Posted on: 14 October 2019 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Ada satu hal yang saya soroti dan menjadi perhatian. Mengenai batik tulis yang katanya akan menjadi batik ‘khas’ Natuna. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya mengenai hal ini. Kenapa batik tulis? Kenapa harus ada perlombaan itu? Apa esensi lomba itu? Apa kebutuhan dari lomba itu? dan pertanyaan lainnya. Mari kita bahas satu bagian dahulu.

Semua masyarakat Natuna sudah mengenal mana yang disebut dengan batik Natuna, bahkan sudah melekat dalam diri mereka masing-masing. Dan sekarang sudah meluas penyebaran itu. Batik Natuna lahir secara murni dari kebudayaan leluhur yang sudah lama hidup.  Tradisi menganyam tikar pandan ini sudah dilakukan dari masa yang lalu, bentuk kreativitas tradisional budaya Natuna yang masih dapat ditelusuri sampai saat ini. Tikar pandan yang dipergunakan sebagai alas duduk atau alas tidur tersebut sudah melekat di masyarakat. Contohnya saja saat ada acara kenduri, tikar tidak pernah dilupakan untuk selalu digelar. Pada acara selamatan di rumah-rumah penduduk, tikar pandan itu pun menjadi alas makanan dan alas duduk bagi tamu undangan. Dan saya berasumsi bahwa, pada masa dulu tikar pandan menjadi alas tidur anggota keluarga sebelum adanya tilam atau kasur. Kenapa? Karena di saat saya kecil sampai besar pun, ibu atau bapak saya mengembang tikar saat saya ingin tidur. Serasan sebagai komoditi besar dalam produksi kerajinan tangan tradisional tikar pandan ini yang awalnya untuk kebutuhan sehari-hari. Anyaman yang terbuat dari daun pandan berduri, membutuhkan tenaga dan waktu yang panjang. Proses dari pengambilan daun pandan dan pemilihan daun pandan, disayat-sayat, direbus, dianginkan seharian,  pengeringan yang berhari-hari, perendaman berhari-hari pula, pencelupan, pengeringan lagi,  sampai pada bentuk tikar yang diinginkan bukan hal yang mudah dan perlu ketelatenan. Kemampuan masyarakat dalam membuat kerajinan tradisional tikar pandan perlu diberi apresiasi yang tinggi, sebab proses pembuatannya yang panjang, tidak serta merta jadi.

Tikar pandan dan segala prosesnya itu merupakan bentuk kearifan lokal yang tidak bisa anggap sebelah mata. Tidak semua orang bisa dan tidak setiap tempat ada tikar seperti di Natuna. Hal itu patut kita banggakan bersama. Motif-motif yang tercipta pada tikar pandan tersebut bukan asal-asalan. Motif yang saya ingat adalah motif cengkeh. Tentu bukan tanpa alasan kenapa cengkeh yang dipilih. Kalian sudah tahu kekayaan Natuna itu, kan. Tidak hanya itu, masih banyak motif lain yang didasari dengan kekayaan alam atau budaya Natuna. Komposisi warna begitu serasi dipadukan—tidak pula hanya satu dua warna saja—ditambah pula tingkat perhatian dalam membuat tikar pandan tidaklah sedikit.  

Seiring majunya zaman, alas tidur dan duduk sudah berganti pula. Orang-orang sudah beralih ke bentuk yang kekinian. Kerajinan tangan seperti tikar pandan mulai dilupakan, para pengrajin harus mencari cara agar hasil karya mereka itu dapat bertahan seiring dengan kemajuan zaman. Kemampuan mereka dalam mengenali perkembangan zaman itu terlihat. Motif-motif tikar itu dikreasikan pada bentuk-bentuk yang lain, seperti dompet, peci, tas, gantungan kunci, dan sajadah. Barang-barang itu dipamerkan saat ada perayaan di ibu kota. atau menerima tempahan dari masyarakat yang ingin mengadakan acara. Kita mengerti bahwa yang terjadi adalah para pengrajin berusaha bertahan hidup dengan memodifikasi tikar ini sedemikian rupa untuk tetap ada. Tetapi semakin hari semakin berkurang para pengrajin itu dan dengan melupakannya, merupakan cara yang paling mudah untuk membuat kerajian tradisional itu punah.  

Namun, ancaman itu dapat diantisipasi dengan mentransformasi tikar tersebut menjadi batik. Motif-motifnya diubah ke bentuk digital lalu dicetak dengan kain pilihan yang saat ini menjadi baju batik kebanggaan masyarakat Natuna. Tingkat apresiasi dan mendukung kebudayaan masyarakatnya sendiri tampak begitu tinggi. Bagaimana tidak, ketika transformasi itu dilakukan, masing-masing masyarakat mengenakan batik tikar Natuna. contoh yang paling terlihat adalah instansi pemerintahan, guru-guru dan sekolah, dan ibu-ibu PKK memilih batik tikar Natuna sebagai seragam. Dan batik tikar Natuna dapat menyatukan seluruh elemen masyarakat. artinya batik tikar Natuna mendapat hati masyarakat. Setiap kelompok memiliki motifnya sendiri, setiap orang memiliki cara menggunakan batik tikar Natuna dengan gayanya sendiri, setiap orang punya cara untuk mengapresiasi kebudayaan mereka sendiri. Akhirnya kita sepakat bahwa Natuna punya batiknya sendiri, batik khas Natuna yang muncul dari kebudayaan. Entah itu sudah dipatenkan atau belum. Yang penting masyarakat mencintai batik yang lahir dari tanah mereka.

Batik tikar Natuna ini tidak hanya mewah di tanah sendiri. Ternyata di luar Natuna pun, banyak orang yang memuji akan keindahan batik tikar Natuna. Ada satu kejadian yang menarik ketika saya membawa baju batik tikar Natuna ke Jakarta. Saya pikir batik itu dapat saya gunakan saat acara-acara resmi yang membutuhkan pakaian kekinian dan bagus. Saya lupa motif apa yang saya pakai saat itu, tapi memang punya warna yang menarik. Ketika saya bertemu dengan beberapa teman yang berasal dari pulau Jawa, mata mereka tertuju pada batik yang saya pakai. Lalu mereka mengatakan, bagus batikmu. Ya, ini batik Natuna, begitu kata saya. Mau dong, sambut mereka lagi. Lalu saya jawab, nanti kalau pulang ya. Muncullah obrolan-obrolan ringan mengenai batik Natuna itu. Dan tentu saya sampaikan pula asal-usul munculnya batik ini, walaupun tidak sepenuhnya tahu.  Di situ saya merasa berhasil membawa batik tikar itu untuk diminati masyarakat di luar Natuna.

Dan benar saja, ketika pulang ke Natuna, kakak kelas saya memesan kain batik Natuna dengan pilihan motif yang bagus, tentu saya iya kan permintaan itu. Dia rela sejauh itu memesan kain batik. Artinya, batik tikar Natuna punya keunggulan dan dapat bersaing dengan batik lainnya di Indonesia.  Artinya lagi, batik di Natuna memiliki khasnya sendiri dengan batik yang ada di Pulau Jawa atau di Sumatera. Tentu kita merasa bangga dengan hal ini. Para mahasiswa atau masyarakat Natuna yang tinggal di ibu kota, tanpa terpaksa memamerkan hasil kreasi yang berakar dari kebudayaan.

Tidak hanya berhenti di situ, wabah tikar Natuna ini disematkan pula pada media yang lain. Salah satunya adalah map orang kantoran misalkan. Pada instansi tertentu memerlukan map untuk administrasinya, nah, pada gambar depan map selain tulisan instansi, kita dapat menemukan pada sisi lain terdapat motif tikar. Lalu pada setiap kegiatan yang diselenggarakan, banner yang terpasang, baik ukuran kecil maupun besar menggunakan motif tikar Natuna, pada buku kegiatan seminar atau sosialisasi pun sama. Hal ini berarti, masyarakat benar-benar menyambut dan mendukung kebudayaannya sendiri secara bersama untuk dilestarikan. Karena juga mereka merasa memiliki, mereka telah hidup dengan tikar, dan mereka tahu asal-usulnya.

Nah sekarang mari kita lihat apa yang terjadi. Pada 12 Oktober 2019 lalu, Natuna sedang diramaikan dengan perayaan ulang tahun Natuna yang kedua puluh tahun. Berbagai macam kegiatan diselenggarakan dan merangkul seluruh masyarakat untuk berpartisipasi. Terdapat stand bazar dari setiap kecamatan, perlombaan menyanyi lagu dangdut, penampilan kesenian tradisi, dan penetapan batik Natuna.

Kebanggaan kita akan paripurna mendengarnya, jika penetapan itu adalah batik tikar yang sudah saya jelaskan tadi. Namun ternyata muncul batik Natuna yang akan dijadikan ‘khas’. Batik tulis. Setahu saya, Natuna tidak memiliki tradisi batik tulis. Atau memang saya yang bodoh dan tidak tahu menahu tentang daerah saya sendiri. Tentu ini akan menjadi polemik. Pasalnya orang-orang akan bertanya, lalu batik tikar itu bukan batik khas Natuna? kalau bukan batik Natuna apa namanya? Batik Serasan? Kenapa tiba-tiba ada batik baru di Natuna? apakah batik yang sebelumnya yang telah melambungkan nama Natuna itu ada kesalahan dan tidak baik untuk Natuna? apakah masyarakat sudah bosan dengan motif-motif batik tikar Natuna sehingga harus dimunculkan kembali batik baru yang dikhaskan?

Pertanyaan seperti itu pula yang berputar di kepala saya.

Penyelenggaraan lomba batik ini seakan-akan mengatakan bahwa batik tikar Natuna tidak punya nilai jual, tidak punya daya tarik untuk dijadikan cenderamata atau perkembangan promosi Natuna sendiri. Maka dibuatlah batik baru yang dapat meningkatkan daya promosi daerah Natuna. Toh, buktinya sekarang banyak orang yang suka dengan batik tikar Natuna. Dasar penyelenggaraan lomba ini juga sepertinya tidak didasari dengan alasan-alasan yang kuat dan pertimbangan yang dalam.  Tidak didasari dengan kebutuhan yang ada. Penyelenggaraan ini juga tampaknya bukan berawal dari keresahan dari pejabat yang berkepentingan. Pasalnya yang saya temukan, batik tulis ini adalah program unggulan yang dibawa ke Natuna oleh mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang melangsungkan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tepatnya di Pengadah. Sebenarnya tidak ada masalah, toh, orang-orang Melayu adalah orang-orang yang menerima dengan terbuka dan luas. Ilmu yang diberikant tentu diserap dengan sebaik mungkin dan upaya mereka membantu mengembangkan Natuna. Tapi, batik tulis ini direspon secara berlebihan. Dengan proses yang begitu instan, tanpa ada pertimbangan yang dalam, tiba-tiba akan dipatenkan itu batik tulis.  

Tanggapan yang berbeda jika penyelenggaraan lomba ini diadakan untuk memberikan ruang kreasi bagi generasi muda dalam belajar membatik, itu boleh dan bagus. konon katanya, batik tulis ini hasil dari kreasi ibu-ibu PKK Desa Pengadah. Hal itu masalah karena memberdayakan masyarakat untuk berproduktif dan aktif. Tapi jika sampai pada tahap mempatenkan, batik tulis ‘khas’ Natuna yang tidak lebih bernilai dari batik tikar itu, saya pikir ini sangat disayangkan.

Lagi pula, batik yang lahir dari kompetisi tidaklah sebanding dengan batik yang lahir secara murni hasil dari kebudayaan sendiri. Dalam kata lain, akar promosi yang diinginkan tidak diberasal dengan kebudayaan yang kita miliki. Dan kompetisi ini hanya dinilai oleh dua puluh orang yang terdiri dari orang-orang tertentu. Sangat disayangkan masyarakat secara umum tidak terlibat. Saya khawatir ke depannya nanti mereka tidak merasa memiliki dan tampak canggung untuk dipakaikan, beruntung kalau mereka tidak banyak protes.

Malam penyelenggaraan itu masyarakat dikenal dengan empat belas motif batik tulis yang katanya akan menjadi ‘khas’ Natuna. Antara lain, motif latoh perpaduan dengan bunga karang, motif daun dan belimbing besi, motif daun pepaya, motif bunga cengkeh dan berpadukan bambu dan susunan tulang, motif gambar bambu berpaduan bunda dan buah cengkeh, motif daun dan buah cengkeh berpaduan dengan pohon bambu, motif batu dan pohon kelapa, motif sarang lebah madu, motif kembang semangkok, motif perpaduan bunga dan daun cengkeh, motif tikar yang berpaduan dengan bunga yang tumbuh merayap di batu, motif bunga bakau, motif pemandangan yang terdiri dari perpaduan gambar rumah penduduk batu dan gambar awan, motif pemandangan pantai perpaduan dengan pohon kelapa, gunung dan awan. Dari penamaannya ini, kita masih buntu dengan alam kita sendiri.

Dari keempat motif tersebut, terpilih motif gambar bambu perpaduan bunga dan buah cengkeh, pilihan ini didasari karena menggambarkan bahwa di Natuna banyak tumbuh subur pohon cengkeh dan bambu. Ya, saya mengakui cengkeh menjadi komoditi yang tinggi di Natuna dan juga bambu. Jujur sebenarnya, motif itu tidak menarik perhatian saya. Sebab, dasar pembuatannya masih begitu dasar.

Kebanggaan memiliki batik tulis Natuna tidak tercermin dalam berita yang saya baca. Pasalnya salah seorang pejabat tinggi di Natuna mengatakan, “ya mau tidak mau kita harus pakailah. Walaupun hanya corat coret gitu motifnya.” Saya pikir kata-kata ini menunjukkan tidak ada bangga-bangganya dan terkesan B aja gitu.  

Lalu bagaimana nasib batik tikar Natuna? Kalau begitu, kenapa tidak diberdayakan saja lagi para pengrajin tikar tersebut. terus diproduksi dengan berbagai bentuk dan dapat dijual secara ekonomis. Dan nantinya kita akan sampai pada titik pertanyaan mana yang akan kita unggulkan untuk dipromosikan, batik tikar atau batik tulis? dan semua kembali pada masyarakat, batik tulis atau batik tikar.

Jakarta, 14 Oktober 2019

Destriyadi Imam Nuryaddin

Leave a Comment