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

oleh: Ellyzan Katan

Dulu, seorang Raja Ali Haji, tokoh Melayu yang sangat termasyur di segala bidang itu, pernah berkirim surat dengan sahabatnya di Tanjung Pinang, Asisten Resident Von de Wall. Dia hendak bermanja-manja dengan sang sahabat. Bermanja-manja di sini janganlah Tuan artikan bermanja-manja sebagai seorang anak dengan orang tua, atau seorang perjaka dengan perawan. Akan tetapi lebih pada keikhlasan seorang Von de Wall yang dilihat sangat berkenan di mata Raja Ali Haji. Mereka berdua malah menunjukkan kepada generasi sekarang, betapa “perikatan persahabatan” yang telah terjalin, diharapkan tetap bersimpul hingga berkekalan. “Serta kita harap berkekalan perikatan sahabat antara sahabat kita dengan kita selama2nya,” ujar Raja Ali haji tulus. Dan berbahagianya lagi, hal ini diaminkan juga oleh Von de Wall.

Bermanja-manja, dalam konteks dua orang sahabat ini, memanglah sangat berharga. Dari sisi sejarah, orang kini bisa kembali meneroka dan merekonstruksi hal ekhwal hubungan dunia Melayu dengan dunia luar, dunia orang putih. Sementara dalam dunia literasi, ternyata tokoh Melayu kita sudah sejak lama menggunakan dunia tulis-menulis untuk mengutarakan hajat. Baik hajat tentang pertukaran kitab karya yang sudah disusun oleh Raja Ali Haji, Bustan Katibin, batalnya perjalanan dari Penyengat ke Tanjung Pinang untuk berjumpa dengan sahabat, bahkan sampai ke hajat hendak menyunatkan anak, tidak luput dari perikatan sahabat ini. Mereka saling percaya bahwa hubungan yang sudah terjalin tidak harus dibatasi hanya pada persoalan-persoalan formal saja, seperti pelaksanaan roda pemerintahan, akan tetapi juga masuk ke ranah keluarga segala.

Seperti pada surat 23 Syawal 1274 H, atau bertepatan dengan 6 Juni 1858, pengarang yang cukup produktif di zamannya itu, merasa perlu untuk berterima kasih kepada Von de Wall karena telah mengirimkan ke pulau Penyengat sepucuk senapang melalui seorang kaki tangan. Raja Ali Haji sangat berkenan dengan senjata api tersebut sehingga perlu untuk mengetahui berapa harga yang dapat dibayar. Ini karena, “Kita terlalu berkenan akan buatannya senapang itu.”

Semua sudah tidak ada yang disembunyikan lagi. Dan semua sudah didedahkan dengan nyata, lantang dan tidak ada malu-malu. Bahkan Raja Ali Haji, menurut pandangan saya, membutuhkan Von de Wall, tidak saja untuk tetap menjalin hubungan dengan dunia luar, akan tetapi sebagai kawan meluahkan hasrat menulisnya yang tinggi. Buktinya, pada surat 26 Muharam 1274 bertepatan 16 September 1857, dia seboleh-boleh mengirimkan Von de Wall kitab yang baru saja selesai dikarang, yakni Bustan Katibin. Kitab ini sendiri berisi tentang pengetahuan bahasa Melayu. Bahkan menurut Moch. Syarif Hidayatullah, “Raja Ali Haji dalam Bustan Katibin memberi sumbangan besar terhadap khazanah ilmu bahasa Melayu,” (ThaqÃfiyyÃT, Vol. 13, No. 1, Juni 2012, hal. 10).

Betapa mesra hubungan dua tokoh ini dalam sejarah tamadun Melayu abad ke-19. Kemesraan ini ternyata telah memukau banyak pihak baik di dalam negeri atau pun luar negeri. Mereka yang terpukau itu, sampai-sampai bingung untuk menetapkan Raja Ali Haji ini ahli di bidang apa. Pasalnya, sang penulis besar ini menguasai banyak hal. Dan karena hal ini pulalah, UU Hamidy sampai tak tahu harus menetapkan Raja Ali haji sebagai tokoh di bidang apa.

Terlepas dari hal itu, saya merasa bersyukur atas apa yang telah disumbangkan oleh beliau ke ranah kebudayaan bangsa. Melalui tangan Raja Ali Haji, paling tidak telah banyak membuka mata orang kulit putih terhadap Melayu. Seperti yang telah ditunjukkan oleh Hooycash (1951), Richard Winstedt (1977), Jan van der Putten dan Alazhar (2007) serta Heer (2009). Semua ini hanya sebagian saja yang dapat disebutkan.

Menarik juga untuk dipegang adalah, sikap terbuka dari seorang Raja Ali Haji terhadap Von de Wall ini, ternyata sangat bertentangan dengan esai kritis penjajahan yang diterima bangsa kita. Ya, dalam dunia penjajah yang lazim kita ketahui, tidak semua hubungan dengan penjajah dilihat dari kacamata baik. Tak jarang, karena sikap membenci penjajah yang sudah terlanjur mengakar kuat dalam setiap sanubari penduduk tempatan, banyak menumpahkan maki hamun pada setiap penjajah, baik secara lembaga ataupun personal.

Yang terjadi pada Raja Ali haji malah sebaliknya, Beliau justru bersikap terbuka terhadap upaya masuknya orang kulit putih dalam kehidupan kerajaan. Padahal sudah ada bukti bahwa salah satu penyebab hancurnya Kerajaan Riau Lingga yang ada di tanah Melayu, karena adanya campur tangan orang kulit putih ini, yaitu Belanda. Mereka dengan bagak dan segak, mencoba menekan tengkuk orang-orang besar kerajaan untuk tunduk ke bawah keinginan mereka. Persoalan yang dipaksa mau tunduk atau tidak, itu tidak soal. Bedil ada untuk dipakai bila sedikit saja orang-orang besar kerajaan menunjukkan muka masam.

Akhirnya hubungan yang mesra dan manja ini pun menjadi sedikit berwarna. Pada satu sisi, Raja Ali Haji mampu memanfaatkan Von de Wall sebagai batu tapak untuk mengangkat Melayu lebih tinggi lagi, mencapai kumis-kumis para orintalis di tanah seberang. Dan pada sisi lain, Raja Ali Haji berhasil memanfaatkan kelindan dua kebudayaan ini untuk mengangkat pemahaman ilmu bagi perkembangan Melayu ke depan. Raja Ali Haji seolah tidak peduli, atau mungkin menutup mata dengan kelakuan “Sahabat kita” ini yang berupa adanya upaya campur tangan untuk memakzulkan Sultan Mahmud Muzaffarsyah. Von de Wall “didakwa” ikut menjadi dalang di balik itu semua.

Kehadiran persahabatan ini bukan hanya sebatas pada bahasa saja, akan tetapi lebih dari itu. Melayu dengan gagah perkasa telah menjadi primadona sejak lama. Hal ini ditunjukkan oleh kesibukan seorang Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir von de Wall menyusun naskah bahasa Melayu yang akan digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda dalam menetapkan ejaan dunia pendidikan di tanah jajahan. Kesibukan ini semakin hari semakin membuka jalan bagi Melayu untuk menyeruak ke pentas dunia, setelah semakin banyak mata peneliti kulit putih jatuh hati terhadap kebesaran bahasa Melayu yang menggunakan tata huruf Arab dalam setiap pengucapan dan tulisan.

Kesibukan-kesibukan itu terus berlanjut, sampai pada 12 Juli 1860, sang assistant resident eerste klas pun melakukan perjalanan ke tanah Semenanjung guna mengunjungi berbagai Kerajaan Melayu. Dia bertungkus-lumus mencari, meminjam, dan bila perlu mengoleksi kitab-kitab Melayu apa saja yang di dalamnya terdapat bahan untuk menyusun kamus bahasa Melayu, sebagaimana tugas yang diembankan oleh atasan kepadanya.

Raja Ali Haji tahu itu. Dan penulis besar ini mulai memainkan perannya sebagai sahabat sekaligus penunggang kuda. Tali pelana terpegang kuat di tangan. Matanya yang jernih karena setiap malam membaca al-Quran, menerawang jauh ke depan, ke masa-masa kejayaan Melayu dan Islam. Arah pun bisa ditentukan oleh Raja Ali Haji, bukan oleh Von de Wall, sang sahabat yang bermuka dua itu.

Raja Ali Haji menunggang kuda kulit putih dengan gagah perkasa. Dia telah membawa serta Melayu ke kancah pertembungan budaya, di mana Melayu muncul sebagai mercusuar dengan ragam cerita kental berazaskan al-quran dan hadis.

Maka teruslah bermanja dengan sahabat, “Sebab kita lihat sahabat kita banyak ikhlas dengan kita, jadi hilang rasa malu kita, serta kita harap berkekalan perikatan sahabat antara sahabat kita dengan kita selama2nya.”

Hmmm, bukan main……

Ranai, 26 Ramadan 1442 H/07 Mei 2021 M

Ellyzan Katan alumni Universitas Islam Riau Pekanbaru. Menetap dan bekerja di Ranai, Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Bisa dihubungi di tanjakqu@gmail.com.

(editor DIN/ilustrasi Dwi Fitri Yana)

Leave a Comment