Posted on: 31 December 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Oleh: Destriyadi Imam Nuryaddin

Bagi penduduk Ranai dan sekitarnya tentu sudah tidak asing lagi dengan batu granit besar yang berada di Senubing, Bunguran Timur. Batu yang berada di pinggir jalan raya menuju Timur Laut itu konon sebagai saksi bisu kehadiran orang-orang Rusia di pulau Bunguran dan peristiwa pemberontakan yang terjadi di pulau Natuna. Hal itu dapat diketahui dari tulisan-tulisan berbahasa Rusiaia yang sampai saat ini masih dapat ditemukan, seperti tulisan USSR (Union of Soviet Socialist Republics) atau yang lebih sering kita dengar dengan nama Uni Soviet. Rusia bersama dengan negara-negara lain pernah bergabung dalam satu wilayah USSR ini. Tulisan itu bersamaan dengan logo jangkar yang terlilit tali.

Sebagai pulau yang strategis, Natuna tidak lepas dari imperialisme Belanda. Kepemimpinan amir (setingkat camat) di pulau Bunguran harus berurusan dengan pemimpin-pemimpin Belanda untuk menjaga agar rakyatnya tetap aman.

Semenjak tahun 1939, kuasa wilayah atas Pulau Tujuh dipegang penuh oleh Belanda. Angkatan tentara Belanda dan serdadunya berpusat di Sedanau, Bunguran Barat. Untuk wilayah Ranai, kolonial menempatkan satu Seksi serdadu KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) yang artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda. KNIL dibentuk Belanda untuk mempertahankan keamanan di wilayah kekuasaannya, salah satunya adalah pulau Tujuh-Natuna.

Pada Senin 8 Desember 1941, saat kecamuk Perang Dunia II melebar ke Laut Cina Selatan, tentara Belanda yang berada di Sedanau minggat tanpa sepengetahuan seksi serdadu KNIL yang berada di Ranai. Akibatnya, kesembilan belas serdadu yang dipimpin oleh Leutnan Engels (sersan) dan Sersan Jansen sebagai wakil komandan, terjebak di Ranai. Maka dengan kekuasaan wilayah yang ia pegang, Leutnan Engels mengumumkan keadaan darurat atau SOB (staat van Oorlog en Beleg) yang membuat Amir Ibrahim sebagai Onder Distrik Bunguran Timur pada saat itu dan masyarakat lainnya terpaksa menuruti perintah tersebut. Engels yang memproklamirkan diri sebagai controleur Pulau Tujuh itu nyatanya membuat masyarakat Ranai menjadi semakin khawatir akan kehidupan mereka. Beberapa pribumi ditembak mati hanya karena melanggar aturan yang sebenarnya sangat memberatkan pribumi, seperti membayar uang belasting (bea) bagi laki-laki dewasa sebesar 2.50 dollar sebulan dan setiap keluarga wajib menyerahkan sebutir telur ayam setiap hari.

Pada 14 Desember 1941, Anambas menjadi sasaran utama pesawat tempur Jepang yang mengakibatkan 300 warga meninggal dan 150 rumah hancur dilalap api. Juga dampak pengeboman yang dilakukan Jepang terhadap pulau Natuna saat ini dapat dijumpai di Penagi. Keadaan itu memungkinkan wilayah Natuna menjadi medan perang.

sumber: Naen Noan

Kekhawatiran Leutnan Engels itu bertambah ketika torpedo meletus di 12 mil lepas pantai Natuna bagian timur pada Minggu 21 Desember 1941. Pasalnya hal itu menandakan musuh sudah semakin dekat dan mereka tidak mempunyai senjata dan amunisi yang sepadan. Torpedo tersebut ternyata meledakkan sebuah kapal Rusia yang tidak berpihak pada sekutu mana pun pada Perang Dunia II, artinya kapal tersebut bukan kapal perang. Bisa dikatakan juga, torpedo tersebut salah sasaran. Hancurnya kapal tersebut membawa 28 berkebangsaan Rusia dalam keadaan parah menepi ke pantai Senubing Utara-Ranai pada malam harinya menggunakan sekoci di bawah pimpinan Kapten Alexanders. Masyarakat setempat menyebut mereka dengan nama “Orang Merah” karena kulit mereka yang tersengat matahari di daerah tropis seperti Natuna. Lebih kurang setahun lamanya mereka mendiami pulau Natuna dan harus terbiasa memakan ubi dan sagu. Mereka mau tidak mau harus menghadapi ganasnya PD II. Pada mulanya mereka disambut curiga oleh Leutnan Engels.

Keberadaan mereka sebenarnya menambah beban tanggungan masyarakat setempat, karena selain memberikan ransum untuk 26 pria dan 2 wanita tersebut masyarakat pribumi juga harus tetap menanggung ransum para serdadu KNIL itu. Namun, orang-orang Rusia itu tetap dipelihara dengan baik juga oleh para Penghulu kampung. Untungnya, 28 orang sipil Rusia itu selamat dari maut pertumpahan darah di pulau itu. Salah satu dampak dari kehadiran dari mereka adalah masyarakat tidak lagi kesulitan memperoleh garam karena orang Rusia tersebut ahli dalam menyuling air asin menjadi garam. Sehingga mereka disebut juga guru pembuat garam.

Untuk menandakan kehadiran mereka, Kapten Alexanders memahat tulisan USSR dengan gambar jangkar dan tanggal 21-12-1941 sebagai pertanda atau prasasti bahwa mereka pernah hidup berdampingan dengan masyarakat di pulau Bunguran. Setahun mendiami Natuna, oleh orang Jepang mereka diangkut ke kapal, digandar seperti merangkai ikan. Mereka dikembalikan ke negerinya pada permulaan Penjajahan Dai Nippon di Pulau Natuna, Desember 1942. Kedekatan Kapten Alexanders dan rombongannya dengan masyarakat pulau Bunguran membuat suasana menjadi sedih karena mengingat jasa yang diberikan penduduk pribumi tidak terbilang banyaknya, ditambah lagi penduduk begitu ramah terhadap mereka.

Jika dihitung dari kepulangan Kapten Alexanders dan rombongannya, Batu Rusia tersebut saat ini sudah berusia 78 tahun (1942-2020). Jika pula dihitung dari kedatangan mereka, Batu Rusia kini sudah menjejaki 79 tahun (1941-2020). Sepatutnya di usia yang tua itu kita perlu bangga, sebab kenangan sejarah di Batu Rusia masih dapat dirasakan oleh anak cucu masyarakat pulau Bunguran yang dulu berjuang melawan Leutnan Engels. Saat ini Batu Rusia menjadi objek wisata sejarah yang dijaga dan dikembangkan oleh Karang Taruna Sepempang.

Referensi:

Syamsuddin, B.M. 1979. Opstan Geplag In De Teyd van Oorlog (Pemberontakan Waktu Perang) di Pulau Natuna. (artikel belum diterbitkan).

Syamsuddin, B.M. 1979. Batu Rusia di Senubing Bunguran Besar. (artikel belum diterbitkan).

Tarhusin, Wan. (tidak diketahui). Imbas Perang Pasific di Kepulauan Anambas Natuna (Kepulauan Riau). Tanjung Pinang: Milaz Grafika.

Leave a Comment