Posted on: 30 November 2020 Posted by: redaksi toknyong Comments: 0

Kemampuan menulis dan kreativitas perlu diasah untuk menunjukkan kualitas dari hari ke hari. Selain itu, yang menjadi alasan utama adalah memantik semangat menulis generasi muda di tengah sepi dan keringnya literasi di Natuna. Ruang kreativitas yang bergerak lamban bahkan ketiadaan ruang itu sendiri yang menyebabkan eksistensi atau keberadaan generasi muda tidak terlihat. Alasan-alasan tersebut yang menggerakkan Natunasastra untuk membuat antologi yang diisi oleh penulis-penulis potensial Natuna.

Kegiatan ini diberi nama “Undangan Menulis Fiksi Natuna Vol. 1”. Peserta dibagi dalam dua kategori, (1) menetap di Natuna, penduduk asli maupun penduduk domisili, (2) menetap di luar Natuna. Kontributor diberi waktu pengiriman karya selama empat belas hari. Karya-karya yang terhimpun berupa cerpen, puisi, dan pantun. Beberapa nama sudah tidak asing dalam dunia tulis-menulis Natuna, seperti Ellyzan Katan (pantun), Tan Pajar (puisi), Yudianto Mazdean (puisi). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa lebih banyak nama-nama baru, seperti Kajura Nopiza, Ayu Wulan Anggraini, Wana Maulini Parazian, Dhimas Ikhfatull Ichwan, Nely Rukmana, Lala Karmila, dan Naira. Juga terdapat dua nama berasal dari luar Natuna yang sedang domisili di Natuna, yaitu Ondang (Jakarta) dan Anindita Ayu Pradipta Yudah (Jember). Nama-nama di atas berasal dari kecamatan yang berbeda, seperti Serasan, Batubi, Bunguran Timur Laut, Ranai, Kelarik, Pulau Laut. Dengan pilihan tema Natuna, karya-karya yang masuk dalam meja kurasi memberikan pertanda bahwa karya-karya tersebut perlu diapresiasi dan direnungi bersama. Tidak lupa pula, Natunasastra menyediakan ruang untuk ilustrator asal Natuna yang memiliki karya rupa yang ciamik, Khairil. Kemilau Senja di Pantai Piwang sebagai judul karena menggambarkan keseluruhan fiksi yang terangkum di dalam antologi ini dengan ikon Pantai Piwang.

Kegiatan antologi ini gratis dan tanpa biaya, seperti tata letak, editing, sampul, dan ilustrasi dikerjakan oleh kerabat-kerabat Natunasastra yang baik hati, yaitu Dwi Fitri Yana dan Imarafsah Mutyaningtias. Format buku akhirnya jatuh pada bentuk digital. Pemilihan ini didasari karena dapat menjangkau lebih jauh ke kecamatan-kecamatan di Natuna yang notabenenya terpisah-pisah, dengan kata lain Natunasastra belum memiliki modal yang cukup untuk bentuk cetak. Segala kekurangan itu, Natunasastra terima sebagai evaluasi untuk undangan menulis fiksi volume berikut-berikutnya.

Natunasastra berterima kasih atas sambutan hangat dari para kontributor dan kerabat-kerabat yang telah ikut berpartisipasi dalam antologi perdana Natunasastra ini. Ini adalah langkah awal untuk mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang penting dalam hidup, termasuk sastra.

Buku digital Kemilau Senja di Pantai Piwang: Antologi Fiksi Natuna sudah bisa kawan-kawan unduh, baca, bicarakan, dan sebarkan melalui tautan di bawah ini.

Leave a Comment