Posted on: 12 September 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 1

Sudah dari dua tahun lalu saya menuliskan harapan untuk bertemu dengan salah satu keluarga B.M. Syamsuddin. Karena saat ini hanya bisa bertemu dengan namanya di sebuah buku yang selalu saya incar untuk diarsipkan. Dan hari ini keinginan bertemu keluarga B.M. Syamsuddin itu terwujud.

Berawal dari salah satu snapgram di IG saya yang memperlihatkan sebuah kuburan dengan nama di nisannya tertulis B.M. Syamsuddin. Ternyata setelah ditanya dia adalah cucu dari B.M. Syam. Dari situlah pintu keinginan itu terbuka.

Seminggu yang lalu saya menyampaikan kepada Ayi—cucu B.M. Syam—untuk bertemu dengan ibunya yang tak lain adalah putri B.M. Syam. Ia merespon dengan baik atas hajat yang saya utarakan itu dan langsung memberikan nomor gawai ibunya kepada saya. Pertemuan itu saya jadwalkan hari ini. Sabtu, 12 September 2020 pukul 13.30 WIB. Dengan patokan jalan dan gambaran rumahnya, saya langsung meluncur mendekati jam yang sudah disepakati itu.

Pertemuan itu disambut dengan hangat oleh Arifin dan Rita Rupiati. Rita adalah putri keenam B.M. Syamsuddin yang saat ini sudah menetap di Natuna. Awal bertemu saya langsung disuguhkan buku-buku karangan B.M. Syamsuddin yang ia simpan sudah sejak lama. Beberapa judul sudah saya miliki, ada dua tiga buku yang belum.

Awal pembicaraan langsung disambut dengan nada mengeluh oleh Arifin, menantu B.M. Syamsuddin yang ketika tinggal di Pekan Baru sebagai pembawa tas B.M. Syamsuddin kemana pun beliau pergi. Telah segala upaya mereka lakukan untuk menerbitkan ulang buku-buku B. M. Syamsuddin. Namun yang terjadi adalah selalu tidak adanya anggaran. Padahal menurutnya, anak-anak sekarang mesti mengenal siapa B.M. Syamsuddin. Miris lagi ketika kita ketahui, bahwa yang lebih giat menerbitkan atau menghargai karya-karya beliau malahan datang dari luar Natuna. Katakanlah Pekanbaru, salah satu anjung seni diberi nama Laman Bujang Mat Syam. Karena kehadiran beliau semasa hidup mempengaruhi kebudayaan di sana. Tidak hanya itu, karya beliau juga diterbit ulang oleh daerah lain, seperti Papua. Sepertinya kalau tidak diupayakan atau bahasa yang lebih tepat adalah diperjuangkan oleh pihak keluarga, khususnya Arifin, saya pikir tidak akan ada buku Cerita Rakyat dari Natuna yang sampai pada tangan kita sekarang. Kekecewaan itu berlanjut ketika perjuangan menerbitkan ulang buku budaya tersebut harus dinodai dengan pejabat yang meminta komisi dari proyek itu. Intinya, dimanfaatkan. Itulah yang pada akhirnya membuat Arifin menjadi mantak ati. Tapi terima kasih kepada pemerintah yang sudah menyempatkan diri menerbitkan buku sastrawan Natuna tersebut, walau hanya sekali. Padahal masih banyak karangan-karangan beliau yang seharusnya diburu oleh pihak terkait dan dengan harapan dicetak lalu dibagikan ke sekolah-sekolah.  Masih ada sekitar empat bundel karangan B. M. Syamsuddin yang menunggu waktu untuk diterbitkan. Di mata Arifin, B. M. Syamsuddin merupakan sosok yang mencintai budaya. Setiap persoalan yang berhubungan dengan budaya, beliau langsung terjun ke lokasi. Bahkan bisa sampai pagi.

Siapa sekarang yang mengenal B. M. Syam? Pengalaman dari Rita Rupiati saat megnhadiri kegiatan MTQ, ia mengunjungi stand perpustakaan daerah. Buku-buku yang dipajang di rak-rak pada saat itu, tidak menampilkan satu judul pun karangan B. M. Syamsuddin. Rita menanyakan kenapa tidak ada nama B. M. Syam. Penjaga stan menjawab siapa B. M. Syamsuddin tu? Sontak membuat hati Rita kesal berkat ujaran polos itu. ketika penjaga stan tahu bahwa yang berhadapan dengannya adalah anak dari penulis Natuna itu, barulah ia kaget dan ingin meminjam buku Cerita Rakyat dari Natuna yang saat itu dibawa oleh Rita. Karena kesal, Rita tidak meminjamkannya.

Lalu saya diperlihatkan sebingkai foto B. M. Syamsuddin dalam koran tahun 1984, dengan kumis tebal dan senyum khasnya. Mereka juga memperlihatkan satu map yang berisi karangan B. M. Syam berupa cerita rakyat dan prosa yang masih dalam bundelan. Penuh dengan coretan tangan beliau dari kertas yang sudah menguning. Ketika membuka halaman pertama, saya terkagum-kagum. Pun saya mengecek dengan karya-karya yang sudah ada, ternyata memang kumpulan tersebut belum sempat diterbitkan semenjak beliau meninggal.

Entah apa yang ada di bayangan Rita Rupiati, tetapi jelas dalam pandangan saya, matanya memerah dan berkaca-kaca. Barangkali mengenang nasib ayahnya di tanahnya sendiri yang perlahan hilang harumnya. Nama-nama penulis golongan terdahulu yang lebih familiar dari nama ayahnya, seakan-akan dengan sengaja menghilangkan nama B. M. Syamsuddin. Seakan-akan karya beliau tidak memberikan hasil apa-apa kepada Natuna. Padahal karya-karya beliau mengangkatkan permasalahan Natuna. mendokumentasikan realita Natuna pada masanya. Bisa dibilang dari seluruh penulis yang berasal dari Natuna maupun Kepulauan Riau, B. M. Syam adalah paling produktif berkarya di antara seangkatannya.

Setiap menulis, B. M. Syamsuddin tidak pernah lepas dari merokok dan kopi. Tidak tanggung-tanggung, bisa satu slop rokok habis dalam semalam. Ketika pikiran sedang buntu, beliau istirahat dengan masa tiga batang rokok. Baru dilanjutkan mengetik dengan mesin tik seperti zaman dahulu. Hal itu diakui butuh perjuangan karena saat mengetik, bukanlah satu lampu yang menerangi. Hanya lampu teplok yang memberikan sedikit cahaya kepada B. M. Syamsuddin. Hal itu bukan menjadi halangan, tidak peduli kapan ide itu muncul. Pada saat itulah ia langsung menghadap mesin tik walaupun pada tengah malam. Beliau merupakan sesosok sastrawan yang suka kepada orang-orang yang ingin belajar, bukan karena ia seorang guru. Ketika orang-orang ingin belajar menulis, biar jam sudah menunjukkan tengah malam, beliau akan terima dengan senang hati dan mengajarkannya. Beliau mendidiknya dengan memberikan ruang bebas kepada didikan tersebut untuk mencari tahu, tidak instan. Setelah usaha dijalani baru dibimbing oleh beliau. Salah satu hasil didikan B. M. Syamsuddin adalah Abdul Kadir Ibrahim.

Sekarang ini upaya untuk mengenalkan siapa B. M. Syamsuddin kepada masyarakat sekarang seharusnya lebih mudah. Berbagai portal berita memuat informasi tentangnya, namun hal itu tidak begitu saja dilakukan oleh masyarakat masa kini. Langkah lain yang seharusnya bisa ditempuh adalah melalui pemerintah yang bersedia dan menyiapkan anggaran untuk penerbitan buku seorang penulis dari Natuna yang kiprahnya tidak perlu diragukan lagi. Kalau memang pemerintah tidak sibuk dengan urusan-urusan lain yang menguntungkan dan rumit itu. Urusan budaya bukanlah urusan uang, urusan budaya adalah jembatan transformasi pengekalan diri melalui berbagai media. Buku adalah salah satunya. Masa sekarang mencetak buku bukanlah satu hal yang sulit seperti di masa dahulu. Asalkan kemauan dari pihak pemerintah yang terkait saja, seperti Dinas Pendidikan; Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah; Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Hanya perlu kesadaran bahwa budaya literasi Natuna yang buruk dan berada di peringkat bawah. Dan menganggap bahwa sastra bukanlah bagian dari kebudayaan yang sebatas menghibur sahaja. Tidak perlu mengagungkan yang dari luar, kalau memang dari dalam belum kita beri perhatian dengan sepantasnya. Jangan sampai menjemput luar, sedangkan dari dalam dibiarkan kosong. dengan begitu mudahlah Natuna ini direbut kalau penanaman soal budaya masih menjadi figuran.

Saya pikir sudah saatnya ada satu bentuk penghargaan kepada B. M. Syamsuddin.

Ranai, 12 September 2020

Destriyadi Imam Nuryaddin

1 people reacted on this

  1. Menyimak. Cube tag Pak Abdul Kadir Ibrahim Des, barangkali ade titik terang. Salut dengan kiprah awak. Teruslah bekerja untuk keabadian. Kami dukung.

Leave a Comment