Posted on: 3 February 2021 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Dahulu, Lesung Alu berkaitan erat dengan petani padi dan sawah. Hal itu juga terjadi di daerah Kelarik, Bunguran Utara. Orang-orang tua setempat mengakui bahwa dulu di Kelarik terbentang sawah-sawah, namun sekarang menjadi lahan untuk sapi mencari makannya.

Kini lesung alu beralih fungsi sebagai sebuah hiburan, selain mengenang kembali masa-masa dahulu saat padi masih melimpah di tanah Kelarik. Penampilan lesung alu berhasil mencuri perhatian masyarakat dan tamu yang hadir di acara Pentas Budaye: Melayoe Tempo Doeloe yang ditaja oleh Mbe Cite Kelarik. Wajar saja, karena memang sudah lama nada-nada itu tidak mengisi gendang telinga masyarakat Kelarik. Penampilan lesung alu malam itu diisi oleh kelompok seni dari Desa Belakang Gunung, yang disebut sebagai satu-satunya kelompok lesung alu yang ada di Bunguran Utara tersebut. Malam itu, tujuh orang laki-laki berperan sebagai penumbuk padi dengan ukuran alat tumbuk (alu) yang berbeda panjang dan diameter itu. Walaupun peran itu masih dipegang oleh laki-laki yang sudah berumur, mereka terlihat gagah dan bersemangat dengan pakaian kurung berwarna biru ditambah songket dan kopiah. Dan satu tambahan, masker. Penampilan tersebut lengkap dengan seorang perempuan yang bertugas mengaruk gabah dalam kuali yang diambil dari dalam karung yang merupakan proses sebelum masuk ke dalam wadah lesung. Gabah-gabah tersebut tidak dapat dimasukkan dalam jumlah yang banyak, takarannya ditentukan secukupnya.

Kabarnya, kehadiran lesung alu di Kelarik dibawa oleh orang-orang “timo”, sebutan untuk orang-orang yang berasal dari sebelah timur pulau Bunguran, dapat dipastikan lebih jelas bahwa timo yang dimaksud dalam kesenian lesung alu ini adalah dari Bunguran Timur Laut. Masyarakat yang berasal dari Tanjung dan sekitarnya bertransmigrasi ke Kelarik membawa kelihaian mereka dalam memainkan lesung Alu. Kesenian ini diajarkan kepada masyarakat Kelarik yang juga memiliki mata pencaharian sebagai petani padi pada masa dulu. Diakui salah seorang lelaki paruh baya bahwa kesenian lesung alu ini dibawa oleh orang-orang timo, termasuk dirinya sendiri sebagai pelaku kesenian lesung alu. Diperkirakan, lesung alu masuk ke Kelarik sekitar tahun 1970-an, namun hal ini perlu ditinjau lebih jauh dan dalam. Seperti ketukan dan lagu yang dibawakan, tidak berbeda jauh dengan daerah asal lesung alu. Artinya, kelompok seni lesung alu ini memiliki ciri khasnya sendiri. Dari segi proses, bentuk, dan jumlah pemainnya tetap sama dengan yang umum ada di Natuna.

Hal ini membuktikan bahwa selain laut, daratan di Natuna memiliki tanah yang subur. Masyarakat erat kaitannya dengan pertanian dan memiliki kecakapan dalam mengurus sawah. Kehadiran lesung alu adalah gambaran bagaimana kebutuhan seni yang berasal dari timo atau timur mampu menyebar ke daerah-daerah yang sulit dijangkau pada masa dulu seperti Kelarik, mengingat akses yang dilalui sekarang masih terbilang baru. Pewaris tunggal kesenian lesung alu di wilayah Utara pulau Natuna yang perlu diperhatikan dan diberi tempat untuk menunjukkan eksistensi kehidupannya adalah kelompok seni lesung alu dari Desa Belakang Gunung. Harmoni yang hadir dari lesung alu ini tidak bisa diduplikasi pada teknologi canggih masa kini. Harmoni itu hasil dari perpaduan alam dan kecerdasan manusia, juga lesung alu mewakili keseimbangan antara wanita dan laki untuk saling memenuhi dalam hidup. Mengisyaratkan hubungan yang harmonis antara satu penduduk ke penduduk lain.

Kesulitan yang dialami oleh kelompok seni lesung alu dari Desa Belakang Gunung ini adalah kurangnya ketertarikan generasi muda di Kelarik dibanding dengan gim-gim virtual yang ada di gawai mereka seperti sekarang. Kelompok seni ini juga mengakui kalau mereka baru latihan satu malam sebelum malam pertunjukkan.

Jika kita lihat lebih jauh, lesung alu yang terdapat di pulau Bunguran sekiranya adalah hasil akulturasi dari kebudayaan yang sempat hadir di masa lampau. Bisa jadi, kebudayaan ini dibawa oleh pendatang dari berbagai daerah di Indonesia karena di Natuna terkenal dengan tanahnya yang subur, selain cengkih dan kelapa, tentunya juga sawah. Pendatang-pendatang yang menetap lama di Natuna tentu membawa berbagai kesenian dari daerah asalnya, salah satunya lesung alu ini. Masyarakat Natuna yang begitu ramah kepada pendatang ikut belajar dan bermain lesung alu. Dari situ, penduduk setempat membuat bentuk dan ketukannya sendiri, sehingga terdengar berbeda dengan yang lainnya. Pada Gejog Lesung (Yogyakarta), wadah untuk menumbuk padi berbentuk panjang, dimainkan oleh lima sampai enam ibu-ibu. Aktivitas menumbuk itu diiringi dengan langgam-langgam Jawa. Gejog berarti tumbuk dan lesung adalah lumpang panjang yang dijadikan wadah untuk menumbuk.

Daerah agraris lain yang juga erat dengan kesenian ini adalah Purwakarta, mereka menamainya dengan Tutunggulan. Alat yang digunakan berupa halu (alu), lisung (lesung) dan niru (tampi). Lisung pada kesenian Tutunggulan berbentuk memanjang kurang lebih 220 sentimeter dengan lebar kurang lebih 30 sentimeter. Penumbuk padi dimainkan oleh perempuan dan berjumlah 8 orang, jumlah ini sudah dihitung dengan pemegang niru. Tutunggulan sendiri berarti bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh benturan antara alu dan lesung. Selain dua daerah di atas, kesenian ini juga dimainkan di Belitung (Lesong Panjang) dan Tanah Datar (Alu Katentong).

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa lesung alu, baik yang ada di Kelarik maupun di belahan timo, memiliki perbedaan dengan yang berasal dari pulau Jawa. Salah satu yang terlihat jelas adalah bentuk lesung dan penumbuk padi. Kesenian lesung alu yang ada di Natuna didominasi oleh laki-laki. Begitu juga bentuk lesung, wadah yang terbuat dari kayu belian itu berbentuk bulat.

Sampai saat ini masih belum diketahui kapan lesung alu masuk di Natuna, namun yang dapat dipastikan kesenian ini akan terus terdengar ritmenya di kemudian hari.

(toknyong.com – din/foto: Mbe Cite Kelarik)

Leave a Comment