Posted on: 6 January 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Pergantian tahun kali ini di Natuna begitu sepi. Segelintir kelompok saja yang terdengar menyalakan kembang api, asap-asap jagung bakar yang mengebul, atau kumpul-kumpul mengobrol. Selebihnya seperti malam-malam seperti biasanya. Padahal di Pantai Piwang yang sedang jadi bahan pembicaraan publik tersebut, menyediakan ruang yang luas untuk merayakannya.

Natunasastra senang dengan hadirnya salah satu fasilitas di Pantai Piwang yang bisa dikatakan sebagai taman kota atau alun-alun Natuna tersebut. Ruang publik ini menyediakan panggung terbuka di sebelah kanan pantai tersebut. Panggung tersebut dilengkapi dengan dinding berukuran besar berwarna krim. Pada lantai panggung yang setengah lingkaran, berwarna merah, kuning, hijau, biru. Seakan berbentuk motif tikar. Lalu, terdapat dua stop kontak di bagian kiri dan kanan panggung. Sayang rasanya kalau panggung sebagus itu tidak dipergunakan.

Merespon ruang tersebut, Natunasastra kembali mengadakan hajat kebudayaan. Kali ini mumpung masih hangat-hangatnya suasana pergantian tahun, sebelum jauh melangkah ke depan, ada baiknya merefleksi diri tentang arti kebudayaan lokal itu sendiri, termasuk kesenian tradisi. Natunasastra menyebutnya dengan silaturahmi tradisi. Memperkuat tali rasa antar satu kesenian tradisi dengan kesenian tradisi lainnya dan mengekalkan kembali khazanah tamadun Natuna.

Hal ini perlu diangkat ke publik di setiap ruang yang tersedia. Tradisi dengan mudah akan punah jika dibiarkan begitu saja tanpa memberikan ruang orientasi dan refleksi bahkan resolusi ke publik. Kegiatan ini juga sebagai penyadaran kepada masyarakat bahwa tradisi Natuna itu sendiri tidak kalah dengan yang lain. Dalam arti lain, masyarakat patut bangga dengan apa yang mereka miliki. Lagipula, kemutakhiran masa kini tidak sepenuhnya ciamik untuk diikuti, ada yang lebih menarik untuk diselami, yaitu tradisi.    

sumber: Kiki Firdaus

Natunasastra cukup senang karena menjadi komunitas pertama yang menggunakan panggung terbuka tersebut untuk acara semacam itu, kalau tidak salah. Lalu kesenangan yang lainnya adalah respon masyarakat yang luar biasa, di luar dari dugaan kami. Padahal, sebaran informasi ke publik hanya bermodalkan jejaringan komunitas dan kerabat-kerabat, media sosial instagram dan whatsapp, dan dari mulut ke mulut. Ini tampak sejalan dengan perhitungan. Pertama, lokasi acara yang masih hangat-hangatnya untuk dikunjungi, Pantai Piwang. Kedua, malam Minggu adalah malam jalan-jalan dan mencari hiburan. Ketiga, apresiasi masyarakat semakin tinggi tentang kebudayaan. Dan keempat, kehausan masyarakat Natuna akan hiburan seakan tampak. Bagian keempat menjadi perhitungan karena Natuna, khususnya di pulau bunguran besar memang kurang pagelaran semacam ini. Padahal bathin dan pikir masyarakat perlu diisi dengan hal-hal yang begini. 

Untuk pertama kalinya Natunasastra didukung penuh oleh lembaga pemerintahan, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Natuna  dan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkim) Kabupaten Natuna. Disparbud dalam hal ini mendukung pada penyediaan penataan suara dan penataan lampu. Sedangkan Disperkim terkait dengan perizinan tempat penyelenggaraan. Bentuk dukungan ini patut diapresiasi dan direspon oleh komunitas lain karena pemerintah hadir dalam kegiatan-kegiatan yang ditaja oleh komunitas. Artinya, ada bentuk perhatian yang diberi dan komunitas diberi jalan yang lebih lebar untuk berekspresi. Dukungan lain juga datang dari Bhaktiku Negeri mendukung sumbangan air mineral, Green Computer store mendukung hadiah lawang (doorprize), dan Laskar Raya membantu di dokumentasi. Sanggar Tiara Mayang, Sanggar Dina Mahkota, Kompasbenua turut membantu dalam penyempurnaan acara.

Mengenai konsep dan persiapan. Terbilang singkat. Hanya sembilan hari sembilan malam. barangkali kalau mau diceritakan. Melihat kegiatan Malam Puisi Natuna berjalan seperti itu, Disparbud melalui salah satu pegawainya, mengajak Natunasastra untuk bertemu. Pembicaraan pada saat itu berfokus pada kehadiran Disparbud sebagai lembaga pemerintah turut membantu kegiatan masyarakat dalam hal ini komunitas. Gayung bersambut, ketika Natunasastra ingin membuat kegiatan namun mengalami kebuntuan, datanglah dukungan dari Disparbud. Konsep acara diserahkan ke Natunasastra, lalu Disparbud bisa dikatakan sebagai fasilitator yang kemudian bersamaan dengan Disperkim. Lalu Natunasastra bersama Bujang Harun dan Dinda—salah dua penggerak di Natuna—merancang kegiatan. Seperti dasar yang sudah disampaikan paragraf di atas, acara ini memang titik fokus pada kesenian tradisi Natuna. Lalu pada malam-malam berikutnya mulai menyusun konsep. Dengan konsep tanpa formalitas, tanpa kata sambutan, tanpa gimik-gimik. Setelah itu kami mengisi malam dengan menentukan kesenian tradisi dan komunitas yang dapat tampil di acara tersebut, mencari dukungan dari berbagai pihak, memastikan susunan acara. Kami memanfaatkan beberapa pohon di dekat panggung terbuka Pantai Piwang digunakan sebagai kain harapan, lalu ruang lainnya kami memberikan tempat pada Kompasbenua untuk memajang galeri foto sejarah Natuna. Begitu pula koordinasi dengan Disparbud tetap berjalan. Satu hari sebelum acara, kami menggelar rapat untuk keesokan harinya.

Acara ini berlangsung pada Sabtu, 04 Januari 2020. Minggu pertama di awal tahun. Selain panggung utama untuk penampilan, kami menyiapkan panggung kedua. Panggung kedua berisi kain harapan dan galeri foto. Panggung kedua lebih dulu dapat dikunjungi masyarakat yang jalan pada sore hari itu. Sehelai kain putih berukuran enam meter, dibentangkan dari satu pohon ke pohon yang satu menghadap ke jalan raya. Mengatasi angin yang kencang, kami melubangi kain tersebut di beberapa sisi. Kami beri nama Kain Harapan untuk Natuna. Kain ini sebenarnya merupakan media visual yang pasif menggerakkan masyarakat agar aktif-ekspresif. Berbagai macam isinya, dari yang serius sampai yang menggelitik. Ada yang memanfaatkannya sebagai promosi akun instagram, promosi tagar, ungkapan cinta, muhasabah, kritik, dan masih banyak lagi. dua spidol berwarna biru terus berpindah tangan dengan kalimat yang macam-macam itu. Di sebelahnya, terbentang tali rapia merah dan kuning dari pohon yang satu ke pohon yang satunya lagi, hanya saja galeri ini menghadap ke panggung utama. Kompasbenua merupakan komunitas yang berfokus pada sejarah dan budaya Natuna dan baru saja terbentuk pada 2018. Namun pergerakan mereka perlu dikenalkan ke khalayak. Mereka menamakan galeri dengan Galeri Natuna Marek Tiatau Galeri Natuna Tempo Dulu. Berbagai foto Natuna tempo dulu disaksikan penuh oleh masyarakat. Menyusuri dari satu foto ke foto yang lain. Dialog pun terbangun antara pengunjung dan Kompasbenua. Tentang sumber foto, lokasi, tahun, dan kejadian di foto tersebut. suatu tantangan bagi mereka. Tidak hanya galeri itu saja, masyarakat juga dihibur dengan hadirnya berbagai permainan tradisional, seperti yeye, dop, congklak. Beberapa permainan tradisional bisa dimainkan, selebihnya masih sebatas pajangan. Dibantu dengan pencahayaan lampu putih, sampai malam pun, Galeri Natuna Marek Ti dan Kain Harapan untuk Natuna tetap mendapat perhatian masyarakat untuk dikunjungi di sela-sela kegiatan panggung utama.

Penampilan dibuka oleh duo penari, yaitu Dinda dan Lina. Penonton harus berbalik badan karena duo penari ini memulai aksinya di belakang penonton. Berjalan dengan estetis sambil disinari flash lamp, perlahan mencapai panggung kedua. Lalu disambut dengan Lina. Pakaian putih tampak cerah. Mereka menari mengitari area sekitar panggung sampai pada titik akhir di atas panggung mendekati tambur yang sudah menunggu di sebelah kanan panggung. Seketika musik berhenti, di tengah panggung langsung disambut oleh pembacaan gurindam yang dilantunkan oleh  Sohib. Barulah Bujang Harun dan Lusi Diana sebagai sepasangan pewara di acara Panggung Budaya Tradisi Lokal membuka acara. Mengajak masyarakat untuk datang dengan gaya khas mereka. Lalu penampilan selanjutnya diisi oleh Forum Literasi SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut (Forli Smansabungtila) dengan membacakan syair. Pantun mendapatkan urutan tampil selanjutnya yang dibacakan oleh Ellyzan Katan, seorang penulis dan pemantun. Giliran anak-anak kecil membawakan tari Ayam Sudur, salah satu tarian tradisional, anak-anak ini tergabung dalam Sanggar Tiara Mayang. Kembali diisi oleh Forli Smansabungtila dengan membacakan penggalan Hikayat Dewa Mendu. Lalu kembali diisi oleh Sanggar Tiara Mayang dengan penampilan gabungan tari tradisi.

Lalu dilanjutkan dengan penampilan yang ditunggu-tunggu, yaitu Tari Topeng. Kesenian tradisi ini bisa dikatakan sudah sampai pada generasi yang ketiga, namun sayangnya belum ada regenerasi. Artinya, bisa saja punah jika tidak ada pembinaan. Malam itu memang sengaja menghadirkan tari topeng agar masyarakat mengenal tradisi dan budayanya sendiri. Masing-masing kamera menyorot penampilan ini. selepas penampilan tari topeng, baru pengelanan dari Natunasastra dan Kompasbenua. Selanjutnya, untuk mengapresiasi pegiat seni, diberikan cenderamata kepada kelompok seni tradisi, yaitu tari topeng. Lalu ada penampilan nyanyi masal dari lagu lokal berjudul Budaye kite yang diciptakan oleh Dinda. Lalu acara terakhir adalah penampilan tari massal oleh Sanggar Dina Mahkota dan Sanggar Tiara Mayang. Pada bagian ini, masyarakat diajak untuk ikut menari bersama. Seharusnya ada dua penampilan tradisi lainnya, yaitu suluk dan giambong. Namun sayang, beberapa kendala membuat mereka tidak bisa ikut serta. Acara diakhiri dengan foto bersama. Sebagian masyarakat beruntung hadir acara tersebut, sebab banyak hadiah lawang (doorprize) yang dibagikan.

Acara ini tidak memiliki anggaran. Semua kebutuhan materi diserahkan pada hati yang ikhlas untuk mengeluarkan uang tanpa pamrih dan minta ganti. Artinya acara ini minim uang, lebih kepada swadaya saja. Bukan berarti memanfaatkan keuangan orang lain dan meminta-minta, tetapi yang terlibat tidak ingin uang menjadi patokan utama. Ada yang lebih penting dari uang.  

Masyarakat Natuna patut diapresiasi pada malam itu. Terlihat seluruh elemen masyarakat dapat berbaur. Sama rasa sama rata. Tidak ada pembedaan antara jabatan, kedudukan, dan kelas. Melepaskan apa-apa yang melekat di diri masing-masing menjadi orang yang biasa.  Bahkan untuk menghadiri acara tersebut, ada yang sampai membawa tikar pandan sebagai alas duduk. Sambil membawa camilan lainnya, mereka menyaksikan acara dengan gaya masing-masing. Walaupun silih berganti pengunjung, namun tak terlihat sepi. Masalah sampah, masyarakat Natuna turut menjaga Pantai Piwang. Dapat dilihat setelah acara selesai. Kantong sampah yang disiapkan tidak sampai setengah terisi. Masyarakat sadar bahwa menjaga kebersihan itu penting.

Keraguan sebelum acara ini berlangsung adalah cuaca yang tak bisa ditebak ditambah lagi angin semikencang. Tetapi berkat keyakinan bersama, cuaca dan angin dapat bersahabat sampai akhir acara. Semoga kehadiran acara semacam ini dapat ditindaklanjuti oleh komunitas atau kelompok lainnya. Salam Budaya Perbatasan!

Ranai, 6 Januari 2020

Leave a Comment