Posted on: 21 March 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Tantri tak bisa tidur malam itu padahal waktu sudah menunjukkan dini hari. Malam yang dingin, bahkan terkadang seperti membuat badan membeku. Waktu yang enak buat menggulingkan badan di atas tilam sebetulnya, tapi entah kenapa Tantri tak juga bisa terlelap.

Tantri bangkit dari ranjang tidurnya, membuka pintu, dan di luar ia melihat suasana begitu sepi. Tak ada lagi orang yang berkeliaran, hanya ada seekor anjing kurap yang sedang mengais sisa-sisa makanan di tong sampah. Di kiri-kanan tersebar wahana permainan pada acara pasar malam, tempat ia bekerja sekarang.

Tantri sudah 6 tahun bekerja di situ. Semenjak remaja ia sudah akrab dengan arena pasar malam. Kehidupan keluarganya yang berantakan memaksanya bekerja di sini. Terlahir bersama orang tua yang miskin. Ayah yang hanya bekerja serabutan, hobi judi, dan tergila-gila pada banyak perempuan. Sementara ibunya lebih parah lagi, sibuk melayani laki-laki hidung belang dengan mejeng di pojok-pojok jalanan. Apalagi masa depan yang bisa ia harapkan? Tantri memilih kabur dari rumah pada usia yang masih sangat belia, pergi mencari penghidupan lain yang lebih layak, ia meninggalkan tempat kelahirannya sebuah kota kecil di pinggiran Jawa Barat. Berminggu-minggu menyeberangi lautan dan pulau hingga akhirnya bertemu Sumiyat yang membawanya bekerja di pasar malam ini.

“Bekerja di sini akan membuatmu melupakan kesedihanmu,” begitu ucap Sumiyat saat pertama kali menawari Tantri. Ia pun tak berpikir panjang, sebab tak ada pilihan lain yang mampu dikerjakan.

Dulu, saat-saat pertama di sini, ia ditugaskan mengurus keperluan dapur, memasak dan menyiapkan makanan untuk para awak pasar malam. Namun ia bosan dengan rutinitas itu dan diam-diam belajar menjadi pembalap dalam permainan roda maut, sebuah permainan ekstrem yang jelas saja sangat berbahaya bagi seorang gadis belia. Tapi berkat kegigihannya ia lalu menjelma menjadi pembalap hebat di lintasan roda maut, dan pada tahun-tahun sesudahnya ia menjadi primadona di setiap acara.

“Aku lebih menyukai mengendarai motor ini, di dapur hanya akan buat kulitku tambah gosong.”

“Tapi itu hanya boleh dilakukan oleh profesional, butuh waktu latihan yang tidak sedikit agar kau mahir,” Sumiyat menentang keinginan itu.

“Buktinya baru dua kali percobaan aku sudah bisa setengah, yang lain saja malah salut dan takjub melihat kenekatanku.”

Sejak saat itu, praktis hidupnya berada di lintasan roda maut. Mengendarai sebuah motor dan meniti dinding–dinding kayu yang melingkar. Setiap waktu hidupnya bisa berakhir tragis jika terjadi kesalahan kecil saja. Ia tertawa di hadapan banyak orang yang rela berdesakan menonton dan menunggu aksinya, menyambar uang-uang pecahan sepuluh ribuan yang di acungkan penonton, ia seperti bahagia tapi pada saat yang sama hidupnya selalu diintai kematian kapan saja.

Tantri ingat, sekitar tiga tahun yang lampau, seorang rekannya pernah menjadi korban, mati. Kepergiannya dilepas di tengah suasana kegaduhan, lalu esoknya jenazahnya dikirim ke rumah, dan semua orang akan dipaksa lupa seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. bagi Tantri, antara hidup dan mati hanya dipisahkan sedikit saja.

Begitulah, Tantri berpindah dari pasar malam yang satu ke pasar malam yang lain. Seperti saat ini, Tantri terdampar pada sebuah desa di ujung barat Provinsi Riau, Desa Tanjung. Desa yang secara geografis cukup dekat dengan wilayah Provinsi Sumatera Barat. 15 menit dari desa ini juga terdapat sebuah candi yang diyakini oleh warga sebagai peninggalan kerajaan Sriwijaya. Candi itu disebut Muara Takus sesuai dengan nama desa tempat candi itu berdiri. Konon, candi itu dihuni oleh seorang perempuan cantik yang memakai gaun putih yang sesekali terlihat. Tantri sudah dua minggu di situ, sesuai kontrak, sebentar lagi akan habis masanya, lalu Tantri akan meninggalkan tempat ini, berpindah lagi ke tempat yang baru.

Di mana lagi tempat berikutnya? Entahlah, Tantri tidak tahu urusan itu, pekerjaannya hanyalah mengendarai motor melintasi dinding-dinding kayu dan membuat penonton terhibur. Selebihnya ia tak mau tahu. Atau, apakah ini tempat terakhir? Pada masa-masa tertentu Tantri pernah berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya yang gila ini. Seperti sekarang, saat ia tak bisa tidur pada sebuah dini hari. Angan-angannya mengembara. Sebagai wanita biasa, Tantri juga ingin hidup normal. Menikah, melahirkan anak-anak yang lucu dan membesarkannya, berbakti kepada suami. Pendeknya ia ingin memiliki keluarga yang bahagia.

Tantri tidak ingin keluarganya nanti seperti ayah dan ibunya dulu. Dua orang manusia yang persatukan Tuhan lewat sebuah pernikahan, tapi perkawinan mereka lebih sering dihabiskan oleh perdebatan, hampir tidak ada kata bahagia di dalamnya.

“Seharusnya kau lebih becus sebagai suami. Jangan tiap hari kau habiskan waktu dengan berjudi, lalu merampok selangkangan para lonte. Biadab!”

“Jaga mulutmu! Memang kerjamu selama ini apa? Sama saja, toh? Tetap mengangkang buat banyak lelaki.”

“Kau kira aku begini karena apa? Itu semua gara-gara perlakuanmu. Dulu aku jadi lonte karena setiap minggu tak ada uang yang cukup buat belanja.”

Perdebatan serupa itu nyaris setiap hari menghiasi dunia remaja Tantri. Ia jadi mengingat kedua orang tuanya. Di mana mereka sekarang? Tantri tak pernah lagi berjumpa atau sekadar mendengar kabar. Sejak kabur dari rumah, segala hal tentang kota kelahiran dan orang-orang di dalamnya berangsur-angsur mengabur dari memorinya. Barangkali sekarang mereka sudah mati, pikirnya. Atau, ayahnya diciduk polisi karena kedapatan main judi. Ibunya mungkin masih berada di tempat prostitusi, mengidap penyakit kelamin, kesepian di hari tua.

Tantri keluar dari rumah peristirahatan, memilih duduk di tangga tempat roda maut. Membiarkan kulitnya yang putih diterpa angin malam. Anjing kurap yang tadi ia lihat mengais sisa-sisa makanan sedang asyik melahap tulang ikan yang ditemukannya. Di situ, Tantri kembali melanjutkan mimpinya, tentang sebuah keluarga yang bahagia.

Tantri membayangkan, pagi sekali ia sudah bangun tidur untuk menjerang air pada sebuah tungku, menyeduhkan teh panas untuk sang suami, lalu menyiapkan perbekalan untuk anak-anaknya berangkat sekolah. Bukankah itu adalah suatu kebahagiaan bagi seorang wanita? Lantas dengan siapakah ia akan melalui masa itu? Adakah lelaki yang mau mempersuntingnya? Sementara selama ini ia tak mengenal kata cinta.

Cinta, adalah sebuah kosakata yang sering ia dengar tapi asing di hatinya. Seumur hidupnya, laki-laki yang mendekati Tantri hanya mengharapkan materi dan nafsu berahi. Tantri tidak pernah menemukan laki-laki yang memberinya cinta dengan sebenarnya. Baginya, semua laki-laki sama saja. Bejat, jahat.

Tantri menyalakan rokok, mengisapnya dalam-dalam, ia berjalan dari tangga menuju tempat penonton biasanya berdiri menyaksikan atraksinya. Ia tiduran di situ, menyaksikan kerlap-kerlip bintang di langit. Air matanya mengalir tambah bisa dicegah. Tantri jarang sekali menangis, ia bukan anak cengeng, ia sudah terlatih oleh liku-liku kehidupan yang menyakitinya. Sekarang Tantri tiba-tiba memikirkan masa depannya, sesuatu yang tak pernah ia pedulikan sebelumnya. Dulu, ia begitu percaya, hidup di arena roda maut adalah segalanya. Selamanya. Tapi sepertinya, malam ini ia ingin merumus ulang catatan kehidupannya.

***

Ini malam terakhir acara pasar malam di desa Tanjung. Penonton ramai memenuhi berbagai wahana permainan, termasuk menyaksikan atraksi roda maut. Tantri sudah bersiap menyelesaikan tugasnya di malam penutupan itu. Ia menyapa penonton dari atas motornya, melambaikan tangan, tersenyum manis seperti biasanya. Saat tancap gas, bunyi knalpot motornya meraung membuat gaduh yang dibalas tepuk tangan para penonton, sebagian ada yang berteriak, kagum, heran, atau takut. Beberapa penonton mengeluarkan uang pecahan ribuan dan Tantri sekejap saja menyambarnya. Tantri mencoba memejamkan mata, tak melihat apa pun. Gelap, namun ia merasa damai, ia melaju tanpa memedulikan meniti jalur yang mana. ia terus berputar-putar. Seperti maut yang berputar dalam hidupnya.

***

Tanjung, 2017

Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah di muat di media Online dan cetak. Beberapa lainnya juga termaktub  dalam buku antologi, diantaranya: Burung Gagak dan Isyarat Dari Sepotong Surat, (Poiesis Publisher, 2020), dam Balada Orang Pesisiran (Unsa Press, 2021). Penulis bisa dihubungi lewat email: romiafriadi37@gmail.com, akun Facebook Romie Afriadhy.

(ilustrasi:Imarafsah Mutianingtyas)

Leave a Comment