Posted on: 3 November 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Oleh: Ellyzan Katan

Aha, inilah waktunya bagi penduduk di Kepulauan Riau menyaksikan betapa para calon kepala daerah sedang sibuk “berjualan” ide, janji dan kadang-kadang perang. Ya, mereka berusaha merebut simpati sebanyak mungkin penduduk Kepulauan Riau agar pada hari pemilihan kelak, bisa meraup suara terbanyak. Persoalan nanti jualan itu akan menjadi beban dalam perjalanan kepemimpinan lima tahun, tak masalah. Pokoknya pada tahap awal ini, jualan dulu.

Ada yang berkomunikasi secara langsung ke setiap penduduk di kampung-kampung dan ada pula yang memulai dari daerah perkotaan. Namun terlepas dari apa yang sudah dilakukan itu, Kepulauan Riau tetaplah wilayah yang memiliki beberapa catatan penting dalam konteks pembangunan bertetangga.

Sebagai daerah yang sudah lama berhadapan langsung dengan Singapore dan Malaysia, serta Thailand, Vietnam, tentunya jualan pembangunan yang diusung oleh para calon kepala daerah tidak bisa lagi hanya berkutat pada kandang sendiri saja, melupakan sisi di luar kandang. Jualan pembangunan yang harus dikedepankan semestinya sudah berbicara tentang tahapan teknis peningkatan kemampuan SDM tenaga kerja terampil; dukungan infrastruktur darat, laut dan udara; akses internet; dan tentu saja kemampuan untuk melakukan lobi pada negara tetangga agar bersedia membuka peluang bagi penduduk Kepulauan Riau dalam berekspansi baik di bidang lapangan pekerjaan, bisnis ataupun pariwisata.

Hanya saja, sejauh pengamatan saya, jualan politik yang ada masih berkutat pada hal-hal remeh yang tidak memiliki nilai strategis bagi perkembangan Kepulauan Riau ke depan. Perdebatan membeli sepeda motor untuk setiap RT dan RW dengan menggratiskan biaya pendidikan, hanya bersifat jangka pendek. Lagi pula, biaya pendidikan yang saat ini sedang berlangsung di Kepulauan Riau, sudah lama digratiskan. Atau bila orang tua murid harus mengeluarkan biaya, itu masih minimal. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau selalu tanggap dengan setiap keluhan yang ada, terutama sekali yang menyangkut biaya.

Akan lebih baik misalnya perdebatan ini diganti dengan subtema yang lebih memperinci pada program dan kegiatan pertahun. Tahun pertama akan meluncurkan kegiatan ini. Pada tahun kedua, akan meluncurkan kegiatan itu. Dan pada tahun ketiga, meluncurkan kegiatan yang akan memperkuat daya saing. Tahun keempat, memperkuat bidang apa. Dan pada tahun kelima, memantapkan kinerja pembangunan secara menyeluruh.

Lebih-lebih lagi, dengan letak Kepulauan Riau yang hanya dalam hitungan satu dua jam ke pintu masuk Singapore ataupun Johor, peluang yang ada harus benar-benar dapat ditangkap oleh calon kepala daerah. Peluang tersebut dapat dijadikan bahan jualan baru guna menarik suara pemilih di Kepulauan Riau.

Hal ini, tidak saja harus ditangkap oleh pucuk pimpinan. Akan tetapi juga harus disadari oleh setiap tim pemikir masing-masing calon kepala daerah. Entah itu untuk segera mengubah metode, sasaran, dan modal dasar dalam perumusan visi ke depan, haruslah mampu merangkul semua potensi daerah. Bukan mengapa, dengan perumusan yang tepat, arah kebijakan pembangunan lima tahun ke depan, Kepulauan Riau akan mampu meraih apa yang hendak dicapai. Sebut saja misalnya, menyediakan lapangan pekerjaan bagi lebih lima juta tenaga kerja yang ada, benar-benar bisa dilakukan.

Belum lagi menyangkut pengembangan potensi pariwisata di beberapa pulau yang ada di seluruh Kepulauan Riau, harus disusun tahapan yang jelas agar setiap investor mampu digandeng. Dan pada akhirnya mau menanamkan modalnya di Kepulauan Riau.

Sejauh ini Kepulauan Riau masih memiliki sejumlah titik pulau eksotis yang masih belum tersentuh program pengembangan pariwisata. Sebut saja potensi wisata tanaman mangrove yang ada di Pengadah, Natuna, belum tergarap secara maksimal. Atau potensi wisata bahari yang menyimpan bentangan batu karang di Midai, Serasan ataupun Subi, di Natuna, belum maksimal digarap. Malah upaya yang ada hanya sebatas promosi bergambar melalui jalur media sosial, seperti Youtube, Twitter, Facebook dan juga Instagram. Program pengembangan yang bersifat “wah”, belum ada.

Ini harusnya mampu dijabarkan secara konkret oleh setiap calon kepala daerah yang hendak maju sebagai pemimpin di sini. Bukan malah hanya sibuk meracik rempah sumbangan ini sumbangan itu yang, nyata-nyata tidak akan memberikan manfaat lebih kepada penerima. Malah penerima akan merasa senang untuk sehari dua saja selama sumbangan yang ada masih tersedia. Bila sumbangan yang diterima sudah selesai licin tandas, muka pun akan kembali berkerut.

baca juga: https://natunasastra2.wordpress.com/2020/09/13/b-m-syamsuddin-di-panggung-pantai-piwang/

Saya heran menyaksikan isu yang diangkat tidak pernah jauh dari sumbangan baju olah raga untuk pemuda di pulau, pemberian sumbangan kepada tukang ojek, sedikit berbicara pembangunan jalan, gedung, dan pasar. Sementara pembentukan sentra ekonomi produktif berbasis kekayaan lokal, tidak terdengar sama sekali. Padahal untuk di beberapa pulau, baik di Lingga, Bintan atau pun Anambas, terdapat produk-produk unggulan yang masih membutuhkan sentuhan-sentuhan kreatif. Di pulau-pulau dimaksud, infrastruktur penunjang dasar saja masih belum bisa diandalkan terlalu jauh.

Ke depan, pemilihlah yang harus bijak. Jangan mudah untuk menerima janji, usulan, ataupun bentuk pengakuan dukungan dari setiap calon kepala daerah. Pasalnya, janji, usulan ataupun pengakuan dukungan itu masih belum bisa dipastikan hitam putihnya. Malah masih berada di awang-awang. Janji yang diberikan akan melilit lidah sendiri bagi yang berjanji bila tidak menunaikannya.

Di sinilah letak peran strategis dokumen perencanaan pra-RPJM daerah. Apa-apa yang menjadi program dan kegiatan unggulan calon kepala daerah, dapat disenaraikan secara jelas kepada penduduk Kepulauan Riau secara terperinci, terarah, dan tentu saja berkomitmen dalam hal penganggaran. Dokumen pra-RPJM daerah dimaksud adalah dokumen awal perencanaan pembangunan yang disusun oleh setiap calon kepala daerah untuk kemudian, bila Allah berkehendak dirinya menjadi seorang kepala daerah, akan berubah menjadi dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah. RPJM daerah ini nantinya tinggal diaplikasikan saja selama periode kepemimpinan yang bersangkutan.

Sampai pada tahap ini, janji yang dikemukaan ketika masa kampanye, benar-benar bisa terealisasi. Ini berkat RPJM sudah memiliki dasar hukum yang jelas, yakni peraturan daerah tentang RPJM daerah. Tidak ada lagi kekhawatiran setiap program dan kegiatan prioritas calon kepala daerah tidak dilaksanakan, asalkan dukungan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus tetap mengalir ke daerah.

Tips bagi pemilih yang ada di Kepulauan Riau, 1) Perhatikan isi jualan seorang kepala daerah, sudahkah menghidangkan menu-menu pengembangan ekonomi kreatif, peningkatan usaha mikro, dan jauh dari sumbang-menyumbang sembako, karena sumbang-menyumbang sembako bukanlah masuk kategori program dan kegiatan yang dapat menjamin terlaksananya visi dan misi kepala daerah. Sebaliknya, hal itu hanyalah konsumtif belaka; 2) Mengingat Kepulauan Riau saat ini sedang berjuang menghadapi COVID-19, kinerja bidang kesehatan penduduk juga tidak bisa diabaikan. Melalui pemaparan yang baik dan benar tentang upaya pencegahan COVID-19 di Kepulauan Riau, sudah dapat membuka jalan ke luar bagi seluruh penduduk Kepulauan Riau secara umum dalam menghadapi COVID-19; 3) Masalah transportasi pun menjadi perhatian utama. Jangan sampai transportasi untuk ke Singapore dan Johor saja yang lancar, akan tetapi ke pusat provinsi masih terkendala biaya tinggi dan rentang jadwal yang lama.

4) Restrukturisasi pendapatan daerah agar mampu menjamin terlaksananya program dan kegiatan pembangunan, pun perlu dipaparkan bagi dunia usaha, dunia pendidikan, pelaku usaha mikro dan masyarakat awam. Hal ini dimaksudkan sebagai stimulus bahwa calon kepala daerah benar-benar menguasai medan perang pembangunan daerah secara lengkap. Tidak sepenggal-sepenggal.

Barulah yang terakhir, kita berserah diri kepada Allah untuk memberikan Kepulaua Riau seorang kepala daerah yang benar-benar amanah dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang kepala daerah. Jangan seperti kepala daerah yang lainnya, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ketika baru saja menjabat sebagai gubernur, bupati/walikota. Kepulauan Riau akan menanggung beban berat dalam pelaksanaan roda pembangunan daerah.

In sha Allah, Allah melindungi.

Amin. 

Ranai, 02 Safar 1442/19 September 2020

Biodata

Ellyzan Katan adalah alumni Universitas Islam Riau Pekanbaru. Menetap dan bekerja di Ranai, Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Bisa dihubungi di tanjakqu@gmail.com.

Leave a Comment