Posted on: 13 September 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 1

Saya ingat semasa kecil ketika malam hari diajak bapak dan ibu pergi makan di luar rumah. Salah satu tujuan yang menjadi tempat favorit pada saat itu—setidaknya untuk keluarga saya—adalah pantai stres. Pantai stres pada saat itu masih timbunan tanah kuning. Ya, direklamasi. Jajanan semacam pecel lele melimpah ruah di situ, ecek-eceknya food court. Berdiri dengan tenda dan baliho yang dipenuhi gambar ikan, lele, ayam, bakar maupun goreng dan nama warung masing-masing yang biasa diawali dengan ‘nasi uduk’. Warung pecel lele yang mewabah di Natuna pada masa itu menawarkan berbagai macam pelayanan dan rasa. Salah satu yang selera di lidah keluarga saya adalah ‘Podomoro’ yang masih eksis sampai sekarang. Kalau tidak salah sempat diisi dengan semacam pasar malam, namun tak bertahan lama. Pantai itu terus mencari jati dirinya. Setelah periode nasi uduk, Pantai Stres dibangun satu panggung kecil, periode kebudayaan. Panggung itu rutin diisi dengan penampilan-penampilan budaya seperti festival musik dan tari atau pertunjukkan seni mingguan dari berbagai kelompok seni dan sekolah. Geliat seni sempat muncul menempatkan di tengah masyarakat sebagai hiburan dan upaya eksistensi. Sementara di tempat lain masih mengupayakan resistensi.

Karena halamannya luas, kegiatan-kegiatan seremonial dan formal dilaksanakan di Pantai Stres. Dengan tambahan panggung tentunya. Kalau tidak ada kegiatan semacam senam bersama, festival musik, tujuh belasan, upacara, dan lainnya maka pantai itu akan sepi-sepi saja. Tanah kuning yang ditumbuhi rerumputan dan sana-sini bendungan air.  Oh, juga bungkus komik—obat batuk itu—yang bertebaran di ujung pantai. Sudah tahu batuk, kenapa harus ke pantai hanya untuk minum obat? Tapi katanya cita rasa dari komik membuat peminumnya lebih menikmati hidup; mabuk.  Selain juga dijadikan arena balap liar oleh motor-motor dengan knalpot berisik itu, ring tinju juga pernah. Pada saat itu pengawasan tidak begitu berhasil oleh pihak-pihak terkait. Sekali pun sudah patroli, memang dasarnya anak-anak itu susah dikasih tahu. Kalau ini disebut periode melenceng.

Baru perlahan, Pantai Stres tersebut menemukan wajah baru dan jati diri yang sejak lama diidamkan. Awal dibangun lintasan lari yang membentuk huruf L. Satu per satu bangunan yang lain dibangun. Termasuk sebuah bangunan yang berbentuk panggung di sebelah kanan pantai. Nama Pantai Stres pun berubah menjadi Pantai Piwang. Lebih kearifan lokal, katanya. Pegiat seni maupun komunitas memang sepatutnya bersyukur atas respon pemerintah dengan menyediakan panggung besar untuk mewadahi kegiatan-kegiatan mereka. Karena tahu sendiri, kegiatan seni di Natuna masih malu-malu muncul di permukaan.  Panggung yang bertempok putih polos dan dengan bentuk panggung setengah lingkaran itu sekiranya dapat dijadikan sebagai arena ekspresi yang luas apalagi kalau ditambah lampu sorot. Beuh.  

Sebuah panggung layaknya manusia yang memerlukan nama untuk dipanggil atau diingat. Kebutuhan itu sudah harus ada sejak ia lahir. Setidaknya punya beberapa opsi nama dengan segala filosofinya. Begitu pula panggung yang ada di Pantai Piwang tersebut. Panggung tersebut perlu diberi satu nama khusus untuk mudah diingat dan disebutkan. Bisa juga sebagai sarana edukasi dan informasi. Sebelumnya ketika komunitas melakukan kegiatan di panggung tersebut hanya dinamai panggung budaya. Mudah saja, panggung yang digunakan untuk kegiatan budaya. Tapi memang perlu nama lain yang berkaitan dengan budaya. Biar punya khasnya sendiri

Salah satu nama yang tepat menurut saya adalah B. M. Syamsuddin. Kiprahnya terhadap kebudayaan Natuna bahkan Kepri sulit disama-samakan. B. M. Syamsuddin yang mengenalkan kesenian teater tradisi Mendu ke tingkat nasional dengan buku-buku dan pemikirannya. Ya, pemikirannya yang gagah itu. Selain itu, Mak Yong dan Bangsawan. Karya-karya B. M. Syamsuddin memuat bahasa-bahasa lokal Natuna, sehingga menjadi satu ciri khas yang memikat para pembacanya. Bukan hanya soal bahasa, wacana yang diangkat dalam cerpen maupun puisi bukanlah hal lain, Natuna yang menjadi pembicaraan utama. Memang bukan cerita romantisme tetapi perjuangan dan eksotika. Salah satu karyanya Cengkeh pun Berbunga di Natuna terpilih sebagai cerpen pilihan Kompas tahun 1996. Satu penghargaan bergengsi di skala nasional. Jadi bisa dibilang, pembacanya sudah nasional.

Memang beliau lebih lama tinggal di Pekanbaru ketimbang di Natuna. Tetapi bukan berarti ia melupakan Natuna sepenuhnya, hanya ada alasan lain saja. Jadi, wajar masyarakat Natuna, apalagi masa kini, tidak mengenal siapa itu B. M. Syamsuddin. Berbeda dengan Pekanbaru, berkat sumbangsih budaya dalam karya-karyanya, nama B. M. Syamsuddin diabadikan pada anjung seni budaya di dekat gedung Idrus Tintin. Juga pernah diadakan diskusi mengenang B. M. Syamsuddin. Natuna?

Mengingat B. M. Syamsuddin adalah putra daerah Natuna dan bukanlah orang biasa, sekiranya sudah patut kita abadikan nama tersebut di sebuah tempat budaya juga. Sebagai ruang publik yang banyak dikunjungi setiap harinya, Pantai Piwang yang menyediakan panggung belum bernama itu, kiprah B. M. Syamsuddin terhadap kesusastraan Natuna, ketidaktahuan masyarakat terhadap B. M. Syamsuddin, sebagai pemantik semangat laku budaya di Natuna, sudah pantas dan waktunya B. M. Syamsuddin mendapatkan penghargaan berupa pengabadian namanya.

Berawal dari nama ‘Panggung B. M. Syamsuddin’, biografi tentangnya dan edukasi sastra maupun kesenian lainnya bisa berjalan lancar. Pengabadian nama B. M. Syamsuddin pula sebagai bentuk generasi masa kini menghargai tokoh budaya dan yang terpenting mengobati luka dari keluarga yang merasa nama B. M. Syamsuddin seakan sengaja dihilangkan. Hal itu tidak terbilang lebai, sebab nama-nama yang sering muncul adalah Syamsul Hilal, Umar Natuna, atau Abdul Kadir Ibrahim. Kalau kita ukur, B. M. Syamsuddin mempunyai kekuatannya sendiri. Sehingga nama-nama yang saya sebutkan tadi bukanlah tandingan. Untuk mengenang kembali dan untuk mengekekalkan B. M. Syamsuddin di ingatan kita masing-masing, langkah penamaan panggung itu perlu. Nantinya, karya-karya beliau pun dengan mudahnya masuk ke dalam daftar buku perpustakaan sekolah maupun komunitas dan jadi bahan pembicaraan. Hal ini juga mempermudah penaja kegiatan untuk menuliskan lokasi kegiatan di poster maupun surat undangan. Pewara pun tidak berbelit lidah menyebutkannya. Kalau memang ini bukan suatu hal yang utopis, tinggal kita bicarakan di mana nama ‘Panggung B. M. Syamsuddin’ atau ‘Panggung B. M. Syam’ diletakkan agar terlihat estetis dan kokoh. Ya, memang perlu anggaran dan perencanaan. Maka dari itu saya percaya kepada pemerintah pasti mempunyai visi kebudayaan yang dengan mudah mengabulkannya. Saya yakin, pengekalan nama ‘Panggung B. M. Syamsuddin’ atau ‘Panggung B. M. Syam’ akan memberi dampak yang baik terhadap ekosistem seni dan budaya di Natuna.  

Terkadang geli rasa hati ketika kita merenungi dan harus mengakui bahwa B. M. Syamsuddin lebih dihargai oleh masyarakat di luar Natuna. Dan hal ini tidak boleh berlarut-larut. Sekiranya puas rasa hati jika semua ini benar dapat diwujudkan. Sekarang saya berusaha percaya penuh kepada pemerintah, sebut saja Dinas Perkim, Dinas Pariwisata dan Kebudayan. Kenapa dua dinas ini? Dinas Perkim adalah dinas yang mengurusi taman kota atau ruang publik seperti Pantai Piwang. Tentu perlu audiensi dan kesepakatan resmi untuk penamaan panggung tersebut. Komunitas yang menyelenggarakan kegiatan di panggung tersebut bisa saja membuat keterangan lokasi dengan nama panggung B. M. Syam, tetapi perlu dukungan dari pihak formal agar terdengar legal dan baku. lalu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sangat erat kaitannya dengan urusan ini. Ruang publik Pantai Piwang sudah menjadi satu tujuan pariwisata kekinian di Natuna, setidaknya bagi wisatawan domestik. Dengan arena bermain dan halaman yang luas serta bentuknya yang artistik, tidak perlu lagi mengidamkan perlu keluar kota hanya untuk merasakan alun-alun. Wisata ini dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu yang dinikmati itu adalah panggung di Pantai Piwang. Disparbud mengadakan acara di panggung tersebut dengan menampilkan nama B. M. Syamsuddin di baliho dan posternya. Menjadwalkan kegiatan sesuai dengan kalender even yang mereka buat. Dengan cara menyertakan nama tersebut, itu sudah menjadi bagian dari upaya pariwisata. Tidak perlu langkah-langkah besar tapi hilang setelahnya. Lalu sudah jelas dalam tataran kebudayaannya. Dalam hal ini edukasi tokoh budaya Natuna. Jadi melalui penamaan itu, pariwisata dan kebudayaan dapat seimbang berjalan beriringan. Biar tidak selamanya, wisata hanya soal bahari dan gunung.

Saya pikir dinas-dinas lain, lembaga swasta, komunitas, paguyuban, atau kelompok semacamnya pun bisa turut andil sesuai dengan porsinya masing-masing. Tinggal kita sadar dan mau bergerak bahwa budaya dan pemikirannya perlu dipertahankan untuk menguatkan jati diri sebagai manusia yang memanusiakan.

Intinya, dari pembicaraan yang melebar ini,  saya lapar.

Ranai, 13 September 2020

Destriyadi Imam Nuryaddin

1 people reacted on this

Leave a Reply to APAKAH YANG “DIJUAL” CALON KEPALA DAERAH KITA? – Natunasastra Cancel reply