Posted on: 2 February 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Anak-anak remaja di pinggir lapangan sibuk menyiapkan dekorasi. Beberapa kawannya yang lain keluar masuk lapangan dengan sebuah motor matic membawa barang-barang yang akan digunakan nanti malam. Dekorasi panggung dihiasi kelapa tua, kerajinan rotan, tampi, pelita, dan sebagai latarnya menggunakan tikar pandan yang ditimpa dengan tulisan Pentas Budaye berwarna keemasan. Alas panggung menggunakan karpet berwarna merah, lalu disambung terpal berukuran besar. Panggung tersebut pula dihiasi lampu kelap-kelip mengelilingi pot dengan ranting-rantingnya yang estetik.

Menjelang petang, tenda mulai dipasang bersamaan dengan kesibukan menyusun sound system di belakang panggung. Semua panitia harus membesarkan volume suara guna menandingi kerasnya musik yang diputar. Di sudut lain, sekelompok anak remaja terburu-buru menyiapkan susunan acara juga pantun pembuka. Bagian pintu masuk, kesibukan terlihat pada anak-anak remaja yang menghiasi bambu dengan kain batik. Rumput-rumput yang tinggi dibabat habis oleh mesin tebas. Juga hal wajib yang harus ada dalam pertunjukkan seni malam itu adalah wadah untuk mencuci tangan sebelum masuk ke tempat pertunjukkan.

Masyarakat di Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara sudah mengetahui bahwa pada Sabtu malam, 30 Januari 2021, tepatnya di Desa Gunung Durian, komunitas Mbe Cite Kelarik mengadakan Pentas Budaye: Melayoe Tempo Doeloe. Acara ini sebagai wujud kepedulian mereka sebagai generasi muda pada seni dan budaya tempatan sekaligus menandakan eksistensi dari komunitas itu sendiri yang sudah ada sejak dua tahun lalu. Seperti tema yang diusung, acara malam itu bernuansa Melayu. Hal itu jelas terlihat dari panitia dan tamu yang hadir mengenakan pakaian kurung Melayu, walaupun tidak sedikit pula yang mengenakan pakaian di luar dari itu. Dari segi penampilan, menghadirkan tarian persembahan, doa tepung tawar, pembacaan syair, dan tarian Cik Abu, lesung alu, dan flasmob menggunakan musik melayu. Turut berpartisipasi pula LDK STAI Natuna membawakan marawis. Acara malam itu semakin dimanjakan dengan kuliner tradisional khas Kelarik, seperti minuman santan gilik, kue bangkit, penganan cincin, dan tipeng canggus yang bentuknya mirip seperti tabel mando. Juadah-juadah itu tersaji dalam satu talam atau dulang dengan tudung anyaman berbentuk kerucut.

Malam itu menjadi malam balas dendam atas kerinduan masyarakat mengenai pertunjukkan seni dan budaya di daerah tersebut, hal itu terlihat dari ramainya penonton menyaksikannya. Walaupun kenikmatan menonton tersebut diselingi hujan yang datang berkali-kali, penonton tetap betah sampai akhir acara. Termasuk tamu-tamu yang datang dari Ranai, seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, KNPI Natuna, BP Geopark Natuna, komunitas Kompasbenua, LDK STAI Natuna, Genpi Natuna, Genre Natuna, Askar Melayu Natuna, dan Natunasastra. Acara semacam ini semakin menguatkan optimisasi pegiat-pegiat seni dan budaya yang ada di Natuna untuk tetap menjadikan seni-budaya sebagai landasan dan pedoman utama dalam menjaga pulau Natuna.

Acara yang dipersiapkan selama dua minggu ini, patut diapresiasi dan didukung penuh oleh tokoh-tokoh masyarakat maupun lembaga setempat agar semangat anak-anak Mbe Cite Kelarik tidak berhenti pada acara ini saja.  

(toknyong.com – din/foto: Mbe Cite Kelarik)

Leave a Comment