Posted on: 30 March 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 1

Tahun Baru Imlek sebentar lagi tiba di depan mata. Mey sudah mulai sibuk menghiasi rumahnya. Hiasan imlek berwarna merah  tergantung di setiap sudut rumah sudah terpampang nyata. Lampion pun tidak lupa dipasangnya.

Tapi bukan hanya Mey saja yang sibuk untuk menyambut Tahun Baru Imlek itu. Tapi Dicky, lelaki yang sudah satu atap selama tujuh purnama dengan Mey juga punya acara untuk menyambutnya. Tapi Mey tidak tahu apa yang dilakukan Dicky.

Namun yang pasti mereka punya rencana masing-masing untuk menyambut lebaran bagi umat Tionghoa di dunia. Mereka ingin merayakan penuh kebahagiaan dan keberkahan.

***

Dan apa yang ditunggu mereka pun tiba. Tahun Baru Imlek akhirnya menemui mereka juga. Ini adalah tahun ke tujuh untuk mereka—dalam menyambut hari raya itu. 

Kini Mey sangat disibukkan sekali. Sebagai seorang istri dan memiliki keluarga besar tentu ia begitu direpotkan. Tapi ia senang dan bahagia melakukan itu semua. Apalagi saat momen seperti itu ia bisa bertemu kembali pada Oma Hana, begitu para cucu memanggil perempuan berambut abu-abu itu. Seorang perempuan paruh baya. Tidak lain perempuan itu adalah yang sudah melahirkan Mey dari rahimnya ke dunia.

Namun Oma Hana masih marah pada Dicky. Itu lantaran Mey, anak bungsu dari Oma Hana dibawa kabur.  Kawin lari begitu yang mereka lakukan karena Oma Hana tak merestui mereka. Namun lambat laun akhirnya Oma Hana bisa menerima kehadiran Dicky sebagai menantu sekaligus suami dari Mey yang merupakan dari kasta yang rendah. Oma Hana belum sepenuhnya menerima Dicky. 

Begitulah Oma Hana menilai menantunya itu. Tapi lagi-lagi cintalah yang menyatukan mereka (Mey dan Dicky) sampai saat ini. Dan momen seperti inilah lagi-lagi Mey harapkan. Ia berpikir siapa tahu Oma Hana dan Dicky, sama-sama orang yang ia cintai dalam hidupnya bisa saling menurunkan egonya masing-masing. 

Akhirnya mereka bisa duduk bersama di ruang keluarga. Tapi Mey lupa saking sibuknya ia menyambut tahun baru itu. Ia lupa membuat kue keranjang yang sudah menjadi tradisi dalam keluarga besarnya. Karena tanpa kue itu rasanya kurang lengkap dalam jamuan Tahun Baru Imlek jika ada yang bertandang ke rumah mereka selain keluarga besar Mey. Terlebih menurut kepercayaan bagi umat Tionghoa kue keranjang atau nian gao merupakan simbol baik yang perlu diangkat saat Imlek. Apalagi bila memakan kue keranjang, rezeki seseorang setiap tahun akan selalu bertambah melimpah dan makmur. Begitu kepercayaan keluarga besar Mey. Maka dari itu kue keranjang harus ada di dalam jamuan. 

Ya, walaupun di atas meja Mey sudah menyiapkan bandeng goreng, bandeng presto, buah  jeruk, manisan delapan dewa, permen kacang dan coklat nanas serta es sirup merah serta yang lainnya. Sayangnya, tanpa kue keranjang, itu semua belum lengkap ada di sana.

Mey yang baru sadar jika kue keranjang itu tidak ada dalam  jamuan ia pun merasa bersalah. Karena di hari penuh suka cita ia melupakan hal yang begitu amat sakral. Ia lupa membuat kue ranjang. Usai itu ia pun langsung menuju ke kamarnya. Di sana ia terisak.

Tapi Mey tidak tahu jika Dicky sudah membuat kue keranjang. Apalagi karena kue itu, mereka bisa bersatu menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi dan mengisi walaupun tanpa kehadiran seorang anak dari rahim Mey.

Dengan berhati-hati Dicky pun ke kamar untuk menghampiri Mey. Dengan membawa baki yang di atasnya ada kue keranjang yang Dicky bungkus dengan ornamen-ornamen berwarna merah.  Mey sontak terkejut. Apalagi saat itu ia sedang memegang bingkai poto buram yang sudah dipigurakan.  

Beruntung, itu tidak terlepas dari genggaman Mey saat Dicky mengejutkannya. Jika tidak, mungkin bingkai poto itu akan hancur. Walaupun kaca dan bingkainya yang hancur tetap itu membuat Mey terkejut.

Lho, kamu kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya, Sayang. Ada apa memangnya?”

Ah, tidak ada apa-apa kok, Sayang.” 

Mey menutupi ratapnya dengan menyeka airmatanya yang masih basah di pipinya. Walau ia masih merasakan rasa kaget. Apalagi saat memandangi bingkai poto buram saat itu. 

Poto buram itu  adalah poto Mey saat masih kanak-kanak. Dan ia ingat betul. Apalagi ia adalah teman masa kecil Dicky, suaminya itu. Ia selalu bersama-sama menyaksikan pertunjukkan barongsai di depan vihara bila saat Hari Raya Imlek tiba.

Kini mereka sudah beranjak menjadi suami-istri. Hanya sekedar dari teman bermain semasa kecil kini mereka satu atap. Mereka kini bisa hidup bersama.

“Oya, aku kemari hanya ingin memberikan ini, Sayang?”

Sambil menyerahkan baki berisi kue keranjang yang sudah dihias dengan begitu rupa secepat kilat Mey langsung menghampiri Dicky. Itu ia lakukan agar suaminya  tidak bisa membaca gesturnya. Kalau saat itu Mey sedang mencuri kenangan masa silamnya  disaat masih kanak-kanak di perayaan Tahun Baru Imlek. Mereka selalu meramaikannya bersama dengan keceriaan seorang bocah ingusan.

“Aku tahu kamu pasti sedang mencuri masa silam kecil kita di poto itu. Di mana saat pertama kali aku menerima pemberian kue keranjang darimu saat itu. Hingga akhirnya aku bisa mengenal kamu lebih dari sekedar teman kecil melainkan kekasih.”

Saat itu Dicky langsung berucap. Mey langsung membeku seketika. Masing-masing dari mereka ternyata merindukan kenangan itu agar tidak pudar.

Tidak berapa lama Mey akhirnya luluh juga dan ia menerima kue keranjang dari Dicky. Walaupun Mey masih ditengarai  oleh rasa bersalah. Tapi Mey langsung memeluk Dicky saat itu sambil menyesali kesalahannya karena ia tidak bisa menyediakan kue keranjang.

“Ma-ma, maafkan a-aku ya, Sa-sa…”

“Cukup jangan kamu lanjutkan! Yuk, kita rayakan hari bahagia ini dengan kue keranjang buatanku. Aku lho yang membuatnya. Apa kamu mau mencobanya…?”

Mey kembali memeluk Dicky dengan begitu eratnya. Dicky hanya tersenyum.

Mungkin dalam hati Dicky jika tidak dalam keadaan ramai saat itu. Ia ingin sekali kembali mendapatkan anak dari rahim Mey. Tapi hal itu Dicky gagalkan demi menghargai keluarga besar Mey. Apalagi Dicky harus bisa menjaga hubungannya agar lebih erat lagi pada sang mertua. Dicky harus kembali bisa mengambil hati Oma Hana.


Kak Ian, penulis dan aktivis anak. Kini aktif/juga founder di Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya sudah termaktub di koran nasional dan lokal. Karya terakhirnya, “Kumpulan Cerita Remaja: Malaikat yang Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama”, Penerbit Mecca, Desember 2019. “Kumpulan Cerpen: Hikayat Kota Lockdown”, Penerbit Sinar Pena Amala, Agustus 2020.

1 people reacted on this

Leave a Comment